INDONESIA RAYA VERSI BARU

Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”

Kalimat-kalimat di atas adalah bait pertama lagu Indonesia Raya, lagu kebanggan bangsa Indonesia. Saya tidak hendak melanjutkan perdebatan tentang lagu Indonesia Raya. Saya hanya hendak berpendapat sebagai seoarang awam. Saya mendengar dan menghafal lagu ini sejak masuk Taman Kanak-kanak. Setiap hari Senin pagi sebelum pelajaran dimulai diselenggarakan upacara bendera. Lagu Indonesia Raya dilantunkan bersama-sama oleh seluruh peserta upacara. Semua tangan kanan berada di depan kening memberi hormat kepada sang saka merah putih yang dikibarkan oleh tiga pengebar bendera.
Dari TK sampai SMA rutinitas Senin ini masih berlangsung. Setiap Senin, saya mendengarkan lagu ini. Sejak kecil melalui lagu Indonesia Raya, saya mengenal Indonesia. Di SD kelas lima saat upacara bendera dan mendengar lagu Indonesia Raya timbul pertanyaan dalam diri saya. Rasanya ada sesuatu yang mengganjal saat mendengar baris ke dua. ‘Di sanalah aku berdiri’. Kenapa ‘di sana’, tidak ‘di sini’?`
Di SD oleh guru Bahasa Indonesia saya diajarkan membedakan arti kata ‘di sana’dan ‘di sini’. ‘Di sana’ dan ‘di sini’ adalah kata yang sama-sama menunjukan arah. ‘Di sini’ di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang di tempati. Tidak terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Contoh dalam kalimatnya kira-kira demikian; “Di mana kamu belajar mengaji?” tanya seorang pada temannya, dan temannya menjawab; “Di sini”. Jawaban ‘di sini’ menunjukan di tempat tersebut orang yang di tanya belajar mengaji.
‘Di sana’ di gunakan jika kita bicara di suatu tempat akan menunjukan arah, arah yang akan kita tunjuk adalah tempat yang sekarang tidak kita tempati. Terdapat jarak antara tempat berbicara dengan tempat yang dibicarakan. Misalnya kita sekarang sedang berada di lapangan, dan membicarakan sawah,.maka kita menunjuk arah sawah dengan kata ‘di sana’.
Kembali ke lagu Indonesia Raya. Saya merasa ada kejanggalan di baris ke dua. ‘Disanalah aku berdiri, Jadi pandu ibuku’ . Kita sekarang sedang berada di Indonesia, membicarakan tentang Indonesia, kenapa mengunakan kata ‘di sana’? Pertanyaan ini pernah saya ajukan kepada guru bahasa Indonesia waktu SD dulu dan beliau tidak menjawab. Di SMP pertanyaan serupa saya tanyakan kepada guru Pendidikan Moral Pancarila, saya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Guru saya menjawab “Ya memang yang buat lagu begitu.”
Setiap mendengar lagu Indonesia Raya ini selalu timbul pertanyaan dalam diri saya. Sampai ketika masuk SMA saya mereka-reka jawaban atas pertanyaan saya. Apakah lagu tersebut diciptakan di luar negeri sehingga menunjuk Indonesia dengan kata tunjuk ‘di sana’?
Menurut saya pengunakan kata ‘di sana’ karena lagu ini diciptakan jauh sebelum Indonesia menjadi Indonesia. Indonesia masih menjadi mimpi. Lagu Ini di dinyanyian pertama kali pada 28 Oktober 1928, maka logis jika mengunakan kata tunjuk ‘di sana’.
‘Di sana’ nanti jika Indonesia sudah merdeka, saya akan menjadi pandu ibuku. Karena sekarang angan-angan pada 28 Oktober 1928 itu sudah menjadi kenyataan, bukan lagi sekedar angan-angan, maka menurut saya sudah saatnya kata ‘di sana’ dalam lagu Indonesia Raya diganti dengan kata ‘di sini’.
Dengan di ubahnya kata ‘di sana’ lagu ini akan lebih terasa gregetnya. Kita bernyanyi tidak sekedar bermimpi, berangan-angan tetapi juga merasakan dan menjiwainya dan melakukannya.
Mari kita nyanyikan lagu Indonesia Raya versi yang saya usulkan;
Indonesia tanah airku, Tanah tumpah darahku.
Disinilah aku berdiri, Jadi pandu ibuku.
Indonesia kebangsaanku, Bangsa dan Tanah Airku.
Marilah kita berseru “Indonesia bersatu!”

Muhajir Arrosyid – Penulis Buku Kumpulan Cerita Pendek Di Atas Tumpukan Jerami.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 8, 2009, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: