OBROLAN TENTANG ‘SHODAKOH ILMU’

Muhajir Arrosyid

(muhajirar_rosyid@yahoo.co.id,

www.wartademak.wordpress.com,

www.tunu.wordpress.com )

Demak, Jumat 4 September 2008.

Sahabat sekalian, saat saya memulai obrolan kali ini hujan baru saja reda. Kiranya ini adalah hujan pertama di bulan Rhamandan. Lepas Tarawih. Terdengar dari mushola Kang Najib dan dari masjid Kang Muh tadarus.

Kali ini saya mengajak Anda ngobrol tentang ‘Shodakoh Ilmu’. Walaupun temanya kelihatan agak serius tetapi ini hanya obrolan, drajatnya sama dengan obrolan di warung kopi. Mungkin Anda sekalian bertanya-tanya, kenapa tiba-tiba saya religius, mau ngubrol masalah agama segala.

Mendengar Kang Muh mengaji di masjid dan Kang Najib mengaji di mushola saya jadi berfikir siapa yang mengajari mereka mengaji. Siapa yang mengajari dia mengenal huruf-huruf Arab itu. Pertanyaan berlanjut, siapa yang mengajari mereka berwundu, siapa yang mengajari mereka sholat, siapa yang mengajari mereka puasa dan lain sebagainya.

Sekitar tiga belas tahun yang lalu, Kang Najib belajar mengaji di mushola. Dia satu perguruan dengan saya. Dia murid paling kecil. Kang Toha adalah yang mengajari kami mengaji. Di kampung kami terdapat tiga tempat mengaji, di mushola untuk anak laki-laki sudah agak dewasa, di masjid untuk anak laki-laki yang masih kecil, dan di rumah saya yang mengajari bapak saya untuk anak perempuan. Sampai sekarang proses belajar mengaji ini masih berlangsung, dilaksanakan setelah sholat magrib jika hari biasa, dan dilaksanakan habis dhuhur jika bulan puasa.

Jadwal mengaji juga sudah diatur sedemikian rupa dan antara di mushola, di masjid, dan di rumah jadwalnya sama. Hari Senin dan Kamis adalah waktunya berzanji atau istilah lainnya diba’an. Hari Selasa dan Rabu, jadwalnya mengaji Al Qur’an. Murid-murid secara bergantian membaca Al Qur’an dan sang guru mengingatkan jika mendengar kesalahan. Hari Sabtu jadwalnya fasholatan, para murid diajari bagaimana caranya wundhu, sholat, baik bacaan maupun praktiknya. Do’a – do’a juga di ajarkan di hari ini. Hari yang paling menyenangkan adalah hari Minggu, hari ini adalah jadwalnya tarikh. Kami mendengarkan cerita-cerita sejarah dari guru. Sejarah para nabi, para sahabat nabi, sampai para wali. Meskipun tarikh tetapi kadang cerita-cerita fiksi karangan sang guru juga hadir. Kisah Abu Nawas adalah salah satu cerita yang kami tunggu-tunggu.

Di kampung kami tempat belajar yang lebih (sedikit) modern dilakukan di madrasah. Meskipun modern tetapi para murid juga tidak memakai seragam, yang penting mereka mengenakan baju dan peci, sarung seringkali hanya di taruh membalut leher, tidak dikenakan. Guru-gurunya juga tidak bersergam, malah tidak jarang memakai sandal jepit. Madrasah adalah sekolah yang didirikan atas prakarsa masyarakat sendiri. Pembiayaan juga atas iuran masyarakat.

Pendidikan dilaksanakan di dalam kelas meskipun sederhana, di dalam kelas terdapat bangku-bangku panjang, satu bangku untuk empat sampai lima orang. Berlantai tekel yang sering rusak dan berdebu. Jika hujan gentengnya bocor di sana-sini. Bel masuk madrasah dipukul tepat pukul 14.00.WIB. Istirahat sekalian sholat asyar pulul 15. 30. WIB, dan bel pulang di pukul tepat pukul 16.30. WIB.

Mata pelajaran yang diajarkan di madrasah antara lain tajwid, tauhid, tarikh, Al’Qur’an, Hadis, Aswaja, Bahasa Arab, Nahwu, Shorof, dan masih banyak lagi, karena setiap kelas memiliki mata pelajaran yang berbeda.

Mari kembali kepertanyaan ini, siapa sih guru-guru ngaji Kang Najib, Kang Muh? Guru ngaji dan guru madrasah kami adalah tetangga-tetangga kami sendiri. Mereka mendapat ilmu dari guru ngaji sebelumnya. Dari mereka ada yang mendapatkan ilmu dari pondok pesantren. Serupiahpun mereka tidak dibayar. Kami mendapat shodakoh ilmu dari mereka. Mereka adalah para dermawan ilmu. Ada orang yang mau mengaji saja mereka sudah senang. Belajar ngaji di kampung kami sangat murah, bahkan gratis. Untuk mendengarkan pengajian juga gratis, untuk mendengar petuah-petuah bijak juga kapanpun bisa kami dengar.

Tentu hal ini berbeda dengan di kota. Di kota ngaji harus bayar, harus mendatangkan guru ke rumah, les membaca Al Qur’an istilahnya. Maka jangan kaget jika orang-orang kere di kota pada jadi preman, mereka tidak memiliki kesempatan luas untuk mengaji.

Di kota untuk dapat membaca Al Qur’an ada yang menggunakan metode digital, Al Qur’an yang jika di sentuh hurufnya mengeluarkan bunyi, dan harganya tentu tidak murah. Untuk mendapatkan petuah harus beli HP merek tertentu atau SMS ketik rek spasi petuah.

Melihat begitu mahalnya kesempatan untuk dapat membaca Al Qur’an di kota, kami tambah dapat bersyukur karena telah didatangkan di sekitar kami, ahli-ahli shodakoh ilmu. Kami tambah mengetahui betapa pemurahnya mereka. Mereka adalah orang orang yang berjiwa kaya.

Keseharian guru ngaji kami adalah membalik tanah dan berkubang dengan lumpur di sawah, memanggul panen menuju rumah. Akan tetapi tangan-tangan kasar mereka tetap kami cium di manapun kami bertemu. Terimakasih guru,

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 6, 2009, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: