OBROLAN TENTANG TETANGGA

Muhajir Arrosyid

muhajirar_rosyid@yahoo.co.id, www.wartademak.wordpress.com, www.tunu.wordpress.com

(Demak – Jum’at 04 September 2009) Sahabat sekalian, mari ngobrol tentang tetangga di pagi ini. Meskipun berita tetang keusilan tetangga kita sudah sedikit redup terkalahkan dengan kabar perceraian Anang dan Krisdayanti, dan tambah tenggelam karena terkejutnya kita dengan gempa.

Memang, kadang kita mendapat kabar, memberi kabar, dan kadang menjadi kabar. Mungkin sahabat kita di Tasik baru saja mendapat kabar tentang tetangga kita yang rese’, beberapa menit kemudian mereka gentian menjadi  kabar.

Apasih arti kata tetangga? Berasal dari bahasa apa kata tetangga itu? Terus terang saya tidak tahu sahabat sekalian, dan belum sempat mencari tahu, maka jika di antara sehabat sekalian ada yang tahu, beritahu saya. Karena ini hanya ngobrol maka sah-sah saja mengartikan ‘tetangga’ dengan pengetahuan kita sendiri.

Tetangga sepanjang yang saya ketahui adalah keluarga yang rumahnya berdekatan dengan rumah kita. Bebarengan dengan berkembangnya teknologi dan pengetahuan berkembang pula makna dari istilah tetangga. Sekarang kita mengenal tetangga facebook, tetangga blog, tetangga kantor, dan Negara tetangga.

Kata Pak Kyai, kita harus berbaik-baik dengan tetangga karena merekalah yang akan membantu kita jika kita tertimpa musibah.  Ternyata sahabat sekalian, karakter para tetangga kita itu berbeda-beda. Ada yang baik, ada yang aneh, ada yang suka jail, ada yang suka pinjam tidak dikembalikan, ada yang suka mengambil barang kita tanpa bilang-bilang, dan ada yang meng-klaim milik kita sebagai miliknya. Termasuk tetangga di facebook dan blog, ada saja yang usil di dinding kita, kadang juga ada yang mengambil foto, tulisan tanpa izin, bahkan ada yang memasang lagi dengan hanya mengubah ini-itu dan menyertakan namanya. Demikian pula tetangga desa, dan Negara tetangga, seringkali ada yang jail dan menjengkelkan.

Berikut adalah kisah seoarang tetangga. Dulu dia dnompleng di rumah kita. Di kamar depan ia membaringkan anak-anaknya. Sekarang rumahnya sudah lebih bagus dari rumah kita. Lantainya kramik, dindingnya tembok kokoh. Di dalam rumahnya terdapat mebel-mebel mahal. Tiga motor keluaran terbaru diparkir di emper rumah, sepeda motor untuk ketiga anaknya.

Tetangga kita itu sekarang sudah kaya. Lebih kaya dari kita. Orang kaya memang tidak dosa. Dan menerima, mengakui orang lain lebih sukses memanglah bukan perkara mudah. Sikap iri memang dilarang agama, tetapi mencari-cari keburukan orang lain seringkali hadir tanpa sengaja.

Tetangga kita itu memang rajin. Baginya tidak ada hari Minggu. Dia bekerja berangkat pagi pulang malam. Apa yang di‘iri’kan jika memang dia lebih rajin? Bukankah kita dari dulu tahu rajin pangkal kaya?

Sebenarnya dia kaya tidak ada apa. Tetapi kekayaan harusnya tidak dilanjutkan dengan perubahan sikap. Dulu dia jika berjalan menunduk, jika berbahasa mengunakan bahasa halus. Sekarang setelah dia agak kaya tersenyumpun dia sering lupa.

Kekayaan itu dekat dengan kesombongan, sudah kewajaran. Seringkali orang ingin kaya karena agar bisa sombong, bisa pamer. Maka jika ingin menjadi orang yang tidak sombong saya anjurkan untuk tidak usah kaya.

Rajin pangkal kaya, kaya pangkal sombong. Maka jangan rajin jika tidak ingin menjadi orang sombong. Maka mumpung masih miskin mari niatkan hati sejak dini. Saya rajin bekerja, tetapi nanti jika sudah kaya saya tidak akan sombong.

Tidak berhenti sampai di situ. Karena sekarang dia merasa lebih kaya, selanjutnya dia merasa lebih terhormat dan menghina-hina kita. Dia koar-koar kepada khalayak bahwa baju yang kita pakai adalah pemberiannya, karena kebaikan hatinya. Dia koar-koar bahwa sepeda yang kita kendarai adalah sepedanya. Kuarangajar.

Semoga Anda tidak menjadi tetangga yang demikian. Semoga sahabat sekalian masuk dalam golongan tetangga yang baik, yang dicintai tetangga, dan tetangga yang tidak menyakiti hati tetangganya.

Bagaimana cara menghadapi tetangga yang demikan menjengkelkan? Kita boleh marah-marah, mengutuk-ngutuk tetapi jangan berlebihan, karena kemungkinan reaksi marah itu yang dia harapkan. Kita mengumpat-umpat, mengutuk-ngutuk tetapi mereka tertawa melihat tingkah polah kita.

Apa reaksi yang paling tepat? Kita harus bekerja keras untuk segera lebih kaya. Lebih sukses. Saya yakin jika dia butuh hutangan dari kita maka tidak akan lama lagi dia akan kembali menunduk-nunduk. Memang mentalnya demikian, tidak percaya? Mari kita buktikan.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 6, 2009, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: