TAK ADA MENU GENGSI DI KUCINGAN

Saat itu sekitar pukul 7 malam. Aku menjemput suamiku yang sedang pulang dari acara pelatihan. Tempatnya di gedung BLPT, sekitar kawasan Brotojoyo, Semarang. Ku jemput ia menggunakan sepeda motor Grand Astrea hijau tahun 1997.

Pelan, sepeda motor kami melaju melewati jalan kota. Kami berusaha menikmati suasana malam yang berangin. Dari Brotojoyo, kami lewati kawasan Johar, Tlogosari, dan Arteri untuk kembali ke rumah, Karangawen. Sengaja kami berputar-putar ke kawasan kota terlebih dahulu karena malam menawarkan hawa yang sejuk.

Di sepanjang jalan kota itu berjajar berbagai restoran mewah menyajikan menu-menu masakan ala luar negeri. Ada masakan ala Jepang, Korea, dan Western. Restoran-restoran itu tertata mewah dan cantik. Dari luar nampak warna-warni lampu menghiasi beranda restoran.

Di beranda restoran Korea terpasang lampu-lampu lampion dengan warna merah menyala. Di depan restoran Jepang, tampak gambar perempuan Jepang berkimono mengangkat nampan berisi masakan Jepang. Bagian depan resto lainnya dihiasi berbagai macam ornamen cantik dan menarik. Desain interior bangunannya ditata sebegitu apiknya untuk menarik para pelanggan mencicipi masakan di dalamnya. Sangat beda sekali dengan warung makan pinggir jalan seperti angkringan kucingan. Yang hanya diterangi lampu 5 watt, yang nyalanya kriyip-kriyip. Tidak ada desain interior yang mencolok gimanaaa gitu. Semuanya biasa saja.

Pada halaman restoran Jepang itu tampak sepi. Hanya ada 2 mobil yang terparkir. Di beranda resto terlihat baby sitter menyuapi anak majikan. Tak ada aktifitas keramaian layaknya tempat makan. Ramai oleh pelanggan yang minta menu ini itu misalnya. Tenang-tenang saja. Sepi saja.

Mungkin pemilik restoran sengaja membikinnya begitu. Menjual sepi. Jadi yang berkunjung ke resto itu orang-orang yang ingin kesepian. Atau bisa jadi orang-orang yang ingin mengeksklusifkan diri. Eksklusif berarti membeli sesuatu yang tidak semua orang bisa memiliki, tidak bisa membeli. Eksklusif di restoran artinya bisa membayar dengan harga mahal dan orang lain tidak bisa membayarnya selayaknya kemampuan dia.

Lalu aku buka obrolan dengan suamiku yang sedang mengendarai motor di depan.

“Ada ya, orang yang bersedia beli masakan di resto itu? Padahal sepengetahuanku, harga masakan-masakan itu sangat mahal. Porsinya kecil. Beda di kucingan atau penyetan. Dengan uang 10.000 kita bisa makan dengan kenyang.”

“Tentu ada, ” jawabnya.

“Siapa?“

“Ya…restoran-restoran itu menyediakan orang-orang kaya. Kalau kita mana mau? mana mampu?”

“Kenapa harus ke situ? Kan masih banyak tempat makan yang murah dan enak? Penyetan misalnya,” (yang ini tempat makan favorit saya hehehe).

“Hoeh…kamu ini lugu amat. Mereka, yang bermobil, mana mau ke kucingan? Gengsi to ya?”

Hmmmm…jadi permasalahannya gengsi. Ya, sekarang aku tahu. Restoran-restoran itu penuh dengan menu gengsi. Ada shabu-shabu gengsi, yakiniku gengsi, spaghetti gengsi, fried chicken gengsi, pizza gengsi. Dan aku tahu. Kata gengsi itu yang menarik mereka untuk datang ke restoran itu.

Jangan dibikin pikiran setelah baca obrolan kami ini. Bisa jadi obrolan ini hanya sekedar luapan protes karena tidak mampu mencicipi masakan-masakan eksklusif itu. Lha protes sama siapa? Protes sama Tuhan? Rasanya tidak fair. Wong kami juga tidak pernah meminta sama Tuhan agar dapat makan di restoran itu.

Atau protes sama orang-orang kaya yang suka makan di restoran itu? Rasanya lebih tidak fair lagi. Wong mereka cari duit sendiri untuk beli masakan mahal itu. Dan kami juga tidak pernah direpoti untuk dapat menghasilkan uang untuk mereka.

Atau protes kepada orang miskin saja yang selalu menjadi pembanding orang-orang kaya. Yang selalu dipersalahkan atas kemalasannya mencari uang lalu mereka jadi miskin dan tidak mampu membeli masakan mahal itu?

Atau bisa jadi selama ini kami tidak makan di restoran itu  karena memang menahan diri untuk tidak memakirkan motor jelek kami ke restoran itu. Menahan diri untuk tidak membikin cemburu saudara-saudara kami yang tidak mampu makan di restoran itu. Bertahan menikmati makan di kucingan dan penyetan yang tidak ada menu gengsinya. (Tri Umi Sumartyarini)

Semarang-Demak, Akhir Ramadhan 1430 H

angkring1

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 30, 2009, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: