PEREMPUAN PEREMPUAN DALAM PURI

Judul: Rara Mendut, Sebuah Trilogi
Nama: Y.B. Mangunwijaya
Penerbit: Gramedia
Halaman: 799
Tahun Terbit: 2008

raraSeorang perempuan kulit sawo matang duduk berjongkok dengan dua kaki njinjit. Ia berjarik batik dan berkemben, terpancar gairah kehidupan pada dada mudanya. Satu tangannya terletak pada paha, satu tangan yang lain memegang rokok gulungan klobot, asap mengepul dari mulutnya. Di belakang perempuan itu para lelaki melarikan kuda pada satu arah, tangan mereka mengayun senjata.
Berikut tadi adalah gambar yang tertera dalam sampul novel Rara Mendut, Sebuah Trilogi karya Y.B Mangunwijaya, seorang sastrawan, pastor, sekaligus akademisi kelahiran Ambarawa. Sebelum di bukukan novel sejarah zaman Sultan Agung ini (abad XVII) telah diterbitkan oleh Kompas sebagai cerita bersambung pada tahun 1982. Pada tahun 1983 novel ini divisualisasikan dalam film.
Perempuan dalam puri
Rara Mendut adalah gadis desa di kampung nelayan Telukcikal. Dia adalah anak seorang janda dengan tujuh saudara. Rara Mendut kecil adalah bocah pengembara. Dia seriangkali ikut bapak angkatnya melaut. Satu masa nasib berkata lain, Rara Mendut yang biasa bebas lepas memandang laut harus masuk dalam kaputren Kadipaten Pati, menjadi selir Adipati Pragola, Sang Waringin Pengayum seluruh Siti Ageng.
“ Lho kok panjenegan tahu tentang Mendutku ini?” Tanya ibu angkat Mendut karena sebenarnya tidak rela anak angkatnya dijemput.
Dan pengawal-pengawal itu bilang; “Keindahan selalu bersinar dalam matahari dan bulan, kecantikan selalu diwartakan angin dan awan-awan.
Saat Rara Mendut sedang di boyong ke kaputren kadipaten Pati, Pati sedang mendapat serangan dari Mataram. Bantuan tentara yang dijanjikan Tuban dan Surabaya tidak kunjung datang, sehingga pasukan Mataram yang dipimpin langsung oleh panglima besarnya Wiraguna mengamuk, meremukkan pagar-pagar dinding istana. Kepala Adipati Pragola dipenggal sebagai bukti penaklukan.
Rara Mendut melawan. Prajurit-prajurit kesulitan menangkap Rara Mendut, dan Wiraguna sendiri harus turun tangan. Rara Mendut, Genduk Duku, rewang kecilnya, Ni Semangka, embannya dan perempuan-perempuan lain diboyong menuju Mataram. Kecuali Permaisuri Pati, ia memilih menghujamkan keris tepat di ulu hati.
Oleh Raja Mataram, Rara Mendut dihadiahkan kepada Wiraguna, nasib Rara Mendut selanjutnya terkurung dalam kaputren Wiragunan. Novel ini adalah novel tentang perang dan kekuasaan Raja-raja Jawa dengan sudut pandang perempuan. Maka tak mengherankan jika gambran tentang kaputren cukup dominan. Rara Mendut di Kaputren Pati, Wiragunan, Genduk Duku di puri Pahitmadu, dan Lusi Lindri dalam puri Singoranu, puri Purbayan.

Perempuan-perempuan yang berbeda
Tradisi poligami dalam masyarakat priyayi Jawa juga tergambar dalam novel ini. Di kalangan atasan aristokrasi lama sistem poligami masih cukup kuat. Seperti dikemukaan oleh Sartono Kartodirjo dkk. (1987), di samping isteri pertama (garwa padmi) priyayi Jawa kemudian secara berturut-turut mengambil beberapa garwa ampil (selir, ampeyan). Ada kalanya perkawinan-perkawinan yang berikut dimaksud untuk menjalin hubungan dengan tokoh-tokoh daerah, maka diambilnya anak lurah, pemuka Samin, putri seorang kyai, pemuka agama, dan lain sebagainya. Dengan demikian terbentuk jaringan hubungan yang lebih merakyat serta strategis untuk meluaskan pengaruh di kalangan luar priyayi. Selain itu masuklah darah baru ke dalam golongan priyayi.
Masyarakat priyayi pada umumnya bersifat patriarkhal dengan menonjolkan peranan dominan kaum pria, sedang kaum wanita memperoleh kedudukan serta peranan yang tidak terlalu (kurang) terkemuka. Pada hakekatnya dalam masyarakat patriarkhal dominasi pria meliputi pelbagai aspek kehidupan, antara lain bidang bio-sosial, politik, sosio-kultural, religius, Dalam lingkungan keluarga pria menjadi kepala keluarga mempunyai kekuasaan sebagai pemberi keputusan, sebagai pencari nafkah; jabatannya menentukan status keluarga, penentu garis keturunan, pemimpin kerabat. Tambahan pula, peranan seksualitas dominan dengan adanya lembaga poligami. Oleh karena itu sebagai model ditegaskan sifat-sifat otoriter, kejantanan fisik, (kuat dan trampil), dinamis dan aktif. Pihak pria dengan demikian lebih banyak berkomunikasi ke luar, bertindak bertanggungjawab, dan produktif.
Gambaran tradisi priyayi di atas juga lekat dalam novel ini. Namun, Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri ditampilkan berbeda dari perempuan-perempuan yang lain. Mereka hadir sebagai perempuan tangguh walaupun akhirnya bernasib nestapa. Rara Mendut adalah perempuan yang tidak betah di dalam kaputren, sebuah tempat yang digambarkan indah, serba ada, pemandian dengan air jernih melimpah, sebuah tempat yang menjadi impian kebanyakan perempuan. Rara Mendut lebih senang memandang laut luas, pandangannya lepas, bebas. Hal yang mengejutkan adalah sikapnya yang menolak dengan gigih lamaran Sang Panglima besar Wiraguna. Ia menolak menjadi selir, hal yang juga menjadi impian perempuan kebanyakan pada saat itu. Wiraguna yang biasanya mudah mendapatkan perempuan merasa tertantang, dia semakian kepencut gadis liar dari pantai ini.
Waraguna ingin menakhlukan Rara Mendut tidak dengan paksaan yang kasar. Segala upaya dipatahkan oleh gadis ingusan ini. Sampai akhirnya Wiraguna tidak dapat menahan amarah setelah diketahuinya, Rara Mendut melarikan diri dari puri dengan pemuda belahan hatinya, Pranacitra, pemuda anak saudagar kapal dari Pekalongan.
Berhari-hari Wiraguna mencari Rara Mendut dan Pranacitra hingga pada suatu hari dia menemukannya di dekat muara Sungai Oya-Opak. Pranacitra memilih menghadapi Wiraguna. Pranacitra berkata pada kekasihnya “Saat ini, Adikku Mendut, Pranacitra tidak punya pilihan lain. Melawan artinya masih punya harapan hidup. Itulah, Adikku, salah satu cara juga membela kehidupan”.
Wiraguna mengamuk penuh nafsu menikamkan kerisnya ke arah dada Pranacitra. Mendut maju spontan bermaksud membela kekasih-nya. Tanpa sengaja keris Wiraguna menusuk jantung Mendut di atas kekasihnya.
Sebuah gelombang besar dari laut merenggut kedua kekasih bermandikan darah saling merangkul itu.
Genduk Duku pergi menuju Pekalongan, mengabarkan warta tentang kisah Pranacitra dan kekasihnya kepada sang Ibu. Setelah dari Pekalongon Genduk Duku hendak ke Telukcikal mengabarkan nasib Rara Mendut kepada orangtua kandung dan angkatnya. Oleh ibu Pranacitra Genduk Duku dititipkan pada nelayan Telukcikal yang kemudian menjadi suaminya, namanya Slamet.
Nasib membawa Duku dan Slamet kembali lagi ke Mataram. Saat mereka mampir di puri Pahitmadu, kakak perempuan Wiraguna yang menolongnya saat melarikan diri dari puri Wiragunan, seorang bocah yang ternyata pangeran calon pemangku tahta menginginkannya. Perlu strategi untuk menolak seorang pangeran pemilik kekuasaan. Pada malam-malam saat pangeran yang sebenarnya masih bocah itu menemuinya dan mengajaknya tidur bersama, di seretnya pangeran itu menunggang kuda berdua. Dan pangeran terperanjat karena ternyata masuk diarea pekuburan.
Nasib yang tidak kalah mimilukan dialami oleh Tejurukmi. Dia adalah gadis yang menjadi rebutan antara si tua Wiraguna dan Si bocah putra mahkota pangeran Jibus. Jibus mencuri Tejarukmi dari puri Wiragunan. Ada yang lapor pada raja sehingga Pangeran Jibus terkena marah. Dia diusir oleh bapaknya untuk sementara waktu. Setelah habis masa hukuman Jibus mengembalikan Tejarukmi kepada Wiraguna selayak mayat. Tejarukmi didandani seperti mayat, dan diantarkan seperti mengantarkan mayat. Melihat Tejarukmi yang dikembalikan dengan cara demikian, Sang Tumenggung marah, kewibawaannya sebagai panglima perang terkoyak. Dia hunus keris dan dia hujamkan di dada Tejarukmi. Sungguh pilu nasib perempuan disarang priyayi Jawa (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 31, 2009, in Buku. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: