KORBAN BAJU UNTUK BONEKA

Muhajir Arrosyid

Minggu itu 13 Desember 2009 pukul 07.00. WIB.  Saya dan Istri baru pulang ke rumah. Tadi malam baru ada acara yang mengharuskan kami menginap. Kami disambut oleh anak-anak yang setiap minggunya belajar bersama dalam KAK, Karya Anak Kampung. Mereka ada yang membaca buku dengan suara keras, menggambar, kejar-kejaran, ada pula yang menyeret tangan kami untuk segera masuk ke rumah. Tampaknya mereka rindu pada kami, kami juga rindu pada mereka.

Seperti biasa acara kami buka dengan do’a. Semoga apa yang kami usahakan pada hari ini bermakna, bermanfaat, dan berkah. Suatu ketika istriku bertanya, “Kira-kira apa yang kita lakukan ada gunanya tidak sih bagi mereka?” Dan aku jawab, semiga saja bermanfaat. Apa yang kita ajarkan ini akan merangsang imajinasinya, memberi mereka kepercayaan diri bahwa sesuatu yang mereka kagumi sebenarnya ia bisa melakukannya, mainan yang biasa mereka beli, ternyata mereka bisa buat sendiri.

Setelah berdo’a kami menyanyikan lagu Indonesia Pusaka. Tentang kenapa lagu Indonesia Pusaka yang dinyanyikan, itu karena mereka sendiri yang minta. Kadang-kadang mereka ingin menyenyi lagu syukur.

Pada pertemuan minggu kemarin salah satu dari peserta usul agar dipertemuan ini diajarkan Bahasa Inggris. Kami memenuhinya, memberikan kosa kata macam-macam warna dan buah-buahan, percakapan-percakapan pendak dalam Bahasa Inggris.

Hal yang rutin dalam pertemuan yang kami laksanakan adalah membuat hastakarya. Rencananya kami akan membuat boneka dari kaps kapuk randu. Bahannya antara lain, kapas kapuk, kaun percak, renda. Benang. Sedangkan alatnya cukup jarum. Untuk kapas kapuk randu kering anak-anak dapat mangambil dari pohon randu di pinggir jalan. Jarum dan renda juga kami sudah punya. Yang belum kami punya adalah kain percak. Saya mencari ke tetangga penjahit, katanya tidak punya, saya ke tetangga tukakng sablon, katanya juga sedang habis. Saya dan istri pusing, acara hari ini bisa tidak seru hanya gara-gara tiadanya kain percak.

Dengan berat hati kami membuka lemari. Memilih baju yang paling layak kami percakkan. Saya ambil dua baju. Karena untuk membuat boneka itu setidaknya menghabiskan dua warna. Satukain polos, satu lagi bercorak. Jadilah kami membaut boneka kapas kapuk randu walaupun dengan korban baju. Tapi kami ikhlas kok!

Acara rampung pukul 11.00 WIB. Kami tutup dengan do’a. “Ya, Tuhan jadikan kami hamba yang selalu dapat bersyukur”

Tulisan tentang KAK yang lain dapat dibaca di Kampung, Boneka, Durian, Masa Depan, Telur, Kambing

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Desember 15, 2009, in buku harian. Bookmark the permalink. 6 Komentar.

  1. memang luarbiasa engkau…wahai….guru vokal masa kecil q…..terimakasah q ucapkan padamu atas qalbu mu yang membuat air mata q harus keluar…tuk kesekian kali nya……smoga allah slalu mencurahkan rahmatnya pada mu salam dari q.kecil yang kau berikan besar man faat yang q dapat kan.walaupun q jauh dari halaman kampung tercinta.salam rinduku tukmu n para anggota KAK

  1. Ping-balik: MENYULAP TELUR MENJADI KAMBING « KARYA ANAK KAMPUNG

  2. Ping-balik: MASA DEPAN ANAK KAMPUNG PEREMPUAN « KARYA ANAK KAMPUNG

  3. Ping-balik: POHON NANGKA BERBUAH DURIAN « KARYA ANAK KAMPUNG

  4. Ping-balik: KARYA ANAK KAMPUNG « KARYA ANAK KAMPUNG

  5. Ping-balik: ADA KAMBING DI PENTAS KAK « KARYA ANAK KAMPUNG

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: