PENJAJAHAN LIDAH DI INDONESIA

Judul                : Jejek Pangan; Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan

Penulis              : Andreas Maryoto

Halaman           : 250

Tahun terbit      : April 2009

Penerbit            : Kompas

ISBN               : 078-979-709-413-3

Mungkin kita jenis manusia yang tidak tahu diri. Hanya ingat pentingnya pangan setelah perut kita lapar. Kita mendapat buah-buhan di supermarket atau toko buah tidak pernah berfikir darimana buah itu berasal bagaimana menanam. Bahkan seringkali tidak tahu bagaimana wujud pohon dari buah tersebut.

Buku berjudul Jejak Pangan; Sejarah, Silang Budaya, dan Masa Depan karya Andreas Maryato ini membahas segala hal tentang pangan. Mulai tentang rempah-rempah yang menentukan peta dunia hingga serangga sebagai tawaran makanan alternatif.

Orang Eropa penasaran dengan keberadaan rempah-rempah. Orang Arab yang menjual rempah kepada orang eropa hanya menuturkan bahwa kayu manis, salah satu rempah, yang diperdagangkan itu berasal dari sarang burung. Burung telah membawa potongan kayu manis itu dari suatu tempat yang tidak diketahui dan menjadikan benda itu sebagai bagian dari sarangnya. Soal asal kayu manis itu, hanya burung yang tahu. Begitu berharganya rempah-rempah hingga informasi mengenai asal usulnya pun disembunyikan. Pada masa itu, pedagang asal Arab diduga mendapat rempah-rempah melalui tiga jalur. Pertama melalui China. Rempah-rempah dari Nusantara memasuki China melalui jalur laut. (hal. 14)

Portugis kemudian membuat ekspedisi yang secara serius melacak asal usul rempah-rempah dengan menyusuri pantai selatan Eropa, kemudian Afrika hingga memasuki Asia. Penemuan tempat itu makin mendapati kenyataan ketika Portugis menguasai Pelabuhan Malaka pada tahun 1511. Di sisi lain, Spanyol yang tidak mau kalah dengan Portugis mencari jalur rempah-rempah melalui jalur darat hingga akhirnya menemukan Benua Amerika. Petualangan yang paling spektakuler adalah perjalanan lima kapal Ferdinand Magellan (1480-1521) yang dimulai dari Pelabuhan Sevila, Spanyol, pada tahun 1519.

Buku ini menyadarkan kita bahwa urusan perut tidak dapat diremehkan. Pasukan perang yang gagah berani tidak akan berangkat berperang jika perutnya tidak diisi. Maka salah satu strategi perang kerajaan mataram adalah menutup jalur pangan pasukan musuh. Atlit dalam olinpiade tidak akan menunjukkan prestasi optimal jika menu yang disajikan tidak cocok dengan selera.

Negara akan menjadi negara kokoh jika tersedia pangan yang cukup. Sejarah membuktikan peralihan kekuasaan secara paksa karena terjadi kemelut pangan. Pergantian Sukarno dan Suharto cukup menjadi bukti. Kewibawaan penguasa ditentukan oleh kemampuan mereka mengambil keputusan politik mengenai pangan.

Saat ini salah satu negara yang serius mengembangkan teknologi pangannya adalah India. India menjaga dan mengembangkan enam pilar sektor pertanian. Enam pilar itu adalah tanah, air, iklim, benih, peralatan, dan petani.

Penjajahan lidah

Globalisasi pangan telah menjadikan hidangan yang ada di meja makan terasa asing dan makin jauh asal usul bahan bakunya. “Penjajahan”lidah telah merasuk hingga kita tidak memahami kisah komoditas yang disantap. Apabila mau kembali ke desa, kita akan menemukan kuliner sesungguhnya.

Nasi yang dihidangkan pun bisa dilacak mulai dari meja makan, tempat menyimpan, tempat penggilingan gabah, tempat untuk menyimpan gabah, tempat pengeringan gabah, hingga sawah tempat lokasi menanam. Apabila mau merunut lagi, kita akan menemuan asal usul benihnya, asal usul airnya, hingga asal usul pupuknya. Sebuah rangkaian proses produksi pangan yang sangat komplet, sementara bagi kebanyakan orang di perkotaan nasi hanya diketahui ketika sampai dimeja makan saja.

Kemolekan globalisasi telah mengaburkan kekayaan kuliner kita. Globalisasi pangan pula telah menjauhkan hidangan di meja makan kita dari asal-usulnya. Selama ini kita berusaha sok akrab dengan makanan di meja makan meski kita tidak mengetahui asal-usul roti, pizza, mentega, dan lain-lain. Makanan itu sebenarnya adalah makanan asing di lidah yang dipaksakan diterima dengan alasan gengsi.

Pekarangan Kita

Di salah satu bagian dalam buku ini juga membahas tentang pekarangan yang pada masa lalu berfungsi sebagai basis pangan rumah tangga dibandingkan sebagai sumber ekonomi. Hasil pekarangan baru dijual bila sebuah keluarga membutuhkan pangan lain dan alat-alat rumah tangga yang tidak bisa dibuat sendiri.

Pekarangan sudah ada pada 860 Masehi dan  Jawa Tengah merupakan tempat asal usul pekarangan.

Pada tahun 1937 publikasi yang dikeluarkan oleh Ochse memperlihatkan ada hubungan yang kuat antara kualitas pekarangan dan status gizi rumah tangga. Penelitian sebelumnya bersama Terra di Kutowinangun, Kabupaten Purworejo, menunjukkan, sebesar 18 persen asupan kalori dan 14 persen asupan protein penduduk setempat berasal dari pekarangan.

Isi pekarangan juga bermacam-macam hewan dan tanaman. Ada penelitian yang menarik, secara umum ciri pekarangan di Jateng selalu ada tanaman obat. Hal ini terkait dengan kebiasaan orang Jawa yang suka minum jamu. Di Jawa Barat pekarangan dicirikan dengan tanaman sayuran karena orang Sunda suka dengan lalapan.

Petani yang di korbankan

Dalam pengantarnya Siswono Yodo Husodo menyampaikan, selama ini petani yang dikorbankan dalam kebijakan pangan pemerintah. Penderitaaan petani kecil dan petani gurem bertambah ketika pemerintah dalam mengundang investor asing, memberi daya tarik Indonesia sebagai tempat dengan upah tenaga kerja amat murah.

Dan, agar upah buruh tetap murah, harga pangan harus ditekan. Sedikit saja harga pangan/beras me-ningkat, pemerintah langsung menekan dengan operas! pasar.

Bagi Indonesia, porsi pendapatan yang dibelanjakan masyarakat untuk kebutuhan pangan memang masih besar, dan menjadi salah satu faktor pembentuk inflasi yang penting. Karena itu, setiap pemerintahan berusaha menekan inflasi dengan menekan harga pangan; antara lain dengan mengadakan impor beras, operasi pasar, dan program beras miskin.

Padahal, pada waktu bersamaan, harga-harga kebutuhan yang lain naik signifikan. Akibatnya nilai tukar petani (NTP) terus mengalami penurunan dan kesejahteraan petani terus menurun dibandingkan profesi lain.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 6, 2010, in Buku. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. TERIMAKASIH TAS INFORMASI DAN TULISANNYA, CUKUP BERMANFAAT BUAT BACAAN. KUNJUNGI JUGA SEMUA TENTANG PAKPAK DAN UPDATE BERITA-BERITA DARI KABUPATEN PAKPAK BHARAT DI GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: