KEARIFAN LOKAL BERWAWASAN EKOLOGIS

Kompas, Forum Rabu, 30 Desember 2009 | 11:18 WIB

Oleh Muhajir Arrosyid

Jauh hari sebelum gempar isu pemanasan global, perubahan iklim, di Kabupaten Demak sudah ajek dikunjungi banjir dan dilanda kekeringan di setiap tahunnya. Bahkan, muncul olok-olok untuk masyarakat Demak, rendeng ora iso ndodok, tigo ora iso cewok. Arti ungkapan itu adalah musim hujan tidak bisa jongkok (karena penuh air) dan musim kemarau tidak bisa membersihkan diri setelah buang air (karena tiada air).

Tentu saja banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau itu menghambat kemakmuran masyarakat Demak yang menggantungkan hidup dari pertanian.

Penebangan pohon di hutan atau di pekarangan sering kali terjadi untuk dijual atau untuk kebutuhan pembuatan rumah tinggal. Pengamanan yang dilakukan polisi hutan tidak sepenuhnya efektif. Ancaman fisik bahkan kematian sering kali terjadi saat polisi hutan melaksanakan tugas.

Dari masalah hutan berlanjut ke masalah sungai. Saat musim hujan, air sungai penuh sampai meluber atau kerap kali tanggul jebol dan mengakibatkan banjir. Sungai-sungai Kabupaten Demak sebagian besar masih bertanggul tanah. Tanggul yang terbuat dari tanah ini tentu sangat mudah tergerus arus air.

Tidak terdapat akar tanaman yang mengikat tanah. Kondisi ini masih diperparah dengan perilaku masyarakat yang sering kali mengubah tanggul sebagai lahan tegalan yang ditanami terung, cabe, jagung, dan tanaman lain. Proses pencangkulan dan penanaman tanaman tegalan itu membuat tanah gembur dan mudah tergerus air saat hujan.baca selengkapnya

Kekeringan terjadi karena volume air sungai turun. Akibatnya sawah-sawah tidak bisa diairi dan musim tanam tertunda. Banyak faktor yang menyebabkan volume air di sungai turun dan sebagian faktor tersebut diakibatkan oleh ulah masyarakat. Pertama, karena pendangkalan sungai, tanah tergerus dan terbawa air. Tanah yang terbawa tersebut mengendap terjadilah pendangkalan. Kedua, karena tumbuhnya tanaman liar seperti eceng gondok, kangkung rabi seperti terjadi di sungai antara Kecamatan Sayung dan Kecamatan Buyaran. Ketiga, timbunan sampah sawah, misalnya pohon tembakau dan pohon jagung seperti terjadi di sepanjang Sungai Cabean. Perlu dipikirkan bagaimana cara menjaga sungai agar tetap mengalir dan tanggul tidak jebol.

Karena pelaku rusaknya lingkungan adalah masyarakat, upaya yang harus dilakukan pertama kali adalah memahamkan masyarakat. Masyarakat Demak adalah masyarakat yang masih terikat dan patuh pada ajaran Walisembilan, khususnya pada Sunan Kalijaga. Cerita tentang Walisembilan masih terikat kuat melalui tradisi lisan. Lagu-lagu dolanan yang konon karya Walisembilan seperti Gundul-gundul Pacul, Ilir-ilir masih sering terdengar di Demak.

Kiranya penyadaran, pemahaman, dan pengetahuan lingkungan juga dapat disebarluaskan melalui menafsir ulang karya yang tumbuh dari masyarakat sendiri. Penyadaran dengan cara demikian diharapkan tidak menuai pertentangan.

Tentang bagaimana memahamkan masyarakat tentang pentingnya menjaga hutan dan pohon di pekarangan, kita bisa memberi tafsir baru tentang saka tatal. Saka tatal adalah tiang Masjid Agung Demak yang konon sumbangan dari Sunan Kalijaga. Dalam sebuah cerita yang beredar di masyarakat, saat pembangunan Masjid Agung Demak, para Sunan anggota Walisembilan sibuk mencari kayu yang akan dibuat tiang utama. Sementara yang lain sibuk, Sunan Kalijaga yang juga mendapat tugas untuk mencari kayu tiang utama malah mengumpulkan kayu-kayu serpihan kecil sisa dari kayu milik Sunan lain. Serpihan kayu sisa tadi oleh masyarakat Demak disebut tatal. Tatal-tatal itu disusun sedemikian rupa dan jadilah tiang atau saka. Kemudian masyarakat Demak dan masyarakat luas mengenalnya sebagai saka tatal, yang artinya tiang dari serpihan kayu sisa. Saka tatal masih dapat kita saksikan di museum Masjid Agung Demak.

Selama ini tidak ada tafsir kenapa Sunan Kalijaga memilih kayu sisa sebagai tiang utama. Padahal, pada masa itu tentunya kayu masih banyak tumbuh, tentu saja mudah sekali memilih satu sebagai tiang utama. Selama ini, masyarakat luas melihat kejadian ini hanya sebagai kenyentrikan Sunan Kalijaga. Akan tetapi, dari peristiwa ini, kita dapat mengambil pelajaran. Sunan Kalijaga memilih serpihan kayu kecil adalah karena beliau ingin mengajarkan kepada anak cucunya agar menghormati pohon. Jika serpihan saja masih bisa digunakan, kenapa harus menebang pohon yang besar?

Tentang sungai, lagi-lagi kita dapat mengambil pelajaran dari Sunan Kalijaga. Nama Sunan Kalijaga sebelum ditasbihkan menjadi wali adalah Raden Shahid. Ia dikenal sebagai kepala perampok. Suatu ketika Raden Shahid berniat merampok Sunan Bonang. Dalam sebuah perkelahian, akhirnya Raden Shahid kalah dan meminta Sunan Bonang mengakuinya sebagai murid. Sunan Bonang mau menjadi gurunya dengan syarat Raden Shahid mau menjaga sungai sampai waktu yang tidak ditentukan. Raden Shahid lolos dari ujian dan diberi nama baru oleh Sunan Bonang, yaitu Sunan Kalijaga. Kalijaga sebenarnya terdiri atas dua kata, yaitu kali dan jaga; jika susunannya dibalik maka menjadi jaga kali.

Cerita lokal tentang pertobatan Raden Shahid yang kemudian menjadi Sunan Kalijaga tersebut kiranya bukan tanpa maksud. Kenapa sungai yang dijaga? Kenapa tidak harta benda atau hewan peliharaan? Tentunya sungai lebih berarti daripada harta benda dan hewan peliharaan. Kita bisa kabarkan kepada masyarakat luas bahwa cucu-cucu Sunan Kalijaga adalah masyarakat yang seharusnya menjaga sungai agar tetap bersih, sehat, dan menghidupi.

MUHAJIR ARROSYID Pengajar di IKIP PGRI Semarang, Pengasuh Taman Kreativitas Karya Anak Kampung (KAK) di Kabupaten Demak

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 23, 2010, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Tulisannya bagus2,… saya juga orang Demak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: