Pagi yang Hujan (Hujan 1)

Cerita Bersambung Bagian Satu

Aku silakkan rambut. Bibirku mengabarkan hangat pada keningmu. Aku raba perutmu. Pada suatu saat yang aku harap segera datang, anak kita akan tumbuh dari sana. Hujan dari tadi malam belum juga reda. Berat rasanya meninggalkanmu dalam suasana begini. Jendela aku buka masih saja seperti pukul lima. Selimut, bantal, dan kasur itu mengundangku untuk kembali rebah mendekapmu.

Sekali lagi aku kecup keningmu. Aku pamit kekasihku. Aku akan bekerja. Cepat batukmu reda. Aku tutup pintu kamar melangkah menuju sepatu. Mesin motor aku hidupkan. Aku mengucap Al Fatihah, do’a keselamatan.

Aku berhenti dipelataran rumah. Melihat hujan yang begitu lebat aku mengurungkan niat. Sekalipun aku mengenakan jas hujan tubuhku akan basah dengan hujan selebat ini. Air menetes dari genting yang bocor di pelataran rumah itu. Tepat satu detik satu tetes. Tanah yang terkena tetesan air menjadi lubang. Anak-anak ayam berlarian. Paruhnya menotol tanah. Berjalan kesana-kemari. Tiga di antara mereka menenmpel di tubuh induknya. Angin mematahkan batang kedondong depan rumah. Buahnya yang masih kecil rontok di rerumputan. Oh nasibmu kedondong kecil, kembelilah kepada alam. Pohon-pohon jagung merunduk. Ia akan kembali tegak saat mentari memancar.

Ini adalah bulan keempat perkawinan kita. Selama itu pula kita telah tidur bersama, kemana dimana bersama. Kau adalah teman terdekatku. Kebahagiaan apalagi yang kita minta kepada Tuhan? Dulu saat aku sakit dan kebahagian yang paling aku nanti adalah kehidupan. Tuhan telah memberikan kehidupan bagiku. Hingga pada suatu saat aku bertemu denganmu. Saat hubungan kita terancam atas mitos yang tertanam dikepala orang tua kita, kebahagian yang paling aku dan kamu nanti adalah selesainya masalah kita berdua dan sesegera mungkin dapat bersama. Kebahagian apalagi yang aku harap? Apa yang diberikan oleh Tuhan kepada kita itu sudah cukup. Malu rasanya meminta lagi.

Kataku pada Tuhan pada suatu malam. Tuhan, aku sudah sangat bahagia dengan apa yang Engkau berikan kepadaku hari ini. Terimakasih aku ucapkan kepadaMu. Namun Tuhan, jika Engkau memberiku karunia berupa anak, karunia yang juga Kau berikan kepada makhlukmu yang lain, kami sungguh sangat bersyukur. Aku akan mendidiknya seperti Ibrahim mendidik Ismail. Mendidik dengan keikhlasan. Akan aku relakan anak itu untukmu. Ia akan menjadi pemelihara bumi ini, seperti yang Engkau amanatkan kepada kami, umat manusia. Sengaja aku menemuimu saat orang lain tidur. Itu karena inginku mendapat perhatianMu.

Pada hari Sanin dan Kamis aku akan puasa dan kau turut serta. Setiap lapar dan haus adalah do’a. Setiap ada kelezatan, dan menghindarinya adalah do’a. Kita akan bersama, bukan untuk saling memiliki. Kau dan aku adalah milik Tuhan. Kita bersama menjadi satu untuk mendekat, kepada Allah SWT dan rosulNya. Aku lirik jam di Hp. Aku tabrak gerimis. Aku lalui jalan-jalan kampung. Kambing-kambing yang biasanya ada di kanan kiri jalan pagi itu dikandangkan. Anak-anak mengendarai sepeda berangkat sekolah. Bertemu para tetangga kami saling menyapa. Sampailah aku kejalan raya. Sebelum menyebrang kembali aku berdo’a, meminta selamat. Jalan raya bagaikan lautan buas. Jika tidak hati-hati aku bisa saja diterkam kendaraan lain. Apalagi pagi ini gerimis, habis hujan lebat. Separo perjalanan hujan kembali deras. Tiba-tiba angkot berhenti di depanku menurunkan penumpang. Daripada menyalipnya aku memilih berhenti menunggu angkot itu berjalan lagi. Lagi-lagi aku kaget. Seorang anak sekolah mengendarai motor bak pembalap. Pembalap gadungan itu berjalan zik-zak melalui sela-sela pengendara lain. Tentu saja apa yang ia lakukan membahayakan dirinya sendiri dan membahayakan pengendara lain. Yang dipertaruhkan adalah nyawa. Melihat pemandangan itu aku jadi berfikir, Indonesia punya anak-anak nekat begini tetapi olahraga balapnya juga belum maju.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 5, 2010, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: