RANTANG (Hujan 2)

Cerita bersambung bagian 2

Di belakang rumah di bawah pohon jambu aku dirikan lincak yang cukup luas, tiga kali tiga meter persegi. Semua orang rumah tahu, jika aku sudah di tempat itu, itu artinya aku sedang tidak ingin diganggu. Dan akupun tahu, jika kau menyusul ke tempat itu sudah dapat ditebak, pasti ada sesuatu hal yang ingin kau utarakan. Lincak itu memang dekat dengan kamar mandi, tetapi tidak ada apa. Tempat ini tetap tempat paling nyaman untukku bekerja.

Aku dibantu dengan satu lampu dan satu meja kecil. Untuk mengusir nyamuk aku menggunakan dua anti nyamuk sekaligus, anti nyamuk bakar dan anti nyamuk oles. Di lincak itu pandanganku hanya sebatas kebun yang menghutan dan dua rumah yang ditinggali dua keluarga. Satu di antara dua rumah itu ditinggali Mbah Sampi, nenek yang awet tua. Ia adalah orang paling tua di kampung kita. Sejak aku kecil sudah begitu penampilannya. Hingga sekarang aku menikahimu ia tetap begitu. Rambutnya tetap putih. Jalannya tetap membungkuk dibantu tongkat, kulitnya berlipat keriput. Menurut pengakuan Si Embah, penglihatan dan pendengarannya sudah berkurang, tetapi daya ingat masih sempurna, suaranya juga masih jelas dan keras. Satu rumah lagi ditempati keluarga cucunya, semua anaknya sudah meningal dunia.

Di depan lincak berdiri kolam dari terpal yang berisi ikan kaper. Sudah setahun ini aku mengganti isi kolam itu. Mulanya aku memelihara lele. Tetapi karena harga pakan lele terus naik sementara harganya malah turun maka aku memutuskan menggantinya dengan kaper. Pertumbuhan kaper memang lamban. Jika lele dapat dipanen antara dua sampai tiga bulan, kaper baru dapat dipanen setelah enam bulan. Tetapi aku menanam kaper ini semata-mata hiburan. Kaper juga tidak butuh banyak pakan, pakannyapun murah, kangkung, daun-daunan, dedak. Satu lagi yang menarik dari kaper ini, ikan ini cepat sekali berkembang biak, jadi aku tidak perlu membeli benih lagi.

Menyaksikan ikan kejar-kejaran merupakan rekreasi yang asyik. Ikan itu kesana kemari menyusur sisi-sisi kolam. Saat purnama cahaya bulan memantul dari kolam. Ikan-ikan yang muncul dipermukaan tampak jelas. Kau datang, mendengar langkah kakimu ikan ikan serentak menghilang, bersembunyi di bagian kolam yang lebih dalam. Ulah ikan yang sembunyi serentak menimbulkan suara yang khas “prak”.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 5, 2010, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: