LANGIT-LANGIT KELAMBU

Muhajir Arrosyid

Aku singkirkan kaki istriku dari kakiku, tangannya dari dadaku, bibirnya dari leherku. Malam adalah milik serangga. Orang-orang lelap karena gelap diyakini saatnya rehat, membaringkan badan, menutup mata.

Malam ini aku tidak demikian, malam ini menjadi malam penuh siksaan. Jika mataku terpejam, yang hadir adalah senyum dan kerlingan mata Zahro. Jika mataku terbuka, yang tampak istriku terlelap manja. Ibarat mimpi sebenarnya tidak sepenuhnya mimpi buruk, ada hal-hal yang hadir selayak bunga.

Dalam pelukan istri, pikiranku berkunjung menemui Zahro. Zahro, apakah aku dilahirkan terlalu cepat, atau kau dilahirkan terlambat, sehinga kita tidak dapat bertemu pada saat yang tepat? Gajah pergi meninggalkan gading, curut pergi meninggalkan bau pesing, kau pergi meninggalkan senyum-kerling. Dalam dadaku, seperti badai mengamuk membentur tebing-tebing.

Aku dan istriku masuk kelambu pukul dua puluh lalu, sekarang sudah pukul satu. Mungkin akan hujan sehingga udara terasa gerah. Aku sudah bolak-balik tiga kali menghidupkan dan mematikan kipas angin, jika kipas aku matikan, keringat segera mengucur, jika kipas aku nyalakan, aku merasa kedinginan. Malam ini aku terus haus, sudah aku habiskan seteko air.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 8, 2010, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: