MEMBANGUN JEMBATAN KEKERABATAN

Tri Umi Sumartyarini

(Di muat di Suara Merdeka pada 8 Februari 2010)

Adalah sebuah keniscayaan pembangunan menuntut penambahan infrastruktur dan fasilitas. Penambahan fasilitas Di Kabupaten Demak mewujud dalam pelebaran jalan raya. Namun, pelebaran jalan raya ini menuai konsekuensi lain. Jalan yang ramai, lebar dan mulus menjadi penghalang masyarakat Demak dalam memelihara tali kekerabatan dengan para tetangganya.

Kita harus melihat kenyataan, saat ini Demak tidak lagi kampung. Demak adalah sebuah kabupaten yang menjadi persimpangan antar kota. Maka wajar jika pembangunan jalan provinsi yang membelah kabupaten Demak dilaksanakan. Sekarang jalan yang membelah Kabupaten Demak tersebut telah lebar dan halus. Sebelum jalan raya dilebarkan, setiap pagi kemacetan menghampiri di beberapa wilayah. Kemacetan terjadi karena membludaknya jumlah pengendara, baik mobil maupun motor. Sementara lebar jalan raya tidak mampu menampung. Kemacetan yang mengakibatkan anak sekolah, pekerja dan buruh pabrik terlambat, sekarang sudah teratasi. Kecelakaan yang dulu sering terjadi juga telah berkurang. Tentu saja perbaikan jalan patut disyukuri. Jalan yang tadinya macet sekarang tidak lagi.

Pelebaran jalan raya di Demak adalah bagian dari proyek pelebaran jalan Kaligawe Raya. Panjang pelebaran jalan Semarang-Demak mencapai jarak 20 kilometer yang dimulai pada awal tahun 2008 dan saat ini berada pada tahap penyelesaian. Lebar ruas jalan yang semula berukuran 10 meter dilebarkan menjadi 20 meter membentang dari kecamatan Sayung sampai Karanganyar.

Akan tetapi pembangunan selalu menuntut konsekuensi lain. Keadaan jalan yang halus dan lancar membuat para pengguna jalan menambah kecepatan laju kendaraan mereka. Dari pagi hingga malam jalan tidak pernah sepi. Jalan raya itu bagaikan arus air besar yang susah dilewati. Akibatnya rumah tetangga yang letaknya di seberang jalan tidak pernah lagi dikunjungi. Menyeberang jalan taruhannya adalah nyawa. Seberang jalan, jarak yang sebenarnya hanya lima belas meter serasa dua kilometer.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 17, 2010, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: