POHON WARU DEPAN RUMAH

Muhajir Arrosyid

AMPLOP BIRU dan pohon waru. Dua hal inilah yang akhir-akhir ini menggangu pikiran Tati.

Alamat pengirim amplop warna biru itu dari kampung tempat suaminya berasal. Amplop biru itu sudah terkirim satu minggu yang lalu. Namun, suaminya belum membukanya juga. Padahal waktu pertama kali amplop itu datang, Tati sudah menunjukkannya. “Mas Tunu, ada surat dari kampung.” Suaminya hanya menerimanya dan meletakkan di atas TV tanpa dibuka.

Tati ingin suaminya segera membuka dan membacanya. Dia akan ikut membaca setelahnya. Saat pagi akan sarapan, Tati meletakkan amplop biru di atas meja makan berdampingan dengan piring dan sendok. Namun suaminya hanya memungut dan kembali meletakkan di atas TV.

Tati punya niat membuka amplop itu sendiri. Agar tidak diketahui suaminya dia akan menutup rapi setelah membaca. Tapi niat itu dia urungkan. Pikirnya, perbuatan demikian tidak ada bedanya dengan korupsi.

Sampai saat ini, setelah tujuh hari amplop itu di rumahnya, Tati hanya dibuat penasaran. Apakah isi amplop itu? Kenapa suaminya tidak membukanya segera?

Hal ini tidak biasanya. Setiap kali mendapat surat, suaminya akan segera membuka. Entah dengan muka masam atau muka gembira. Kadang keluar kata-kata binatang, kadang keluar kata-kata syukur.

Suaminya seakan jijik, atau malahan takut dengan amplop biru ini. Atau sebenarnya sudah tahu isinya, jadi tidak perlu lagi membuka.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 20, 2010, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: