BELAJAR DARI SENGATAN LEBAH

Muhajir Arrosyid

Sikap sayang yang salah tidak akan membantu perkembangan anak ke arah yang positif, justru sebaliknya akan menjerumuskan si anak. Hal inilah pelajaran yang dapat kita ambil dari kasus sengatan lebah yang baru-baru ini terjadi.

Diberitakan di media ini (02/02/2009), seorang bocah kelas III SD N Dr. Sutomo VIII Surabaya, Jawa Timur yang berinisial DDY menyengatkan lebah pada pipi temannya yang berinisial DN. Kejadian ini terjadi usai sekolah pada 03 Maret 2009.

Orang tua DN tidak terima dan melaporkan kejadian ini ke Polres Surabaya Selatan. Sebuah upaya damai yang diprakarsai oleh pihak sekolah tidak membuahkan hasil. DDY yang baru berumur sembilan tahun harus menghadap penyidik, dan akhirnya pada tanggal 30 Desember 2009 duduk di kursi terdakwa dengan tuduhan penganiayaan. Hakim memutus DDY dikembalikan kepada pihak keluarga dengan pertimbangan karena DDY masih anak-anak, hakim berpendapat cara ini adalah cara yang paling baik untuk mendidiknya.

Ada dua anak yang terlibat dalam kasus ini. DDY anak yang menyengatkan lebah, dan DN anak yang tersengat lebah pada pipinya.baca selanjutnya

Interaksi antar anak, baik di sekolah maupun di tempat permainan memungkinkan terjadinya kejadian-kejadian demikian. Kejadian sejenis ini sering terjadi di sekeliling kita. Kejadian seruapa juga pernah terjadi di komonitas Karya Anak Kampung (KAK) yang penulis asuh. Bagaimanakah penyelesaian terbaik demi perkembangan anak? Penyelesaian yang diambil oleh Supardi, ayah DN dengan membawa kasus ini ke pengadilan bukanlah langkah yang bijaksana. Tindakan ini tidak hanya berdampak buruk pada DDY tetapi juga berdampak buruk bagi DN, anaknya sendiri.

Proses penyidikan sampai sidang ke pengadilan banyak mempengaruhi psikologi DDY. Menurut gurunya nilai-nilai DDY kelas terus turun, ini adalah bukti pengaruh kaus tersebut. Proses di pengadilan juga dapat menimbulkan trauma pada diri anak. Rasa kepercayaan dirinya juga bisa terganggu. Apalagi jika masyarakat ikut menudingnya sebagai bocah nakal.

Budi Pekerti

Menurut Bratawijaya (1997:1) dalam Serat Wulang Reh, keluarga adalah wadah: (1) pendidikan pergaulan, (2) pendidikan watak, (3) pendidikan norma sosial, (4) pendidikan tatakrama, (5) pendidikan tentang baik buruk, dan (6) pendidikan agama. Dari berbagai unsur pendidikan ini tugas keluarga adalah nggulawenthah (mendidik) anak yang sebaik-baiknya. (Suwardi Endraswara, 2006)

Orang tua dalam menyemaikan pendidikan budi pekerti dapat melalui dua cara; memberitauladan dan memperlakukannya. Mengangkat kasus ini kepersidangan adalah bentuk penyemaian benih budi pekerti dengan cara yang kedua, memperlakukannya

Jika keluarga sukses mendidik budi pekerti, berarti keluarga telah memenuhi peranannya sebagai lembaga pendidikan terkecil yang menentukan nasib bangsa. Kesalahan orang tua dalam menyemaikan budi pekerti bisa menjadi bumerang bagi keluarga.

Mengangkat kasus ini ke pengadilan seolah melindungi DN tetapi sebenarnya menganggu pergaulan, pendidikan watak, pendidikan tata kramanya, dan pendidikan moral social anak.

DN bisa berkembang sebagai anak yang merasa lebih kuat dibanding anak seusianya. Karena kepercayaan diri yang berlebih, bisa saja dia meremehkan orang lain, termasuk orang yang lebih tua. Tentu saja ini menggangu pergaulannya. Teman-temannya jadi hati-hati bermain dengannya. Akibatnya sang anak bisa ditinggalkan teman. Sangat memprihatinkan jika ia terasing di lingkungan anak-anak.

Demi mendapat penyelesaian yang terbaik kita harus memahami masalah ini. Guru, orang tua kedua belah pihak harus berpikir jernih.

Apa yang dilakukan oleh DDY menyengatkan lebah ke pipi DN adalah atas dasar ketidaktahuannya tentang akibat yang akan dialami oleh DN. DDY melakukan hal ini hanya sebagai bentuk permainan. Sebenarnya si DDY ingin bermain tetapi ia bermain dengan cara yang keliru. DDY melakukan kesalahan karena ketidaktahuan, bukan atas kejahatan. Yang perlu dilakukan oleh orang dewasa adalah memahamkan kepada si anak bahwa menyengatkan lebah adalah perbuatan berbahaya dan dapat mengakibatkan sakit bagi orang lain.

Ajak si anak pelaku untuk menjenguk sekaligus melihat si penderita sakit akibat sengatan lebah. Dengan melihat sendiri luka bengkak di pipi si penderita, diharapkan akan timbul empati dalam diri si pelaku. Ia juga menjadi tahu akibat dari perbuatannya. Anjurkan anak untuk bersikap kesatria dengan berani meminta maaf karena kesalahan yang ia perbuat. Dalam kasus ini si DDY memang mengaku kapok, tetapi pengakuan kapok bukan atas dasar pemahaman pada masalah, bukan karena empati yang timbul tetapi lebih karena takut akan hukuman, pengadilan, dan penjara.

Untuk si DN, ajari ia untuk memaafkan. Tentu saja kita tidak ingin mendidik anak-anak kita dengan permusuhan dan dendam. Mari kita didik anak-anak kita untuk bergandengan tangan dan memaafkan. Mereka berdua, baik si pelaku maupun si penderita sengatan lebah masih memiliki masa depan panjang. Sudah pasti orang tua sayang kepada anaknya, akan tetapi sikap sayang yang salah tidak akan membantunya, bahkan sebaliknya menjerumuskannya. Mari kita didik anak-anak kita dengan cerdas.

Muhajir Arrosyid – Pengasuh Taman Kreatifitas Karya Anak Kampung (KAK), Karangawen Demak

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 6, 2010, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: