BENING

Tri Umi Sumartyarini

Bening aku menyebutnya. Karena jika ia bercerita, mengurai kata tentang kisah hidupnya, ia bercerita dengan tatapan mata yang bening. Sebening harapan akan kisah hidupnya.

”Kau tahu, Bima. Aku sangat menantikan saat itu,” begitulah kata-katanya yang setiap saat mengalir dari mulut mungilnya. Biasanya aku hanya mengangguk. Mengiyakan semua pendapatnya. Benar atau salah.

Bening, aku mengenalnya sejak kami menyukai guyuran air hujan. Ia lima tahun. Aku dua tahun lebih tua darinya. Ibu Bening, aku memanggilnya tante Sum, selalu memperingatkan aku untuk menjaga Bening. Memastikan bening senantiasa aman di bawah guyuran hujan, sengat sinar mentari, atau halilintar yang memekakkan telinga itu.

”Aku takut Bima, halilintar itu seperti suara monster,” Bening merapat ke tubuhku. Aku masih ingat benar saat itu, sesaat setelah menonton film Ultraman Leo. Hujan dan halilintar mencegahnya pulang dari rumahku. Bening terbiasa bertanya kepadaku tentang soal-soal yang rumit. Lalu aku pun akan memeluk tubuhnya dan meredam ketakutannya.

”Jangan takut, cuma halilintar.”

Aroma helai-helai rambut wangi memenuhi rongga hidung.

”Nanti kau akan terbiasa dengan suara ini. Karena ia adalah temanmu. Kau tahu apa maksudnya?”

Bening menggeleng kosong.

”Halilintar hanya ada ketika hujan mengguyur. Halilintar itu teman hujan. Kau tahu warna hujan?”

”Tidak.”

”Hujan berwarna bening, seperti namamu,”

”Oooo,” Bening mengangguk. Entah mengerti atau mungkin tidak ingin melanjutkan percakapan ini. Maka ia hanya mengangguk setuju saja. Selebihnya kami terdiam. Menikmati suara tetes air sekaligus gelegar halilintar. baca selengkapnya

****

Namun, akhir-akhir ini mata Bening tak secerah dulu. Matanya lebih sering redup. Mungkin air bening itukeruh oleh harap yang tak kunjung datang. Atau kelelahan setetes embun yang menunggu matahari yang tak kunjung berbinar. Sinar matahari yang tersapu kabut putus asa.

”Aku sudah mengontaknya beberapa kali, Bima,” katanya suatu ketika di taman tempat kami biasa menghabiskan senja.

”Kapan terakhir kali kau menghubunginya?”

”Sebulan lalu, melalui surat.”

”Kenapa tidak melalui telephon? Kau biasa menghubunginya melalui telephon kan?”

”Pemilik flat mengatakan ia sudah tidak tinggal di flat itu lagi.”

”Alamat baru?”

Bening menggeleng.

”Lalu kau kirim surat itu lewat mana?”

”Kampus.”

Bening bercerita tentang kekasihnya yang sedang belajar di Australia. Aku ingat dulu, ketika awal-awal ia memadu kasih dengan Banyu, kekasihnya itu. Tak ada hari tanpa cerita-cerita lucu tentang Banyu, tentang keromantisannya, tentang kecemburuannya, tentang kerling mata yang menggemaskan, tentang semua-mua. Hanya tentang Banyu.

Kini, termasuk cerita tentang kemisteriusan Banyu yang menghilang. Padahal dulu ketika awal-awal sekolah ke negeri kanguru, Banyu masih sering menyambangi Bening lewat semua arah. Lewat surat, telepon, bahkan seluler. Namun, kini entah kenapa, Banyu tak ada kabar lagi, bagai ditelan bumi. Bening kelimpungan mencarinya.

Sebenarnya aku sudah lama menaruh hati kepada Bening. Sejak lama sekali. Sejak guyuran air hujan kami nikmati bersama-sama, belasan tahun yang lalu. Aku pendam perasaan ini rapat-rapat. Setiap kali jika ia mulai bercerita tentang Banyu, Bening selalu berkata bahwa aku kakaknya yang baik, yang mau mendengarkan setiap ceritanya.

”Kakakku yang baik, maukah kau mendengarkan ceritaku? Ini tentang Banyu,” Begitu setiap kali Bening akan memulai ceritanya.

Sudah berkali-kali aku mencoba mengutarakan rasa. Tapi Bening matanya itu itu selalu menghalangiku untuk berkata yang sesungguhnya. Bening matanya selalu memintaku untuk tetap berada di tempatku saat ini, tempat yang nyaman untuknya menyandarkan bahu dan mengurai bening air mata.

Namun, kali ini aku mencoba berani. Ini saat yang tepat. Banyu sudah lama tidak mengirim kabar. Kemungkinan Bening sudah dilupakan. Mungkin hati banyu sudah tertambat pada yang lain. Mungkin sudah tidak tahan berpacaran jarak jauh. Bukankah melelahkan? Berkomunikasi tanpa melihat wajah seseorang yang dicintainya. Tentu membosankan jika ngobrol tanpa mengetahui ekspresi dari lawan yang diajak mengobrol. Bukankah saat ini aku yang lebih pantas mendampingi Bening? Karena hanya akulah orang yang selalu bersedia mendengarkan ceritanya, hanya aku yang bersedia mengusap air matanya, dan hanya aku yang mengikuti tawanya jika ia bertutur kisah manis. Hanya aku yang tahu ekspresi wajah Bening saat mengobrol.

Lalu, suatu sore. Aku putuskan mengatakan yang sesungguhnya. Ya, saat ini memang tepat. Ketika senja menjemput siang untuk segera pulang. Saat seperti ini saat terbaikku bersama Bening. Di taman kota tempat kami biasa bertemu. Seperti biasanya.

Aku menunggunya di bangku panjang. Seperti biasa. Menunggunya dengan sedikit kecemasan. Di depan terlihat jelas matahari yang sudah berwarna jingga. Sebentar lagi tenggelam di balik gedung-gedung menjulang.

Aku berharap segala yang terjadi sesuai yang kuinginkan. Bening datang, ia mengenakan gaun putih sepanjang dengkul berbahan satin. Di pinggangnya melingkar sebuah pita merah jambu dengan simpul manis di samping. Simpel tapi menarik. Sepatu yang dikenakannya putih, serasi dengan gaun yang dipakainya.

Apa ini suatu pertanda kalau ia sudah tahu apa yang akan aku utarakan dan ia akan menerima? Tentu tidak berlebihan, berdandan secantik mungkin untuk merayakan kebahagiaan karena mendapat kekasih baru.

”Tidak biasanya kau secantik ini, Bening,”

”Ah, kau mencoba merayu. Kebiasaan dari dulu,”

Bening duduk di samping. Meletakkan tasnya. Angin sore semilir menerpa wajahku. Angin ini pula yang mengusap lembut rambut panjang Bening yang dibiarkan terurai. Senyap.

”Bima,”

Aku menoleh ke arah Bening. Ah, mata itu. Jantungku semakin berdebar. Aku selalu tidak kuasa menatap mata itu lama. Tapi kali ini aku bertahan menatap mata Bening lama. Mencoba membaca apa yang dirasakannya. Kosong tak ada apa-apa.

”Ya,” jawabku terbata.

”Sore ini aku akan pergi ke bandara,”

”Untuk apa? Menjemput saudaramu?”

”Bukan, Banyu akan datang,”

Deg, plas! Jantungku berhenti berdenyut. Ah, Banyu lagi. Kenapa kau menampakkan diri lagi. Bukanah ini saat yang tepat untukku?

”Kau mau menemaniku menemuinya, kan?”

Aku menghela nafas. Berpikir sejenak. Segerombolan burung bangau terbang ke arah selatan. Pulang. Senyap lagi.

”Bima, kenapa?”

”Aku mau pulang,” aku beranjak dari bangku panjang tempat kami duduk. Bening ku tinggalkan. Ia kebingungan. Ponselnya berbunyi dan diangkat.

”Halo, kau sudah sampai?ok,ok,”

Aku berjalan semakin menjauhinya. Beningberanjak dari bangku, memanggilku sekali lagi.

”Bima!”

Bening berlari ke arah berlawanan dengan jalanku.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 19, 2010, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. kisah yang cantik, aku cinta hujan, tapi aku takut halilintar.. hehehe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: