SEPOTONG KISAH UNTUK NANG

Tri Umi Sumartyarini

Langkahku terhenti ketika sesundut api kecil menggigit bagian bawah jempol kaki. Sedikit berjingkat, kaki kiri kugeser. Benda yang membuat telapak jempol agak kepanasan itu aku pungut. Seperempat batang rokok masih setengah menyala berpindah ke tangan. Sesuir asap masuk ke hidung, penanda batang itu masih menyala. Segera ku lempar melalui jendela.

”Adakah orang di situ?”

Tak ada sahutan. Sebentar hanya burung prenjak mencericit terdengar. Seolah mengabarkan bahwa tidak ada orang yang menghuni kamar itu, dan kau hanya bicara sendiri.

Aku terheran, belum pernah ku dapati bau asap rokok dirumah. ”Siapa yang merokok?”

Aku berjalan meraba tembok kamar. Beberapa pakaian tergantung di kapstok. Kuciumi satu persatu baju tergantung. Semua bau asap rokok.

Aku berjalan merambat ke meja. Satu-satunya meja dalam kamar itu. Aku raba seluruh permukaan meja. Tececer abu bekas tembakau yang dibakar. Tak jauh dari situ, sebuah asbak bertengger. Beberapa puntung rokok terserak di atasnya.

Aku berjalan lagi menuju tempat tidur. Setumpuk pakaian kering belum sempat dilipat. Aku meletakkan tubuh di kasur. Meraba-raba sekitar. Aku jumput salah satu baju dan melipat. Menjumput lagi. Aku dapati celana. Aku lipat.

Serpihan-serpihan tanya tetap menggelayut di hati. Siapa yang merokok? Mungkinkah Nila, si sulung? Ah, tidaklah mungkin seorang perawan merokok. Sedari kecil tidak pernah aku ajarkan kebebasan padanya. Atau ia mulai memberontak?

Andai aku dapat melihat semua. Andai aku dapat melihat dari bibir siapa asap putih ini mengepul. Ah, kalau begini penyesalan selalu menggelayut. Mengapa kebutaan ini menimpaku? baca selanjutnya

*****

Aku melepas suami saat angin kering kemarau berhembus kencang. Hanya punggung tegap yang terlihat sesaat sebelum menghilang ditelan kelokan jalan. Di bahu kiri tergantung sebuah tas besar. Celengan jago ia kempit di bawah bahu kanannya.

”Bawalah ini. Pulanglah jika celengan ini sudah penuh,” kataku setengah bergurau malam sebelum keberangkatannya. Aku masukkan bajunya satu-persatu ke dalam tas.

Sebetulnya aku agak sedikit keberatan atas keberangkatannya ke Jakarta. Saat itu baru saja aku melahirkan Nang, si bungsu. Belum genap sebulan, Nang masih merah. Suamiku mengutarakan keinginannya untuk mencari nafkah di Jakarta. Keadaan desa yang kering memaksanya beranjak dari desa dan mendapatkan penghasilan yang lebih menjanjikan.

”Tidakkah kau ingin lihat Nang bisa berjalan dulu?”

”Aku ingin, bu. Kau tahu sendiri kan? Irigasi sudah mengering. Kemarin Pak To ribut-ribut dengan Lek Min. Saling berebut air. Paling sebentar lagi sawah-sawah itu dijual,” katanya sesaat setelah menyeruput kopi tanpa gula. Sebatang rokok ia nyalakan. Asap-asap putih menyembul dari bibirnya yang kehitaman.

Aku menghela nafas. Aku tahu, suamiku hanya buruh tani yang mengerjakan sawah orang lain. Tak ada ijazah buat mencari pekerjaan yang lebih menjanjikan. Sedangkan Nila dan Nang perlu biaya.

Angin di luar berdesir manja. Belaiannya masuk melalui celah tembok kayu. Angin kering kemarau terasa lebih menggigit dari jenis angin apa pun.

”Tapi Nang masih kecil, pak?” suaraku tercekat di tenggorokan. Kutahan air mata agar tidak tumpah.

”Tundalah dulu. Barang sebulan, baru berangkat ke Jakarta.”

ia tak menghiraukan rengekanku demi menunda keberangkatannya. Rupanya ia sudah tidak tahan dengan kemiskinan yang melilit. Keinginannya bekerja di Jakarta tak terbendung lagi. Ia susul teman-temannya yang duluan mencari rezeki di ibu kota. Jadi bakul mie ayam, jualan bakso, ngamplas meuble, buruh bangunan, jadi apa saja asal dapat duit. Katanya uang di sana gampang dapatnya.

Nasib menghempaskan suamiku menjadi pemulung. Ia tinggal di bedeng triplek. Ia sewa bedeng itu 150 ribu perbulan. Bedeng itu dekat gunungan sampah tempat ia mengais rezeki.

Namun, hasil memungut sampah tidak pernah bertahan untuk esok hari. Uang selalu habis pada hisapan rokok. Dalam satu hari 2 bungkus habis ia hisap. Jumlah yang tidak sedikit dibanding keadaan kantong seorang pemulung.

Seharusnya uang-uang itu ia simpan di celengan jago yang aku berikan sebelum berangkat ke Jakarta. Celengan itu akan dibuka jika sudah penuh kelak.

Bulan berlalu. Namun keasyikan suamiku pada rokok tidak berlalu. Ia semakin asyik menenggelamkan diri pada asap-asap putih. Melupakan niat semula mengadu nasib ke Jakarta. Hari-harinya ia habiskan untuk memulung, merokok, dan uangnya habis pada hisapan tembakau.

Pada suatu malam ketika bulan tengah memancarkan sinarnya penuh, suamiku duduk-duduk di bale depan bedengnya bersama temannya. Berbincang tentang nasib yang tak kunjung berubah. Berbincang tentang harga rokok yang setiap hari semakin bertambah.

Tiba-tiba sang suami terbatuk-batuk hebat. Namun, tidak ia ragukan betapa keras batuk itu mengguncang-guncang bahunya. Ia masih saja menghirup batang tembakau. Menghirup lagi dan lagi. Saking hebatnya terbatuk, ia tutup mulutnya agar air ludah tidak tumpah kemana-mana. Betapa terkejutnya ia ketika melihat darah di telapak tangan. Perbincangan antara kawannya terhenti, beralih pada darah di telapak tangan.

”Kau kena asma akut!”

”Kau mengidap sakit paru-paru!”

”Paru-paru mu bolong! Kalau ditambal, penghasilanmu pasti tidak cukup!”

Begitulah teman-temannya menduga penyakit apa yang sedang bersarang di tubuh suamiku itu. Hari-hari berikutnya suamiku tidak bekerja lagi. Badannya yang dulu tegap mulai tak mampu menahan terpaan matahari. Guratan otot yang menyembul kini tak lagi terlihat. Badannya kering.

Kulitnya yang hitam melegam sekarang pucat kuyu. Kerung tempat barnga rosokannya tergeletak di sudut kamar. Ia hanya terkulai di tempat tidur. Ia semakin sering batuk- batuk. Nafasnya tersengal-sengal bila beraktifitas agak berat. Tubuhnya semakin kurus.

Akhirnya suamiku pulang ke desa pada siang yang kering. Aku menyambutnya dengan hati rapuh. Hati-hati ku papah ia masuk kedalam. ia kempit celengan jago kosong dengan tangan kanannya. Tangan kiri mencangklong tas pakaian.

Diletakkannya celengan jago di dipan. Tubuhnya berselonjor di samping celengan. Ia katupkan matanya. Aku duduk di di tepian dipan. Aku pandangi wajahnya yang tirus. Ingin air mata ini tumpah saja.

”Maaf bu, aku pulang,”

”Sudah, istirahat dulu. Aku buatkan kopi,”

Matanya masih terpejam. Sebentar ia batuk-batuk hebat. Ku tinggalkan ia ke dalam. Korden kamar kututup. Kutumpahkan semua tangis dan keluhan pada bantal.

Terpaksalah aku merawatnya di rumah. Pekerjaanku bertambah. Merawat anak dan merawat suami penyakitan. Kujual kambing-kambing untuk berobat ke dokter. Namun, hasil yang diharapkan tidak terwujud.

Suamiku meninggal ketika aku sedang pergi membelikannya obat pereda nyeri dada. Suamiku pergi diiringi air hujan tumpah. Nang dan Nila memeluknya hebat.

******

Dari ruang depan, aku dengar suara langkah kaki menyeret sandal. Aku hampiri suara itu. Meraba-raba tembok rumah. Berjalan menuju ke luar.

”Siapa, Nila atau Nang?”

”Aku, Buk?”

”Nang? Dari mana saja kau? Kau tinggalkan aku sendiri di rumah.”

”Aku membeli rokok.”

”Rokok? Kau sudah mulai merokok rupanya? Siapa yang mengajarimu?”

”Tidak ada,” jawab Nang singkat.

Aku kecewa. Aku ingin berkisah tentang bapaknya, tentang suamiku yang telah meninggal ketika Nang baru bisa belajar berjalan.

”Dengar Nang, aku ingin bercerita,”

”Cerita apa?”

”Nang…,” dan cerita pun mengalir dari bibirku.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Maret 19, 2010, in Cerita Pendek. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: