DONGENG BERSPEKTIF JENDER

Dongeng adalah kawan bagi anak. Dongeng menjadi pengantar tidur bagi mereka. Di sekolah, dongeng disajikan dalam pelajaran Bahasa Indonesia. Bagi orang dewasa, dongeng adalah media yang efektif dalam menyampaikan nilai-nilai budaya dan agama yang luhur yang telah tertanam di masyarakat. Namun, kekhawatiran justru muncul karena ternyata sebagian besar dongeng yang saat ini hidup dan terus dihidupi adalah dongeng dengan stereotip buruk tentang dan bagi perempuan.

Tengok saja dongeng tentang Timun Emas. Dalam kisah ini terjadi perjanjian antara sang ibu dan Buto Ijo. Dengan gegabah, sang ibu menerima persyaratan kejam untuk menyerahkan Timun Emas kepada Buto Ijo saat beranjak dewasa. Jadilah makhluk ibu dianggap sebagai makhluk bodoh dan tidak berkeputusan cerdas.

Pada dongeng Tangkuban Perahu, perempuan diceritakan sebagai perempuan yang ceroboh dalam mengambil keputusan. Menurut cerita, Dayang Sumbi mengucapkan sumpah ketika pintalan benangnya jatuh. Ia bersumpah akan bersedia menjadi istri siapa pun yang menemukan pintalan benang.baca selanjutnya

Naas bagi Dayang Sumbi. Seekor anjing menemukan pintalan benang itu dan menyerahkannya kepada Dayang Sumbi. Demi menepati janjinya, Dayang Sumbi dengan terpaksa menikah dengan anjing itu. Pada dongeng tersebut, sosok perempuan digambarkan sebagai sosok ceroboh dalam mengambil keputusan. Hal ini semakin mengukuhkan pandangan bahwa yang berhak dan lebih baik mengambil keputusan adalah laki-laki.

Sosok perempuan yang ceroboh juga dapat ditemui pada buku Bina Bahasa dan Sastra Indonesia penulis Aswan dkk (Penertbit Erlangga). Pada halaman 61-62 terdapat dongeng berjudul Gara-gara Telur Buaya. Dongeng tersebut berkisah tentang sebuah keluarga nelayan. Keluarga itu miskin. Suatu hari mereka mencari ikan di danau. Bukan ikan yang mereka temukan melainkan sebuah telur buaya.

Sesampainya di rumah, sang ibu merebus telur tersebut lalu dimakan oleh sepasang suami-istri keluarga nelayan itu. Setelah makan telur, mereka berubah menjadi dua ekor buaya. Anak mereka sangat ketakutan ketika mendapati orangtuanya menjadi buaya. Setiap hari, anak mereka menunggui mereka di tepi danau dan berharap mereka akan menjadi manusia lagi.

Dalam dongeng tersebut, sosok ibu digambarkan sebagai sosok yang berkeputusan salah karena merebus telur yang didapatnya dan berujung pada malapetaka. Sekilas dongeng ini mengingatkan pada kisah Adam Hawa yang keluar dari surga. Sumber kesalahan terusirnya Adam dari surga adalah bujukan Hawa untuk memakan buah terlarang, khuldi.

Kesamaan dari kisah ini adalah perempuan diposisikan sebagai sumber kesalahan yang mengakibatkan kesengsaraan.

Akibat negatif

Dongeng dalam Kamus Umum Besar Indonesia yang disusun oleh WJS Poerwadarminta berarti cerita terutama tentang kejadian zaman dulu yang aneh-aneh atau cerita yang tak terjadi benar. Dalam perkembangannya, dongeng menjadi media yang efektif mendidik anak untuk berbuat kebaikan. Selain itu, dongeng juga efektif dalam menyampaikan nila-nilai budaya dan agama yang luhur yang tertanam pada masyarakat.

Dongeng biasanya diceritakan dalam bentuk perilaku binatang yang mempunyai kemampuan seperti manusia, yaitu bisa berbicara dan bertingkah laku layaknya manusia. Tentu ini menjadi daya tarik sendiri karena anak-anak akan terpancing imajinasinya dalam menggambarkan tokoh-tokoh yang disukainya dibandingkan dengan tokoh manusia yang biasa ditemuinya dalam kehidupan sehari-hari.

Dongeng juga sering menggambarkan kehidupan kerajaan yang dipimpin raja laki-laki. Raja adalah sosok yang kuat dan mempunyai keputusan yang penting untuk rakyatnya. Sosok perempuan hanya digambarkan sebagai permaisuri atau istri raja yang tidak mempunyai hak untuk memberi keputusan. Permaisuri harus patuh terhadap keputusan raja.

Pada kehidupan menengah ke bawah, pada dongeng, umumnya perempuan digambarkan sebagai makhluk inferior. Kalau tidak sebagai janda miskin, perempuan digambarkan sebagai pelayan (simbok/mbok emban) yang setia kepada majikan.

Dongeng-dongeng seperti ini memiliki akibat negatif, yaitu pemberian citra negatif kepada perempuan. Karena jenis kelamin perempuan selalu dihubungkan dengan Hawa, di mana dia dianggap sebagai pelaku pelanggaran sehingga Adam dikeluarkan dari surga. Akibat lainnya adalah perempuan dianggap sebagai sosok yang bersikap ceroboh, tidak berpikir panjang, lemah, dan pengambil keputusan yang salah.

Karena pelabelan negatif ini, dalam alam bawah sadar anak akan terpatri bahwa perempuan adalah sosok yang disebutkan di atas. Pemahaman ini akan menemani pertumbuhan dalam hidupnya. Maka sangat mungkin terjadi jika anak-anak akan tumbuh bersama pemahaman bahwa anak laki-laki menganggap dirinya lebih cerdas dan berkeputusan tepat dibandingkan dengan perempuan. Anak perempuan akan memaklumi dirinya sebagai sosok yang lemah dan tidak cerdas.

Alternatif dongeng

Sebagai salah satu agen sosialisasi nilai-nilai budaya, agama, dan moral yang luhur, dongeng sebaiknya bebas dari bias jender. Hal ini bisa dilakukan dengan menyampaikan dongeng-dongeng yang tidak memuat cerita atu tokoh yang bias jender.

Cerita tentang pahlawan-pahlawan perempuan bisa ditampilkan sebagai strategi penetralan dongeng-dongeng yang bias jender. Cerita tentang kepahlawanan Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan Dewi Sartika dapat dijadikan sebagai alternatif lain dari dongeng yang bias jender.

Hal lain yang bisa dilakukan adalah membuat dongeng baru berdasarkan pemahaman tentang jender yang baik. Dalam membuat dongeng harus memuat kesetaraan peran antara perempuan dan laki-laki.

Ada yang berminat?

TRI UMI SUMARTYARINI Pengasuh Taman Kreativitas Karya Anak Kampung Desa Sidorejo, Karangawen, Demak

(Dimuat di Kompas Jateng pda 24 Mei 2010)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 31, 2010, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: