Patriarki, antara Timur dan Barat

BUDAYA Jawa sering dituduh sebagai tempat subur budaya patriarki. Penduduk Jawa mayoritas beragama Islam. Islam juga sering dituduh sebagai agama sumber patriarki. Jadi, orang Jawa yang beragama Islam adalah penganut budaya patriarki pada level tertinggi. Benarkah?

Selama ini, masyarakat memandang wajah Jawa sebagai wajah ketertindasan. Kultur Jawa adalah kultur yang tak memberi tempat bagi kesejajaran antara lelaki dan perempuan. Dalam budaya Jawa, perempuan dituntut memiliki kompetensi tiga ur (sumur, dapur, kasur) atau 3M (macak, manak, masak). Kompetensi itu menuntut perempuan cakap memasak, mencuci, berdandan, dan melayani suami di atas kasur.

Penindasan juga tampak pada pilihan bahasa untuk menyebut perempuan dalam bahasa Jawa. Seperti disampaikan Junaidi Abdul Munif dalam artikel “Mencari Akar Patriarkisme” (Suara Merdeka, 24 Maret 2010), kultur Jawa menyebut perempuan adalah wadon. Wadon berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti abdi, abdi dari lelaki. Sebutan lain adalah wanita, akronim dari wani ditata.
baca selanjutnya

Lengkaplah kepatriarkian orang Jawa karena memeluk agama Islam. Islam dianggap mendukung pertumbuhan subur budaya patriarki. Sejumlah ayat Alquran dan hadis yang dipahami secara tekstual menjadi senjata untuk menomorduakan perempuan. Salah satu ayat, misalnya, acap dipergunakan untuk menunjukkan bahwa perempuan tak pantas menjadi pemimpin.

Berbanding terbalik dengan budaya Timur, Barat selalu diagungkan menjamin perempuan sejajar dengan lelaki. Budaya Barat yang mengedepankan kebebasan dipandang sebagai sudah menganggap patriarki sebagai budaya kuno. Kultur Barat modern dianggap jauh lebih toleran dan memberikan posisi lebih baik kepada wanita.

Apakah benar budaya Jawa sebagai sampel budaya Timur menjadi budaya tempat berkembang budaya patriarki, sedangkan Barat sebagai muara negara yang sama sekali tak mengembangkan budaya patriarki? Pendapat itu tak sepenuhnya benar.

Dulu dan saat ini patriarki masih ada di segala tempat, tak peduli Timur dan Barat. Perlu diingat, kelahiran feminisme di Inggris karena budaya patriarki yang kental. Saat ini, budaya patriarki di belahan dunia Barat dapat ditemukan melalui bahasa yang digunakan, misalnya bahasa Inggris.

Bahasa tak semata-mata berfungsi sebagai cerminan masyarakat. Lebih dari itu, menurut pendapat Graddol (1989: 14), bahasa diaplikasikan secara kuat dalam konstruksi dan pelestarian pembagian sosial dan ketidaksetaraan.

Bahasa Inggris

Banyak contoh dalam bahasa Inggris yang menunjukkan ketidaksejajaran kata-kata. Sebutan kata ganti untuk lelaki dan perempuan dibedakan. Kata-kata yang bermakna lelaki mendapat perlakuan “umum”, yaitu man yang diartikan manusia secara general. Sebaliknya, kata-kata yang bermakna perempuan mendapat perlakuan khusus, yaitu woman yang hanya diartikan sebagai manusia berjenis kelamin perempuan. Itu menunjukkan perempuan diperlakukan sebagai makhluk khusus.

Pada kata atau istilah yang dikenankan pada perempuan harus ditambah pemarkah atau marker tertentu. Pada kata woman: Miss/Mrs/ Ms untuk menyebut perempuan berstatus nona (belum menikah) atau yang sudah menikah. Adapun laki-laki dewasa hanya memiliki satu pemarkah di depan nama, yaitu Mr, yang boleh digunakan lelaki yang sudah menikah atau belum menikah.

Itu menunjukkan di Barat sekalipun, lelaki mendapat keistimewaan. Seorang lelaki dewasa begitu saja dapat menggunakan gelar Mr di depan nama, sedangkan wanita dewasa tak dapat langsung menggunakan gelar seperti lelaki. Mereka harus memilih satu dari tiga: Miss, Mrs, atau Ms. Itu menunjukkan ketidaksamaan yang bersumber dari perlakuan terhadap perempuan dan lelaki tidak sama.

Perlakuan khusus lain adalah panggilan untuk perempuan bersuami. Perempuan yang bersuami biasanya dipanggil dengan nama belakang keluarga sang suami. Seumpama suami memiliki nama John Smith, panggilan untuk sang istri mengikuti nama belakang suami. Selanjutnya dia dipanggil Mrs Smith. Bahkan nama Smith juga digunakan untuk memanggil sang anak. Itu menunjukkan istri tak punya kemandirian ketika sudah menikah. Untuk urusan nama saja istri harus bergantung pada suami, apalagi keputusan lain yang menyangkut diri dan anak-anak mereka?

Sejatinya patriarki ada di belahan dunia mana pun, tak peduli Barat atau Timur. Menyikapi perkara itu tidaklah perlu menyalahkan dari mana akar patriarki berasal dan bagian mana yang paling tumbuh subur.
Masyarakat kita sering menganggap budaya kita tidak lebih luhur daripada budaya Barat.

Tidak etis hanya menyalahkan salah satu tempat tumbuh subur budaya patriarki. Saat ini, yang terpenting adalah melakukan banyak penelitian untuk mencari pemecahan untuk menolak budaya patriaki, disesuaikan dengan akar kebudayaan dan sosial tempat masing-masing. (53)

Tri Umi Sumartyarini, pengasuh Taman Kreativitas Karya Anak Kampung (KAK) Sidorejo, Karangawen, Demak

(Dimuat di Suara Merdeka 26 Mei 2010)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 31, 2010, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: