BUKU BUKAN SATU-SATUNYA

Muhajir Arrosyid

Konon buku adalah jendela ilmu. Tokoh-tokoh besar selalu bermesraan dengan buku. Sebagai contoh, Soekarno dan Hatta, proklamator negara kita. Dalam catatan sejarah, orang yang menulis adalah orang yang akan tercatat dalam sejarah. Benar apa yang dikatakan oleh Muhidin M. Dahlan seorang aktifis buku bahwa yang tertulis akan mengabadi dan yang terucap akan menghembus bersama angin.

Namun demikian, penulis menemukan kasus bahwa buku menjadi jarak antara manusia dengan lingkungannya. Buku juga membuat manusia tidak percaya diri.

Suatu ketika pelulis melakukan penelitian terhadap anak-anak tentang bagaimana mereka berusaha mendapatkan pengetahuan dan menjawab pertanyaan. Penelitian tersebut dilakukan terhadap anak-anak desa di Kabupaten Demak dan di Kota Semarang dari tingkat pendidikan Sekolah Dasar sampai SMA. Terhadap anak desa, penulis memeinta mereka untuk menjawab tiga pertanyaan. Pertanyaan tersebut antara lain: Bagaimna cara menanam jagung? Bagaimana mengolah padi menjadi beras? Bagaimana memasak sayur kangkung?

Apa yang mereka karjakan? Sebagian besar mereka meminta waktu untuk membuka buku. Anak-anak itu mencari jawaban di buku. Tidak salah memang, akan tetapi ini memperlihatkan kepada kita betapa tidak percaya dirinya mereka atas mengetahun yang sebenarnya mereka miliki.

Mereka adalah anak-anak petani yang setiap hari melihat dan tidak jarang terlibat dengan aktifiatas menanam jagung, mengolah padi, dan menyayur kangkung. Anak-anak itu harusnya dapat menjawab ketiga pertanyaan itu tanpa membaca buku.

Anak-anak itu tidak memiliki kebaranian untuk mengungkapkan pengetahuan yang mereka miliki karena tidak yakin akan kebenarannya sebelum membaca buku. Buku menjadi semacam piadel, aji-aji, jimat. Seseorang akan percaya diri saat memegangnya, dan merasa khawatir jika benda tersebut tidak di tangan. Saat tidak menemukkan jawaban di dalam buku, anak-anak itu berkata “Di buku tidak ada Mas.”

Bukankah jika anak-anak itu benar-benar tidak dapat menjawab ketiga pertanyaan tersebut, mereka dapat bertanya kepada siapapun yang mereka anggap mampu menjawab, misalnya bertanya kepada orang tuanya yang petani? Tetapi hal tersebut tidak mereka lakukan.

Terdapat dua jawaban kenapa anak tidak mencari jawaban kepada orang tuanya yang petani prihal menanam jagung. Pertama, mereka menganggap bahwa orang tuanya dan tetangganya yang petani bukanlah sumber referensi yang baik. Kedua, sebagian besar menjawab ini, karena tak terpikirkan oleh mereka bahwa mereka akan mendapat jawaban dari para petani.

Ternyata hal ini tidak hanya terjadi pada anak-anak yang duduk di Sekolah Dasar, anak tingkat SMA bahkan mahasiswa yang belajar di perguruan tinggipun masih banyak melakukannya.

Buku sebagai jimat

Ada dua sebab kenapa buku menjadi jarak antara manusia dengan lingkungan dan membuat manusia tidak percaya diri. Pertama, pembelajaran yang terjadi dalam pendidikan kita masih terlalu teoritis dan seringkali terpisah dengan kondisi lingkungan. Pendidikan hanya berhenti pada definisi-definisi mati yang tertera dalam buku. Kedua, terlalu kramatnya buku.

Dalam sejarah peradaban manusia buku menjadi barang yang keramat. Bagi penguasa buku tidak kalah menakutkan dibanding tajamnya peluru. Maka sering kali kita dengar pelarangan-pelarangan terhadap terbitan buku.

Isi buku sering dipahami sebagai kebenaran yang mutlak yang tak terbantahkan isinya. Ada dosen yang meminta jawaban mahasiswa persis yang tertera di dalam buku, jika ada satu kata yang tidak sesuai dengan isi buku maka jawaban itu salah.

Buku kita perlakukan sebagai kitab suci yang tidak boleh kita otak-atik, kita bongkar-bongkar, dan kita pertanyakan lagi. Pelarangan terhadap buku membuktikan bahwa orang yang melarang mengakui keampuhan buku.

Apa sebenarnya buku itu? Buku sebenarnya adalah pendapat seorang individu tentang temuannya, tentang simpulannya, tentang pengetahuannya, tentang pengalaman yang ditulis, dicetak, dan disebarluaskan. Sebenarnya semua individu berhak menulis buku. Anak-anak kampung dapat menulis bagaimana menanam jagung. Tukang sapu pasar boleh menulis tiknik menyapu dengan cepat dan bersih. Pengemis dapat menulis tentang pengalamannya mengemis.

Namun pada kenyataannya hanya kalangan tertentu yang dapat menulis buku dan diterbitkan. Ini dapat dipahami karena pertimbangan penerbitan buku oleh penerbit tidak semata-mata masalah ilmu tetapi juga laku.

Pengalaman, pengetahuan, hasil penelitian itu setelah dicetak dan menjadi buku dijadikan referansi, menjadi rujukan oleh orang yang ingin berpendapat. Sangat mungkin terjadi kesalahan dalam buku. Maka kita hurus kritis membaca buku. Guru-guru juga perlu mulai mengajak muridnya untuk kritis terhadap buku. Jika perlu murid diajak menguji kebenaran isi buku. Guru juga perlu memberitahu kepada murid bahwa buku hanyalah salah satu referensi dan  masih ada referensi lain.

Menata Keberanian

Keberanian adalah awal dari kesuksesan pembelajaran. Anak-anak tidak akan dapat menyerap ilmu dengan baik jika dihinggapi perasaan takut. Tapi yang sering terjadi di dalam kelas saat ini adalah menakut-nakuti anak.

Melarang anak dan menakut-nakuti adalah melumpuhkan keberanian anak. Anak menjadi takut untuk mencoba.

Muhajir Arrosyid – Editor IKIP PGRI Semarang Press, pengasuh taman kreatifitas Karya Anak Kampung (KAK) Sidorejo Karangawen Demak.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 3, 2010, in Opini and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: