DARI LUNA, ENAM MENIT UNTUK INDONESIA

Maafkan aku Tunu, Saudaramu ini baru sempat menjengukmu lagi. Tetapi jangan khawatir. Aku tak mungkin melupakanmu. Kau adalah rumahku tempatku pulang. Apa kabarmu Tun? Hiruk pikuk telah terjadi di sekeliling kita, sudah lama kita tidak mengobrolkannya. Aku terbawa arus deras dunia yang buru-buru, cenderung tergesa-gesa. Imajinasi tentang target-target, capaian-capaian.
Aku ingin bersandar sejenak dibahumu.
Lagi-lagi negeri kita geger Tun. Negeri kita mungkin adalah negeri yang paling suka geger. Jika sunyi tenang segera di ciptakanlah kegegeran. Entah yang digegerkan itu masalah penting atau tidak. Yang penting geger, hidup tak terasa hidup tanpa geger.
Si Biang geger kali ini adalah sebuah gambar bergerak di sebuah akun Facebook. Hanya gambar bergerak Tun. Gambar-gambar seperti itu sudah sekian tahun lalu ada di jaringan internet. Dan sebenarnya tidak ada alasan kita terkejut.
Seorang teman bicara padaku, katanya kegegeran itu karena gambar bergerak itu adalah persenggamaan Si Ariel dan Si Cantik Luna dan Cut Tari. Menurutnya hal tersebut tidak layak dilakukan oleh public figure seperti tiga orang tersebut. Public figure adalah panutan, kelakuannya akan ditiru oleh khalayak.
Pernyataan tersebut aneh Tun. Bagaimana tidak, menurutku persenggamaan seperti itu tidak hanya tidak layak dilakukan oleh ketiga artis tersebut, tetapi tidak layak dilakukan oleh masyarakat. Kedua Tun, siapa suruh menjadikan para artis tuntunan.
Kasus video itu wajar-wajar saja. Tidak ada yang aneh. Aktor dan artis video tersebut tidak mengajari kita, tetapi cerminan dari masyarakat kita, cerminan dari generasi kita. Jika mahasiswa saja melakukan demikian, apalagi artis. Jika pegawai kantor, DPR, pelajar melakukan seperti itu apalagi artis. Hal seperti dalam video ini terjadi di sekeliling kita, bahkan mungkin juga kita lakukan.
Kita sudah kenal bagaimana glamornya kehidupan artis. Para artis itu seolah-olah sudah tidak tergantung kepada apapun, tidak butuh orang tua, tak butuh agama. Mereka adalah makhluk-makhluk mandiri yang dapat menghadirkan kesenangannya sendiri. Maka bebas-bebas saja merekam persenggamaanya. Meskipun tak semua artis begitu.
Maka bersyukurlah aku yang memiliki banyak keterbatasan, masih takut jika dimarahi orang tua, masih takut jika meninggalkan sholat.
Gemparlah gempar. Banyak orang mengutuk tetapi diam-diam mencarinya, melihatnya dan menikmatinya. Pemilik warnet dan operator seluler mendapat untung limpahan rizki dari kasus ini. Entahlah Tun, sebenarnya mereka mengutuk, menikmati atau kedua-duanya. Ada yang bilang begini Tun, “Jika yang melihat saya tak apa-apa. Saya bisa menjaga diri. Tapi jika dilihat orang lain yang tak kuat, wah bahaya.” Pernyataan seperti itu mirip dengan pernyataan, “Jika yang koropsi saya tak apa, negara ini tak akan kere. Tapi jangan semua orang koropsi, negara bisa kere. “
Di status facebook aku membaca “Luna kok hanya enam menit sih, tanggung.” Ada pula yang bilang “Arial aji-ajimu kui opo, mbok aku disilihi.” Aku curiga Tun. Para lelaki yang marah-marah itu jangan-jangan cemburu, kok Ariel ya, kok tidak saya ya. Demikian juga yang perempuan, kok Luna ya, kok tidak saya ya. Tetapi semoga kecurigaan saya ini dibantah oleh para lelaki dan perempuan Indonesia.
Sekarang ini Ariel, orang yang telah menghibur kita, yang telah kita nikmati secara gratis itu telah mereka penjarakan. Kita ini orang yang tidak dapat melindungi orang yang telah menghibur kita. Betapa aku dan kamu ini adalah orang yang tak tahu diri Tun. Sudahlah sudah aku tak mau melanjutkan perdebatan ini. Aku takut disalah pahami.
Seburuk-buruknya kejadian, kita harus dapat mengambil pelajaran darinya. Lalu apa yang dapat diambil pelajaran dari kasus ini Tun? Menghiburlah dengan cara lain. Menghibur dengan cara Luna dan Ariel itu membuat masyarakat bingung – mengutuk sekaligus menikmati.
Jika boleh bersaran, lebih baik tidak zina. Jikalau berzina, tak usah di rekam segala. Jikalau direkam, tak usah disebarkan. Jika kamu berdosa, jangan mengajak kami untuk berdosa toh ya.
Musim video begini lebih baik puasa, puasa mata, puasa telinga. Agar tak tergoda untuk membuka yang tidak-tidak saat dalam jaringan internet. Sudah Tun, aku berangkat dulu ke pengajian Gambang Syafaat. Sampai berjumpa lagi. (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 3, 2010, in Kisah Tunu. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: