MBAH KO

1 Maret 2010

Para pembaca sekalian, kali ini aku akan bicara tentang Mbah Ko, lengkapnya Mbah Khosi’in. Jangan merasa bersalah jika tidak mengenal beliau. Beliau hanya dikenal oleh Masyarakat Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Demak.

Di bawah pohon ringin Mbah Ko dimakamkan. Seminggu sebelumnya ia mengalami kecelakaan. Pada sebuah malam setelah memimpin Tahlil di acara khajatan yang diselenggarakan warga, beliau disambar sepeda motor minus lampu.
Datang ke acara pemakaman Mbah Ko membuat diriku berfikir terus tak habis-habisnya. Apa hebatnya Mbah Ko ini hingga pelayatnya banyak sekali. Yang mengantarkannya ke makam dari berbagai kalangan. Dari pejabat sampai petani, dari anak-anak sampai aki-aki, dari preman sampai kyai. Upacara yang dilaksanakan pukul 10.00 WIB itu lebih ramai daripada saat dia mantu.

Sehari-hari Mbah Ko bertani. Selama bertahun-tahun beliau menghidupi keluarga hanya dengan hasil tani. Baru setelah semua anaknya mentas, menikah maksudnya. Beliau mendirikan warung.

Seminggu dua kali beliau mengajar di Madrasah. Mengajar di Madrasah ini sudah beliau laksanakan sejak tahun 60-an. Setiap hari habis magrib, beliau marai ngaji. Lima kali dalam sehari beliau menjadi imam di mushola.

Mengajar di madrasah sama sekali tidak digaji. Hanya di tahun-tahun terakhir ini setiap lebaran mendapat sarung. Begitu pula mengajar mengaji, tidak serupiahpun ia dibayar. Coba mari kita hitung seandainya apa yang dilakukan oleh Mbah Ko ini dibayar, wah sudah berapa duit yang beliau terima. Memberi pelajaran mengaji, jika setiap malam ia mengajar orang sepuluh saja, dan setiap pertemuan membayar sepuluh ribu, ini seperti kursus prifat matematika di Semarang, berapa uang yang beliau terima dalam setahun? Belum lagi mengajar di madrasah.

Mbah Ko sudah mulai mengajar di Madrasah sejak tahun 60-an. Sudah berapa manusia yang menjadi muridnya? Sudah berapa orang yang mendapatkan ilmu yang beliau berikan? Murid-murid Mbah Ko tersebut ada yang sudah jadi kepala sekolah, ada yang sudah jadi DPR, ada yang sudah jadi camat, ada yang sudah jadi mandor, dan sebagainya. Tetapi aku khakul yakin, Mbah Ko tidak pernah menghitung seperti yang aku lakukan di atas.

Mbah Ko tidak pernah membangun brand, tidak pernah internetan apalagi masuk TV. Carilah beliau di facebook, di jamin tidak ketemu. Saat mengajar di madrasah pakaian yang dikenakan juga sudah kumal, warnanya yang putih sudah menjadi coklat, peci yang mulanya hitam juga sudah berubah merah.

Hidup Mbah Ko ini sungguh setatis, tidak maju. Dari dulu sejak dia berkeluarga hingga Allah SWT menjemputnya yang dikerjakan tetap. Bertani, mengajar di madrasah, menjadi imam, dan sesekali zaroh walisongo. Satu-satu prestasinya mungkin hanyalah naik haji dua tahun yang lalu bersama istri.

Mbah Ko tidak menerapkan ilmu masa kini. Bahwa umur sekian orang harus sudah mencapai prestasi sekian, umur sekian sudah memiliki barang sekian, sampai pensiun dengan santai dan mati dalam keadaan tentram.
Kecelakaan

Kabar kecelakaan semakin sering saja aku dengar. Arus jalan raya lebih menakutkan daripada arus sungai. Jalan raya telah menjadi tempat angker, mengalahkan gunung, hutan, dan kuburan.

Sejak pembangunan digalakkan, sebagian sedulur-sedulurku beralih bekerja di Semarang sebagai buruh bangunan. Ini karena sawah mereka tidak cukup menghidupi. Mereka mengayuh sepeda dari Karengawen Demak sampai Semarang setiap hari pulang dan pergi. Mereka terkenal dengan sebutan pasukan takut matahari karena jika pagi saat matahari di timur, mereka mengayuh sepeda ke barat. Dan jika matahari ke barat mereka mengayuh sepeda ke timur.

Kridit motor sekarang gampang, punya uang satu juta saja sudah dapat membawa pulang motor baru. Mereka mulai mengistirahatkan sepedanya. Betapapun mengayuh sepeda antara Semarang sampai Demak setiap hari lelah juga.
Banyaknya jumlah kendaraan yang lalu lalang di jalan raya menunjukkan kemajuan bangsa kita. Warga negara kita sudah banyak juga yang mampu membeli mobil, artinya kemakmuran sudah hinggap pada kehidupannya.

Di jalan raya kita sebenarnya dapat melihat watak manusia. Jika kita sedang berkendara dan disalip orang dengan kecepatan tinggi, apalagi dengan meliuk-liuk itu menunjukkan bahwa masyarakat kita sebenarnya kompetitif. Tidak seperti yang dituduhkan selama ini, bahwa jiwa kompetisi kita rendah.
Apakah Anda pernah hampir disambar oleh kendaraan yang bergerak dari arah berlawanan? Pengendara ini merebut ruang orang lain. Ia keluar jalur yang telah disediakan. Karena jiwa kompetitif tadi mereka menghalalkan segala cara, merebut ruang orang lain. Jikapun jadi pejabat, kemungkinan orang-orang seperti ini akan melukan korupsi.

Pernahkah Anda melihat orang yang mengendarai sepeda motor sambil menjawab SMS? Mereka adalah orang-orang efisien, jika sambil mengendarai motor saja bisa SMS mengapa harus berhenti sejenak? Menghabiskan waktu saja.

Aku pernah bangga melihat anak-anak sekolah berkendara dengan kecepatan tinggi. Sambil menyalip kesana kemari. Aku memperkirakan juara balap dunia akan diraih oleh atlit Indonesia. Bayangkan saja jika anak-anak berlatih setiap hari saat berangkat dan pulang sekolah. Beberapa tahun yang akan datang mereka pasti menjadi pembalap hebat. Tetapi kasihan juga saat anak itu tergelepar menabarak sesuatu. Semakin sedih jika yang ditabrak adalah orang yang sudah sangat berhati-hati di jalan seperti Mbah Ko.
Perjalanan di jalan raya itu tidak jauh beda dengan perjalanan kita berbangsa. Kadang kadang terjadi kecelakaan. Kita sebagai pengguna jalan harus menyadari bahwa pengguna jalan tidak hanya diri kita sendiri. Sikap ngawur yang kita lakukan tidak hanya berakibat buruk pada diri kita tetapi juga berekibat pada orang lain yang tidak bersalah.

MbahKo
Mbah Ko tidak membangun Brain, beliau tidak pernah memasang gambar di pinggir alan untuk memamerkan kebaikan yang pernah ia lakukan. Tetapi saat beliau pergi ratusan orang rela menghentikan agendanya untuk mengantarnya menghadap Tuhan.

Sampai hari ini saat membayangkan almarhum, yang terlintas beliau tersenyum. Itu karena setiap hari yang aku lihat darinya adalah senyum. Melepasnya sungguh aku merasa riang. Melepas beliau di pemakaman hanya seperti mengantarnya di pinggir jalan untuk selanjutnya diangkut oleh bus. Belaiu berjalan dengan senang. Kami melambaikan tangan. Selamat jalan guru.
Muhajir Arrosyid – Pengasuh Taman Kreatifitas Karya Anak Kampung (KAK) Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Kabupaten Demak.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Agustus 4, 2010, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: