DI RERUMPUTAN BASAH KAMI MENGINJAK TINJA

Kepada pembaca di manapun berada. Mungkin sekarang Anda sedang di pojok kamar. Mungkin Anda sedang kesepian di keramaian, atau di kolong-kolong jembatan. Kejadian yang ingin aku ceritakan ini telah berlangsung sekian tahun yang lalu, waktu tetapnya aku lupa, yang aku ingat pagi itu adalah satu asyuro.

Pagi hari sesuai jadwal yang direncanakan kami menuju sungai banjir kanal timur Semarang. Aku dengan beberapa teman antara lain; Bima, Elina, Farid, Priyo, Era, Eko dan Rini berniat menyusuri sungai itu. Rencananya sampai laut, meskipun gagal karena sudah kehabisan tenaga di jalan.

Jalan masih sepi. Hanya satu dua pengendara lewat. Toko-toko sepeda dan bengkel-bengkel mobil tutup. Masuklah kami ke tepi singai. Dari jembatan Tanggul Indah (TI) yang jika malam hari digunakan untuk mangkal Mbak-Mbak cantik, kami memulai perjalanan.

Tujuan kami adalah melihat kota dari sudut pandang lain. Sudut pandang yang tak biasa digunakan oleh orang lain. Jika orang lain biasa melihat sesuatu dari mukanya, kami ingin melihat dari punggungnya. Jika orang lain melihat rumah dari empernya, kami coba melihat rumah dari dapurnya. Untuk apa? Ah.., kami tak tahu untuk apa. Siapa tahu dapat sesuatu.

Kami menyibakkan rumput dan belukar. Sandal dan celana yang kami kenakan kuyup. Wah kami menemukan sesuatu dan menutup hidung. Tinja manusia adalah benda pertama yang kami temukan.  Kami harus maklum, yang sedang kami telusuri adalah belakang, di ruang yang memang tempatnya benda-benda kotor di taruh.

Kami melanjutkan perjalanan, menyibakkan rumput belukar. Hem……..kami dikejutkan oleh susuatu di tempat sampah itu. Sesosok manusia sedang tidur. Kami berjalan sambil berjingkat, takut membangunkan tidurnya.

Tidak ada sepuluh meter dari tempat orang tidur itu kami menemukan gubuk yang terbuat dari bambu dan kardus. Gubuk itu berukuran tiga kali tiga meter. Seorang tua keluar dari gubuk itu. Kakek dan nenek. Mereka kaget dengan kedatangan kami. Tanpa ditanya kami berkata. “Kami hanya main Bu, Pak” Dan Akhirnya kami ngobrol. Mereka berkata tidak sepanjang hari tinggal di situ. Di tepi sungai itu mereka memelihara kambing. Ada puluhan kambing yang mereka pelihara. Mereka juga membuat kandang yang cukup luas. Mereka mendatangkan kambing-kambing tersebut dari desa untuk dibesarkan dan dijual menjelang Hari Raya Kurban. Kami sempat minum air putih dan pisang godok suguhan mereka.

Kami menyebrang sungai yang airnya keruh. Kami ikhlaskan setenag tubuh kami basah. Di sungai bagaian sebrang kami menemukan manusia lagi. Pembuat batu bata. Mereka adalah pekerja. Asal mereka dari Desa Karangsono, Kecamatan Mranggen, Demak. Kata mereka pemilik usaha ini adalah pegawai pengairan. Cukup lama kami di area pembuatan batu bata tersebut. Hingga sempat praktik mencetak batu bata.

Di perjalanan selanjutnya kami menemukan pengembala kerbau. Kami bertingkah seperti koboi. Ada juga peternak bebek, bebeknya buannyak sekali. Yang kami temui terakhir kali adalah sekumpulan orang yang bermain burung dara keplekan. Orang-orang itu tertawa melihat kami yang kotor terkena lumpur. Mereka mengira kami kungkum semalaman, tirakat malam satu syuro. Pagi itu kami juga diberi kesempatan untuk melihat secara dekat orang-orang yang tinggal di bawah jembatan, berakrap-akrap ria dengan anjing peliharaan mereka. Ada yang memasak, ada yang mencari kutu. Masih ada senyum di kolong jembatan.

Kami berembuk dan memutuskan menyudahi perjalanan. Setumpuk pengalaman kami dapat. Kami berandai, pemerintah dan DPR  juga mau melihat dari sudut pandang yang berbeda, dari dapur, dari ruang belakang. Pemerintah, dpr tidak lekas-lekas studi banding ke luar negeri. Studi banding itu bagaikan siswa yang dikasih soal dan tidak lekas mengerjakan. Siswa malah sibuk mencari jawaban teman-temannya. Dan siswa tak dapat menjawab sampai jam pelajaran selesai.

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Januari 4, 2011, in buku harian. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: