TUHAN MAHA TAHU TAPI DIA TAK MELAKUKAN APA-APA

Membaca cerpen Tuhan Maha Tahu Tapi Dia Menunggu, ada semacam rasa kegelapan yang menyelimuti. Ada semacam protes kepada Tuhan setelahnya. Apakah memang benar tuhan menakdirkan manusia hidup dalam kesia-siaan; dipenjara untuk menebus kesalahan yang tidak diperbuatnya.
Dalam cerpen ini dikisahkan seorang saudagar muda bernama Aksenof. Pada suatu ketika ia pamit kepada istrinya akan mengunjungi pasar malam. Namun, istrinya mencegah karena malam kemarin ia bermimpi buruk; Aksenof pulang ke rumah dan rambutnya telah berubah putih semuanya. Istrinya takut akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkannya.
Namun Aksenof berkilah. Ia tetap berangkat ke pasar malam. Malam pertama ia menginap di suatu pemondokan bersama temannya. Setelah setengah hari ia berencana meninggalkan pondokan. Perjalanan berlanjut. Ia beristirahat kembali di sebuah kedai minuman. Saat sedang beristirahat, tiba-tiba ia didatangi petugas kepolisian. Polisi ini menuduh Aksenof melakukan pembunuhan atas temannya yang tidur saat bersama saat di pemondokan.
Atas tuduhan ini Aksenof dihukum selama 26 tahun. Lama ia berada di dalam tahanan. Rambutnya telah memutih. Janggutnya pun memutih. Tubuhnya tampak kurus dan setiap hari ia hanya brsembahyang. Di penjara ia dikenal dengan sebutan “kakek” karena ia dianggap orang yang dituakan. Ia menjadi tempat penyelesaian masalah. Jika ada yang bertengkar ia menjadi juru damai dalam penjara itu.
Suatu hari ada seorang tahanan baru bernama Makar. Kebetulan ia berasal dari kota yang sama dengan Aksenof yaitu Vladimir. Aksenof bertanya tentang kabar keluarganya. Makar bertanya apa sebab Aksenof dipenjara. Aksenof tak mamu menjawab, tapi teman-temannya menceritakan mengapa ia dipenjara. Setelah tahu sebab Aksenof dipenjara diketahui bahwa sebenarnya pembunuh teman Aksenof adalah Makar. Aksenof sempat ingin membunuh Makar tapi ia mengurungkannya karena ia hanya percaya pada Tuhan.
Pada suatu hari Aksenof mendapati Makar berusaha melarikan diri dengan cara menggali tanah. Perbuatan Makar ini diketahui oleh penjaga penjara. Penjaga penjara menanyai semua penghuni penjara siapa pelaku penggali tanah. Tak ada satu orang pun yang mau mengaku. Aksenof juga tidak mau memberitahu walaupun ia tahu Makarlah orangnya. Makar mearasa bersalah dan ia menawarkan kepada Aksenof untuk mengakui kesalahannya di masa lalu. Namun Aksenof menolak. Ia sudah tidak mempunyai keinginan untuk pulang. Istrinya telah tiada. Anak-anaknya juga pasti sudah lupa kepadanya. Begitu pikir Aksenof. Hingga pada suatu hari ketika ia akan dibebaskan, Aksenof meninggal dunia.
Dari ringkasan cerita di atas ada kegelapan yang muncul. Aksenof harus menerima hukuman untuk kesalahan yang tak diperbuatnya. 26 tahun bukan waktu yang singkat. Tentu ini adalah kenyataan yang sangat berat. Untuk mengatasi masalah ini, di dalam penjara Aksenof mendekatkan diri kepada Tuhan. Namun, dalam cerpen tersebut Tuhan tidak melakukan apa-apa. Ia diam. Ia tidak menurunkan pertolongan kepada Aksenof. Jika ia mempunyai kebesaran dan bisa menentukan segalanya, mengapa Ia tak menunjukkan pelakunya sesaat setelah Aksenof dipenjara? Mengapa Tuhan baru menunjukkan kebenaran sesaat sebelum Aksenof meninggal dunia? Mungkin itulah pertanyaan-pertanyaan yang muncul oleh pembaca awam seperti saya yang memandang Tuhan sebagai Maha Penolong.
Cerpen ini benar-benar gelap. Masihkah ada Tuhan yang Maha Penolong itu?(Tri Umi Sumartyarini)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on April 25, 2011, in Opini. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. Tuhan Allah adalah Tuhan yang maha tahu, segala sesuatu telah ditetapkan…………
    Selagi kita masih berada dijalan Tuhan, Dia takkan pernah meninggalkan kita sedetik pun….
    Tuhan selalu memelihara anaknya yang mengasihi Dia………..
    disaat kita sendiri, disaat kita susah, disaat kita dihina, dicaci, dipinggirkan, tapi Tuhan selalu ada disamping kita, tak pernah lalai untuk menjaga kita………….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: