Wajah Pendidikan dalam Iklan Televisi

  • Oleh Muhajir Arrosyid

Kreator iklan selayaknya mempertimbangkan hal tersebut agar bisa berkreasi dengan bertanggung jawab

PADA peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2 Mei, kita perlu memperhatikan tiga komponen penting dalam pendidikan yaitu guru, siswa, dan kelas. Ketiga komponen tersebut seringkali direpresentasikan oleh berbagai media yang  menimbulkan pemodelan dan stereotip. Representasi yang tidak bertanggung jawab berakibat ketidakadilan kebijakan dan perlakuan terhadap komponen pendidikan tersebut.

Setidaknya terdapat tiga iklan televisi yang sekarang sedang tayang yang menggambarkan adegan interaksi guru dengan siswa, bertempat di sekolah saat jam pelajaran. Ketiga iklan tersebut antara lain; iklan produk kartu seluler As, iklan minuman kemasan Tekita, dan obat Mylanta. Bagaimana iklan merepresentasikan guru?

Mari kita amati iklan Mylanta yang berdurasi 30 detik dan terdiri atas dua adegan. Adegan pertama menujukkan seorang guru mempersiapkan diri masuk kelas. Seorang siswa masuk ruangan guru dan menanyakan, ’’Selamat siang Pak, ulangannya gimana?’’ Melihat sang guru sakit perut, tanpa pamit sang siswa lari meninggalkan ruangan.

Adegan kedua menggambarkan siswa ittu masuk kelas sambil teriak dan meloncat mengabarkan kepada teman-temannya bahwa ulangan diundur. Seisi kelas gaduh. Mereka, baik perempuan maupun laki-laki, bersorak dan melompat gembira. Baju mereka berantakan. Tapi mereka kaget karena tiba-tiba sang guru masuk kelas dan ulangan dilangsungkan. Sakit yang diderita guru sudah sembuh karena sudah minum obat yang diiklankan itu.

Kedua, iklan Tekita yang berdurasi sekitar 15 detik. Adegan dimulai dengan seorang guru menanyakan kepada siswanya apa Bahasa Inggrisnya rumah sambil menunjuk gambar rumah di papan tulis. Siswa serentak menjawab.’’Haus’’ (padahal yang dimaksud house) sambil mengipasi mukanya yang bercucuran keringat.

Guru menanyakan, ’’Haus?’’ Adegan selanjutnya narator mengatakan, ’’Haus? Minum Tekita aja!’’ Iklan ditutup dengan adegan seluruh siswa dan guru minum, dan guru seperti menikmati ditandai menggerak-gerakkan kumisnya.
Iklan ketiga menampilkan guru dengan siswa di sekolah terkait dengan iklan kartu As yang berdurasi sekitar 30 detik.Guru diperankan Sule berseragam khaki warna cokelat, mengenakan peci, berkacamata dan rambut panjangnya berwarna merah menjuntai.

Bel berbunyi, guru bertanya dengan nada mengancam kepada Roni, siswa,’’  Kenapa belum membayar SPP?’’ dan murid itu menjawab, ’’Maaf Pak uangnya untuk membeli pulsa.’’ Adegan kedua Roni dikerumuni temannya, ada yang lengan bajunya dilipat, juga duduk di meja. Teman-teman tersebut menganjurkan Roni untuk mengunakan kartu As. Adegan ditutup dengan ucapan guru Sule,’’ Saya mengimbau uang SPP untuk SPP, dan urusan pulsa pakai kartu AS.’’
Ada Ketidakadilan Bagaimana guru direpresentasikan dalam iklan tersebut? Dalam iklan Mylanta, guru direpresentasikan sebagai pendidik tidak menarik. Siswa lebih senang jika guru sakit. Dalam iklan Tekita, guru tidak memiliki wibawa yang tergambar saat menggerak-gerakkan kumisnya karena keenakan minum. Dalam iklan kartu seluler, guru ditampilkan tidak tertib. Rambut panjang merah di kening Sule menunjukkan hal tersebut.

Bagaimana siswa ditampilkan? Dalam iklan Mylanta, siswa ditampilkan tidak memiliki sopan santun. Tingkah siswa saat merayakan kebatalan ulangan seperti berjingkrak dengan baju awut-awutan juga tingkah yang tidak patut dilakukan di kelas.

Dalam iklan kartu seluler, siswa digambarkan tidak tertib. Ia menggunakan uang SPP untuk keperluan lain. Bagaimana kelas ditampilkan? Dalam iklan Tekita, kelas ditampilkan tidak kondusif yang menyebabkan siswa kepanasan.
Representasi yang dilakukan secara masif menghegemoni masyarakat. Tampilan itu pada saatnya menjadi model. Seperti siswa yang melipat lengan bajunya, tidak sopan kepada guru, dan duduk di atas meja.

Pada akhirnya representasi menguat menjadi stereotip, bahwa guru itu slengekan, siswa itu tidak tertib, dan kelas itu panas. Stereotip menimbulkan ketidakadilan perlakuan dan kebijakan terhadap komponen pendidikan. Kreator iklan selayaknya mempertimbangkan hal tersebut agar bisa berkreasi dengan bertanggung jawab. (10)

— Muhajir Arrosyid, dosen IKIP PGRI Semarang

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Mei 6, 2011, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: