MERENUNG DI KLOSET

Cerita Pendek Muhajir Arrosyid

Cahaya masuk dari genting kaca menembus air. Sudah sepuluh menit Tini jongkok. Bukan semata buang hajat tetapi memikirkan suaminya yang akhir – akhir ini seperti tikus bisu. Tini tak hirau bau anyir kloset, tak hirau nyamuk menyedot darah pantatnya. “Plak….,” tangan kanan Tini ternoda darah dari nyamuk yang binasa.
***
Sembilan tahun yang lalu Tini harus memutuskan pilihan antara bekerja dan menjadi ibu rumah tangga. Tini tidak lupa apa yang dikatakan oleh suaminya. Kata – kata itu masih tercatat rapi di buku hariannya. Sembilan tahun yang lalu tanggal 11, bulan dua belas. Sore hari menjelang matahari berlabuh. Waktu itu Tini menggendong anak pertamanya duduk di belakang rumah milik mertuanya. Suaminya duduk dihadapannya, mengenakan kaos oblong warna hijau, sarung kotak – kotak, dan sandal gunung.
“Bagiku menjadi ibu rumah tangga tidak kalah derajatnya dibanding perempuan karir.”
“Tapi buat apa aku sekolah tinggi – tinggi dan meraih gelar jika hanya untuk menjadi rumah tangga.”
“Kamu keliru Tin, untuk mengasuh anak itu dibutuhkan ibu – ibu yang cerdas, ibu – ibu yang berilmu pengetahuan. Apa jadinya anak kita jika diasuh oleh orang yang goblok? Seorang ibu tentu berbeda dibanding pembantu dalam mengasuh anak. Keterikatan batin, harapan –harapan ibu itu akan tersampaikan saat proses mengasuh. Tapi segala keputusan ada padamu. Aku tidak memaksa. Jika kamu ingin bekerja silahkan, jika kamu ingin menjadi ibu rumah tangga aku ucapkan terimakasih.” kata suaminya.
Akhirnya Tini memilih menjadi ibu rumah tangga. Jika suaminya sedang marah – marah begini, Tini menyesali keputusannya.
Tini merasa tidak berbuat salah. Teh di meja yang telah ditengguk oleh suaminya ia cicipi kembali. Menurut Tini tidak ada yang salah dengan rasa Teh tersebut. Takaran gula seperti biasanya. Tini juga  menggunakan teh jumput, kesukaan suaminya.
Sudah sepuluh tahun Tini menikah dengan Agus. Sebelum menikah, mereka  telah berpacaran selama lima tahun. Jika ditotal mereka telah berhubungan selama lima belas tahun. Tini merasa telah mengenal suaminya luar dalam. Tapi ternyata Tini salah. Akhir – akhir ini Tini tidak paham dengan sikap suaminya. Suaminya sering linglung, jika ditanya sering tidak menyaut. Wajah suaminya cemberut terus tidak tampak senyum sedikitpun.  Jika kamu pernah melihat tikus, begitulah mulut suami Tini akhir – akhir ini. Sampai hari ini Tini belum berani menanyakan kepada suaminya prihal hilangnya senyum. Tini merasa belum saatnya.
Dari habis subuh tadi Tini telah menata rumahnya sebagus mengkin. Hal itu dia lakukan demi mendapat pujian dari suaminya. Tapi jangankan pujian, komentar saja tidak. Suaminya hanya berpamitan sekedarnya, bersalaman, tidak lagi mencium kening dan pipi apalagi bibir, langsung melaju diatas jok motor.
Tini merasa harus mengevaluasi diri, mungkin ada yang salah pada kerja di rumah. Tini bangun pagi – pagi saat suaminya masih molor. Pekerjaan pertama yang ia pegang adalah mengepel dan menata ruangan. Untuk cuci piring dan cuci pakaian ia lakukan setelah suaminya berangkat kerja. Tini segera mebuat teh kesukaan suaminya. Tini meletakkan teh di meja makan dikelilingi beberapa potong kue. Sarapan ia persiapkan dengan menu spesial.  Saat Agus bangun, ruangan sudah tertata rapi, teh juga telah tersedia, sarapan siap santap. Air panas telah siap jika Agus membutuhkannya untuk mandi. Baru kemudian Tini membersihkan diri, Ia semprotkan parfum, memakai daster corak kembang warna biru muda. Rambutnya yang basah, ia urai ke belakang. Betapa kecewanya Tini, Agus menegguk teh, melahab sarapan, dan mandi dengan air hangat tanpa senyum. Senyum dan suasana renyah adalah susuatu yang dirindukan oleh Tini. Tini harus berjuang untuk mendapatkan suasana itu.
Pikir Tini, buat apa berkeluarga jika tidak saling sapa. Kebahagian ibu rumah tangga adalah ketika pekerjaannya dihargai. Tini tidak putus asa. Tini masih diwarisi oleh ibunya segudang kesabaran menghadapi suami yang menjengkelkan. “Belum saatnya marah” kata Tini.
Tini berdiri menuju cermin di pojok ruang. Melalui cermin itu Tini memperhatikan tubuhnya. Ia melihat tubuhnya agak besar, mungkin sekitar 70 Kg.  Tini membatin, apakah karena ini? Sebelumnya Agus tidak pernah mempersoalkan berat tubuh.  Tini kemudian memperhatikan rambutnya. Rambutnya masih seperti dulu.  Tini belum mendapatkan rambutnya yang berubah warna. Setelah mengevaluasi diri, Tini tidak menemukan kesalahan dirinya. Tini mulai mengira – ira sebab lain dari perubahan sikap suaminya itu.
Dari cermin itu Tini memperhatikan wajahnya. Tentu saja berubah meski tak banyak. Tini belum melihat kerutan di wajahnya. Memang beberapa bekas jerawat menempel di keningnya dan membuat wajahnya tampak kotor.
Tini berpikir, mungkin suaminya kena marah bosnya di kantor. Atau karena pekerjaannya dianggap tidak beres. Atau mungkin secara tidak sengaja menyakiti orang lain. Biasa intrik kantor, sesama bawahan berebut cari muka. Persaingan cari muka inilah yang seringkali menimbulkan pertengkaran bahkan saling fitnah antar staf. Tentang interik kantor ini Agus juga sering cerita. “Jika bos datang banyak staf pura – pura rajin bekerja. Padahal biasanya malas – malasan bekerja. Menyiapkan ini itu, memamerkan terobosan yang diaku sebagai inisiatifnya. Jika ada kesalahan dalam kerja semua mengelak dan menunjuk teman kerjanya, bukan aku – bukan aku, dia yang salah, gara – gara dia, dan lain sebagainya.” Cerita Agus sepulang dari kerja.
Melalui cermin Tini memperhatikan telinga dan lehernya. Anting pemberian suaminya saat menikah dulu masih menempel di tempatnya. Tapi kalung hadiah ulang tahun pernikahan tidak terpasang di leher. Tini hanya mengenakan kalung itu jika ada acara penting saja.
Mungkin juga suaminya ada masalah dengan keluarganya. Pada pembagian warisan, kakaknya protes kepada Agus karena letak tanah yang diberikan kepada Agus sangat strategis, di pinggir jalan. Karena masalah tersebut Agus bersitegang dengan kakaknya. Agus pernah mengungkapkan kepada Tini, “Bahkan Ali, Siti, keponakan yang biasanya akrab denganku kini dingin sikapnya. Saya kan tidak tahu apa – apa. Pembagian itu telah dilakukan oleh bapak sebelum meninggal. Sekarang Mas Andi ingin mengadakan pengukuran ulang. Aku tidak mau, ribet.” Kata Agus suatu ketika.
Tiba – tiba Tini berpikir, mungkin dia sudah tua dan reot sehingga suaminya mudah marah. Teringat tentang tua Tini teringat pula satu cita – citanya yang belum terwujud, menjalankan ibadah haji. Tini berkesimpulan, bisa tidaknya ia berangkat haji tergantung dari budi baik dan belas kasihan suaminya. Tini semakin menyesali keputusannya sembilan tahun yang lalu. Tini melihat air keluar dari dua sudut matanya. Mulutnya juga berubah bentuk, dan keningnya berkerut – kerut.
***
Tini membuka mata. Ia melihat suaminya duduk di depannya. Dua anaknya ada di samping kiri dan kanan. “Ibu sudah siuman” kata salah seorang anaknya. Tini memperhatikan infus menggantung, ia sadar sedang berada di salah satu ruang di rumah sakit. Setelah ngobrol ke sana ke mari, Tini tercenung dengan satu uangkapan suaminya.
“Saat menjelang final sepak bola antara Malaysia dan Indonesia, saya berdo’a; Tuhan berikanlah rakyat Indonesia penghiburan. Setelah nasib buruk berkepanjangan menimpa negeri ini berikanlah kali ini keberuntungan. Berikanlah kemenangan. Ternyata Tuhan berkehendak lain” kata suaminya.
“Berarti kamu suntuk satu minggu yang lalu karena Indonesia kalah melawan Malaysia?” kata Tini. Suaminya mengangukkan kepala. Tini berderai tawa menutup mukanya dengan selimut.

 

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 2, 2012, in Cerita Pendek and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: