SRINTHIL YANG TERALIENASI

Resensi oleh Tri Umi Sumartyarini

Sang Penari merupakan film yang terinspirasi dari novel Ronggeng Dukuh Paruk (RDP) karya Ahmad Tohari. Sang Penari disutradari oleh Ifa Ifansyah. Srinthil adalah tokoh sentral dalam film ini. Ia adalah seorang perempuan ronggeng yang tinggal di Dukuh Paruk, sebuah dukuh di Kabupaten Banyumas. Dalam film ini Srinthil tergambar sebagai perempuan yang teralienasi.
“Ronggeng ki duniaku, Sus. Wujud baktiku kepada Dukuh Paruk,” kata Srinthil kepada pacarnya, Rasus, pada suatu malam. Itu adalah jawaban Srinthil kepada Rasus saat Rasus meminta kepada Srinthil untuk meninggalkan dunia ronggeng dan menjadi istrinya. Srinthil menolak. Baginya ronggeng adalah dunianya. Dukuh Paruk akan memiliki “nyawa” kembali jika mempunyai seorang ronggeng. Ronggeng merupakan kebanggaan Dukuh Paruk dan Srinthil ingin menjadi bagian dari kebanggaan itu.
Motivasi Srinthil menjadi ronggeng menunjukkan bahwa perempuan tidak pernah mempunyai kesempatan memilih apa yang diinginkan. Ann Forman dalam bukunya Feminity as Alienation: Women and the Family in Marxism a Psychoanalysis menyatakan bahwa alienasi yang terjadi pada perempuan lebih mengkhawatirkan karena pengalaman hidup perempuan lebih dirasakan sebagai hanya kelengkapan bagi orang lain. Hidup perempuan terus diperuntukkan untuk orang lain atau menjadi bagian dari orang lain sehingga sebetulnya ia telah kehilangan jati dirinya. Ia tidak dibiarkan menjadi manusia utuh .
Srinthil merupakan representasi perempuan yang “dipilih”. Ia sebenarnya tidak memiliki daya untuk “memilih”. Menjadi ronggeng dimaknai Srinthil sebagai wujud “bayar hutang”. Srinthil ingin berbakti kepada Dukuh Paruk karena ingin membalas kesalahan orang tuanya sebelas tahun lalu. Orang tua Srinthil menjadi penyebab kematian belasan penduduk Dukuh Paruk karena keracunan tempe bongkrek buatan orang tua Srinthil. Ia ingin “memutihkan” nama orang tuanya kembali. Artinya, keputusan Srinthil adalah karena tekanan untuk mengembalikan nama baik orang tuanya.
Sebagaimana kehidupan desa di Jawa, penduduk Dukuh Paruk sangat percaya akan kekuatan roh leluhur yang menjaga keselamatan desa. Menjadi ronggeng adalah takdir bagi Srinthil sebagai syarat agar desa selamat dalam naungan Ki Secamenggala yang kuburannya dikeramatkan warga. Dalam hal ini Srinthil dipilih oleh tradisi. Hidupnya diperuntukkan untuk keselamatan warga desa.
Menjadi ronggeng, membuat Srinthil menanggung resiko demi resiko. Hal ini menjadikan Srinthil sebagai perempuan yang kehilangan jati dirinya dan harapan-harapannya. Resiko tersebut tergambar saat peristiwa bukak klambu, ritual pelelangan keperawanan ronggeng. Alih-alih menyerahkan keperawanan pada laki-laki yang membayar dengan harga tinggi, Srinthil melakukan hubungan intim pertamanya dengan Rasus. Karena kecewa tubuh Srinthil dinikmati laki-laki lain, Rasus pergi meninggalkan desa saat malam “bukak klambu”. Jauh di lubuk hati Srinthil, sebenarnya ia ingin menikah dengan Rasus dan memiliki anak darinya. Namun, cengkeraman tradisi menghempaskan keinginannya.
Suatu kali Srinthil mogok menari. Namun, lagi-lagi karena ikatan tradisi yang mengharuskan Srinthil tunduk, ia mau menari lagi. Kali ini Srinthil menari di kecamatan pada acara yang diadakan Partai Komunis. Oleh sebab inilah Srinthil dituduh terlibat gerakan partai Komunis. Latar film ini adalah tahun 1965, saat huru-hara gerakan Partai Komunis terjadi. Akhirnya, Srinthil ditangkap dan dipenjara. Pada akhir film, Srinthil menari di pasar dengan dandanan menor mirip orang yang kehilangan kejiwaan. Srinthil menari tanpa naungan Ki Secamenggala. Kejayaan ronggeng Dukuh Paruk pun runtuh. Ending di film sang Penari lebih sederhana dibanding pada novel RDP. Pada RDP Srinthil mengalami gangguan jiwa dan diserahkan Rasus di rumah sakit jiwa.
Srinthil adalah representasi perempuan yang teralienasi oleh masyarakat sekaligus tradisi yang mengikat. Srinthi tidak sepenuhnya diam. Film ini menyuguhkan dengan apik bagaimana Srinthil jatuh dan bengun menghadapi alienasi itu.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 3, 2012, in Film/Sinetron. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Salam kenal. Tolong donk, hati-hati menggunakan istilah “gerakan Partai Komunis”. Geger tahun 1965 itu bukan ulah PKI, tapi taktik licik Soeharto.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: