TRIYANTO, BANGAU, DAN BAKAU

Pembacaan Cerpen oleh: Muhajir Arrosyid

Apakah yang lebih penting antara pengakuan oleh Tuhan dan pengakuan oleh masyarakat? Triyanto Triwikromo, melalui tokoh-tokoh dalam cerita pendek yang berjudul Wali Kesebelas yang dimuat di Koran Tempo edisi 15 Januari 2012 mengungkap konflik yang bersumber perebutan pengakuan tersebut.
Cerpen ini bercerita tentang dua orang sakti. Masyarakat Islam Jawa mengenal wali sembilan, penyebar agama Islam di tanah Jawa yang dikenal cerdas, mumpuni ilmu agama dan ilmu kanuragan. Dua tokoh dalam cerpen ini Basir Burhan dan Said Barikun yang tinggal di tanah Demak oleh masyarakat dianggap memiliki pengetahuan dan kesaktian seperti yang dimiliki para wali. Basir Burhan yang juga dikenal sebagai Syeh Bintoro dijuluki Wali Kesepulih, sedangkan saudara kembarnya Said Barikun yang dikenal sebagai Syeh Muso dijuluki Wali Kesebelas.
Atas laku yang dijalankannya Syeh Muso berkonfilik dengan saudaranya sendiri, Syeh Bintoro. Syeh Muso yang memiliki keahlian menyembuhkan orang ini memiliki kebiasaan menanam bakau dan merawat bangau.
Karena Syeh Muso tidak pernah membunuh bangau, maka penduduk menganggap bangau sebagai hewan yang suci yang tak layak disakiti. Karena Syeh Muso selalu menanam bakau sepanjang waktu, maka penduduk mengangap haram merusak atau mematikan pohon penghalang ombak itu.
Dan saat malam berbadai orang-orang bertanya tentang bangau dan bakau itu kepada Syeh Muso. “Apakah bangau-bangau itu tidak pernah mati? Apakah Allah dan malaikat sesekali menjelma menjadi bangau? Apakah itu pohon dari surga?”
Saya tidak tahu kenapa Syeh Muso tidak menjawab. Dan hal inilah yang menjadi penyebab konflik dengan saudaranya sendiri, Syeh Bintoro. Menurut Syeh Bintoro sikap diam Syeh Muso sama saja membenarkan pendapat orang-orang yang bertanya.
“Saya tidak mengajarkan apa-apa. Aku hanya melalkukan apapun yang dikehendaki Allah”, kata Syeh Muso kepada Syeh Bintoro.
“Tetapi mereka buta dan melupakan ajaran Nabi.” Jawab Syeh Bintoro.
Inilah akhir dari cerita Syeh Muso karena setelah itu Syeh Muso pergi atau mokso.
Kenapa Syeh Muso pergi? Karena dia tidak ingin dijadikan berhala. Ia rela tidak menjadi sesuatu, tidak diagung-agungkan. Baginya pengakuan oleh Tuhan lebih penting daripada pengakuan oleh manusia.
Kemudian Syeh Bintoro memangul sesosok berbungkus kain putih ke hadapan masyarakat. Syeh Bintoro terinspirasi dengan kisah Syeh Siti Jenar. Setelah di buka orang-orang berkidik. Seekor anjing menyerengai. Syeh Bintoro ingin mengatakan kepada masayarakat bahwa Syeh Muso, orang yang selama ini mereka agung-agungkan ternyata hanyalah seekor anjing.
Apa yang dilakukan oleh Syeh Bintoro dengan mengganti jasad Syeh Muso dengan seekor Anjing itu mungkin bertujuan memulihkan keimanan masyarakat. Agar masyarakat memandang manusia selayaknya manusia dan memandang Tuhan selayaknya Tuhan, menempatkan nabi selayaknya nabi. Syeh Bintoro berharap masyarakat tidak menuhankaan manusia. Dengan menempatkan Syeh Muso sebagai seekor anjing dalam pandangan masyarakat, apakah itu bukan merupakan kesalahan?
Setelah Syeh Muso pergi, hanya Syeh Bintorolah orang mumpuni di wilayah itu. Hal ini memungkinkan pemberhalaan terhadap manusia beralih kepada Syeh Bintoro. Apakah Syeh Bintoro juga harus pergi karena diagungkan oleh masyarakat. Kesalahan Syeh Muso adalah dia tidak menjelaskan alasan kekhusukannya menanam bakau kepada masayrakat.
Betapa pandangan orang banyak itu penting. Setidaknya hal itu dapat dilihat dari sikap Lurah  Lading Kuning yang menyuruh sebelas pembunuh bayaran unntuk menyingkirkan Syeh Muso. Syeh Muso dituduh merampok di wilayah kekuasaan Lurah Lading Kuning. Agar tetap mendapat kepercayaan masyarakat Lurah Lading Kuning berupaya menyungkirkan Syeh Muso yang dianggap perampok untuk memulihkan kepercayaan masyarakat atas kepemimpinannya.
Begitu pula dengan sebelas pembunuh bayaran, mereka mengaku sebagai orang yang membunuh Syeh Muso karena ingin mendapat pengakuan dan kepercayaan kepada Lurah landing Kuning dan masyarakat. Padahal mereka menggigil melihat peristiwa percakapan antara Syeh Muso dan Syeh Bintoro.
“Allah berurusan dengan mukjizat laba-laba yang melindungi Nabi Muhammad di gua, tetapi tidak ingin menghakimi siapa yang sesat siapa yang benar dalam memuja diri-Nya.” Kalimat yang saya kutip ini adalah kritik pengarang kepada keadaan saat ini dimana seseorang yang beragama sering kali menghakimi pemeluk agama lain atau mereka yang dianggap berbeda. Cerpen yang asyik, ada kritik lingkungannya, ada ketauhitan, dan diksi yang keren. Mas Tri, Saya tunggu cerpenmu yang lain.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 4, 2012, in Kritik Sastra and tagged , , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. triyanto triwikromo

    Terima kasih telah mengapresiasi cerita itu…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: