MITOS DAN RASIO DALAM CERPEN

Kritik Cerpen Runtuhnya Sasembadabada Karya Dian Mardika oleh Muhajir Arrosyid

Indonesia memiliki warisan cerita yang cukup banyak dari nenek moyang. Mulai dari asal muasal desa, kisah terjadinya danau, kisah terjadinya candi, dan masih banyak lagi cerita sejenis. Cerita-cerita tersebut sedikit banyak mempengaruhi karya sastra kita seperti cerpen berjudul Runtuhnya Sasembadabada Karya Dian Mardika yang terbit di Koran Jawa Pos edisi 5 Februari 2012.
Cerita pendek karya Dian ini mengisahkan tentang asal usul kampung, tentang leluhur, tentang pantangan-pantangan, dan kutukan. Lebih baik saya menceritakan cerpen ini terlebih dahulu secara singkat. Dua tokoh sentral adalah Ki Suralambada dan Nini Sitinembada. Pada suatu masa penduduk kampung menderita sebuah penyakit aneh. Kulit mereka bersisik, suara mereka berdengung seperti lebah, mata mereka bersinar merah. Dua orang suami istri Ki Sura Lambada dan Ni Sitinembada melakukan upaya untuk mengatasi penyakit aneh yang diderita oleh penduduk. Penyakit aneh itu telah memisahkan penduduk Salambada dengan penduduk-penduduk lain disekitar kampung. Dua orang tua itu bertapa mencari pentunjuk dari penguasa alam semesta. Tuhan memberikan petunjuk melalui mimpi, mereka diamanatkan untuk naik ke puncak bukit dan merawat bukit dengan menanaminya pepohonan. Mereka melaksanakan amanat tersebut sehingga bukit itu menjadi rimbun dengan pohon-pohon yang menghutan.  Setelah bukit menghutan berangsur-angsur penyakit yang diderita penduduk itu mulai menghilang. Penduduk kembali hidup normal dan diterima oleh masyarakat luas. Atas kesembuahan itu mereka merasa berhutang budi dengan dua orang suami istri yang telah merimbunkan bukit, Ki Suralambada dan Nini Sitinembada.
Para penduduk naik ke puncak bukit mencari dua orang itu. Penduduk hanya mendapati tempat tinngalnya saja. Watak masyarakat kita hingga zaman internet sekarang ini adalah biasa menebak-nebak, kemudian menyimpulkan dengan segera. Demikian pula masyarakat dalam cerpen ini, mereka menyimpulkan bahwa dua orang yang mereka cari itu telah menyatu dengan dua bukit itu. Dua bukit itu kemudian mereka yakini sebagai jelmaan dua orang suami istri yang mereka cari. Mulai saat itu seluruh penduduk dilarang untuk menebang pohon. Menikmati hasil pohon boleh, akan tetapi tidak boleh sampai mencerabut hingga akarnya.
Tradisi memelihara bukit mereka jaga bertahun-tahun hingga datanglah para pendatang, generasi baru lahir hingga menuding tradisi itu irasional, tidak masuk akal. Mereka tergiur tinggal di rumah-rumah mewah, dan ditebanglah pohon-pohon untuk dijual. Sampai kemudian ditemukan orang menderita penyakit kulit bersisik, penduduk baru sadar telah melanggar pantangan. Puncaknya bukit dan seluruh kampung hancur rata tanah.
Cerita-cerita yang dikaitkan dengan suatu tempat dan pantangan-pantangan itu masih hidup hingga kini. Cerita-cerita semacam ini oleh masyarakat pelakunya disadari atau tidak akan dapat memelihara keseimbangan alam.
Di kampung Mano, kelurahan Mandosawu, Kecamatan Poco Ranaka, Kabupaten Mangarai Timur, Flores, terdapat hutan seluas empat hektar yang dijaga oleh warga. Hutan tersebut berada di tengah-tengah perkampungan modern. Jangankan menebang pohon, mengambil ranting saja tidak ada yang berani. Bagi mereka, melanggar pantangan sama saja mengundang bencana. Demikian pula dengan masyarakat di sekitar Danau Lindu Sulawesi Tengah. Masyarakat yang hidup di sekitar Sungai Lindu memiliki tradisi ‘Ombo’, tradisi ini menghentikan aktifitas mengambil ikan di danau selama jangka waktu tertentu yang telah ditentukan oleh kesepakatan adat. Jika ada yang berani melanggar maka akan mendapat hukuman yang cukup berat.
Kembali lagi ke masalah cerpen. Ada masyarakat tradisional yang mempercayai mitos yang dianggap irasional. Mereka memelihara pohon dan bukit atas dasar bahwa bukit itu adalah jelmaan dari nenek moyang mereka. Oleh masyarakat yang modern, tindakan tersebut dianggap irasional, oleh sebagian agamawan berpendapat bahwa tindakan itu adalah menyekutukan yang Maha Esa. Karena dianggap irasional maka pandangan dan perilaku masyarakat itu harus diubah atau diganti. Mereka yang mengaku rasional mengatakan, tidak benar bukit itu jelmaan nenek moyangmu, itu adalah bukit biasa, maka tebang saja pohonnya. Ironis sekali, orang-orang yang menganggap diri rasional malah merusak. Rasionalitas mereka semu dan pendek.
Namun jika kita cermat, ada rasionalitas dalam kepercayaan atau mitos itu. Mungkin inilah yang akan disampaikan oleh penulis. Karena tidak ada hutan maka matahari langsung mengenai mereka sehingga kulit mereka bersisik, karena tidak ada pohon tinggi maka tidak ada penghalang badai. Hanya saja perilaku baik yaitu memelihara pohon tersebut hanya didasari oleh mitos dan tidak didasari oleh kesadaran bahwa memelihara pohon itu penting karena akan memberi sumber air, menahan badai, dan penghalang cahaya matahari. Dari cerpen ini kita belajar untuk mengubah cara pikir masyarakat tentang memelihara pohon, bukan hanya berdasar mitos tetapi juga kesadaran tentang pentingnya pohon untuk alam semesta. Dengan sastra? Kenapa tidak!

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 9, 2012, in Kritik Sastra and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 4 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: