MENGINTIP PENGANTIN BARU HINGGA TILANG NGAWUR POLISI OKNUM

Muhajir Arrosyid
Dulu di kampungku anak-anak dan para remaja senang tidur di masjid atau mushola. Mungkin karena masjid dan mushola lebih bersih dibanding rumah orang tuanya. Sejak kelas empat SD saya juga turut serta tidur di mushola. Ada-ada saja prilaku di mushola, saat ada orang punya gawe dan menghadirkan orkes melayu, wayang, hingga pemutaran film, kami hadir untuk menonton. Meskipun jarak yang ditempuh jauh, jalan becek, dan gelap. Tidurpun kami harus larut dan paginya mengantuk di kelas.

Malam selalu saja gelap. Hanya lampu-lampu teplok yang menerangi rumah-rumah kami. Kami mengaji mengunakan petromak. Kegiatan setelah mengaji dan sebelum tidur ini yang seringkali anah-aneh dan tak terlupakan. Jika setelah musim jagung, menjelang musim tembakau yang kemarau kami mencari jangkrik, berkidik juga menembus gelap kadang-kadang melewati kuburan. Ada kalanya kami nyuloh manuk. Saat burung sedang lelap tertidur karena seharian terbang, kami ringkus burung itu.

Perbuatan jahil yang mengesankan adalah mengintip pengantin baru. Jika ada pengantin baru, banyangan para pemuda memang yang tidak-tidak. Saya menguping pembicaraan para pemuda saat menjelang tidur. Mereka selalu berangkat untuk mengintip pengantin baru dan pulangnya tertawa terkekeh-kekeh. Tidak tahu kenapa, mungkin berhasil mengintip, mungkin juga karena kepergok yang diintip.

Zaman ternyata berganti. Sekarang kampungku sudah ada listrik, setahuku tak ada lagi anak dan remaja tidur di masjid dan mushola. Mungkin karena rumah mereka lebih bersih daripada masjid dan mushola. Tidak ada lagi cerita mengintip pengantin baru seperti zaman saya masih kecil dulu.

Satu dua anak kampung juga telah mengenal internet. Mungkin mereka pernah berkunjung ke situs youtube atau situs yang lain yang menyediakan gambar gerak atau vidio. Zaman memang telah berubah. Jika dulu orang susah payah menembus gelap, di gigit nyamuk dan semut untuk dapat mengintip pengantin baru, sekarang tidak lagi. Dengan membuka Hp para remaja telah dapat melihat agedan yang sama dengan adegan yang diperagakan pengantin baru. Dulu orang marah-marah jika tahu bahwa dirinya diintip, sekarang sebagain orang malah menyediakan diri untuk dilihat, bahkan dia merekam sendiri adegan yang seharusnya disembunyikan itu.

Kamera di mana-mana

Sekarang ini kamera dimana-mana maka jangan semena-mena. Hp dengan harga murah saja dapat untuk merekam gambar dalam bentuk vidio. Maka kita perlu hati-hati terhadap kamera ini. Kita harus hati-hati menggunakan kamera. Bolehlah kita masuk kamar mandi membawa hp berkamera tapi jangan menyalakannya. Hati-hati pula berbuat salah karena jangan-jangan ada kamera yang menyorot ke[ada kita. Seorang guru menghukum muridnya dengan sangat tidak manusiawi, karena kamera di hp adegan itu terlihat dengan sangat cepet dengan cakupan yang tidak terduga.

Di youtube saya banyak melihat oknum polisi yang lucu, ada yang melakukan sidang pelanggaran lalin di pinggir jalan, tawar menawar untuk berdamai dengan pelanggar, dan lain-lain. Para oknum itu tak sadar jika sekarang ini kamera ada dimana-mana. Merekam dengan sangat mudah, tanpa diketahui yang direkam. Jangan sampai Anda kena malu dan turun pangkat gara-gara vidio Anda menyebar. Atau lebih baik jangan melakukan pelanggaran dan seminimal mungkin melakukan kesalahan, eh kejahatan.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 18, 2012, in buku harian and tagged , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: