ORANG DEMAK MEMAKNAI SUNGAI

Di Kabupaten Demak sungai adalah kamar mandi sekaligus tempat sampah.

Gambar diambil dari blog sebelah demak-ku.blogspot.com

Demak adalah daerah yang memiliki banyak sungai. Di antara sungai di Kabupaten Demak adalah Kali Jragung, Kali Wonokerjo, Kali Onggorawa, Kali Buyaran, Kali Jajar, Kali Kumpulan, Kali Lubang, Kali Wulan, Kali Kenceng dan banyak sungai kecil lain. Sungai di Kabupaten Demak yang paling mudah dilihat adalah sungai yang berdampingan dengan jalan provinsi yang memanjang antara Desa Sidogemah hingga Desa Karangsari.

Peruntukan sungai oleh masyarakat Demak dapat dikategorikan menjadi tiga; pertama adalah sebagai tempat untuk mencari nafkah, kedua adalah tempat bersih – bersih, ketiga adalah sebagai tempat untuk membuang limbah.

Sebagian masyarakat Demak memfungsikan sungai sebagai sumber nafkah. Masyarakat Demak sebagian besar penduduknya berprofesi sebagai petani. Para petani memanfaatkan sungai untuk mengairi sawahnya. Di dalam sungai terdapat kehidupan ikan, maka selain sungai difungsikan sebagai irigasi, masyarakat juga memancing di sungai untuk mendapatkan ikan. Di beberapa tempat, sungai difungsikan sebagai tempat budidaya ikan dengan cara membangun karamba.

Sungai juga difungsikan sebagai tempat bersih – bersih, baik membersihkan badan, pakain, maupun peralatan rumah tangga. Fungsi yang lain dari sungai di Kabupaten Demak adalah sebagai ‘tong sampah terpanjang’, sebagai tempat untuk membuang limbah. Selain dikenal sebagai tong sampah terbesar juga dikenal istilah ‘Mekong’, kependekan dari ‘Meme Bokong’, istilah lain dari buang air. Olok-olok yang sebenarnya tidak sedap didengar. 

Rembuk sungai

Peruntukan sungai oleh warga sangat kontradiktif karena di satu sisi sungai difungsikan sebagai tempat pembuangan limbah, di sisi lain sungai difungsikan untuk mandi. Mandi adalah perilaku membersihkan diri maka dibutuhkan kualitas air yang bersih pula. Kualitas air juga berdampak pada kesehatan tubuh masyarakat. Bagaimana kualitas air dapat bagus jika di dalam sungai terdapat limbah sisa rumah tangga yang dapat menyebarkan bakteri. Pemerintah perlu memfasilitasi diselenggarakannya ‘rembuk sungai’. Rembuk sungai adalah semacam pertemuan antar warga yang tinggal di sekitar sungai. Dalam rembuk sungai diharapkan ditemukan kesepakatan perihal bagaimana memfungsikan sungai. Jika sungai difungsikan sebagai tempat membersikan diri maka sungai seharusnya tidak digunakan untuk tempat membuang sampah. Sebaliknya, jika sungai sepakat diperuntukkan sebagai tong sampah raksasa, maka seharusnya tidak digunakan sebagai tempat mandi. Fungsi utama sungai sebagai lalu lintas air juga harus menjadi bahan pertimbangan. Jika sungai difungsikan sebagai tong sampah raksasa maka akan berakibat tersendatnya aliran sungai, jika aliran tersendat maka banjir akan sangat mudah terjadi.

Setelah sungai tidak lagi digunakan sebagai tong sampah besar, apakah kualitas air sudah layak digunakan untuk membersihkan diri? Pada saat inilah ilmuan dan pemerintah diharapkan berperan.

Kesepakatan dalam rembuk akan dijaga bersama – sama. Dengan rembuk maka akan didapatkan persepsi yang sama perihal sungai. Intruksi langsung dari pemerintah kabupaten memilki resiko terjadinya penolakan karena tidak diawali dengan persamaan persepsi. Masyarakat Demak memiliki modal untuk melaksanakan rembuk. Dalam tradisi bermasyarakat, mereka telah melaksanakan gugur gunung, gotong royong, sambatan, jagongan, dan rewang. Sebuah tradisi dengan semangat hidup bersama dan rukun.

Sebagai contoh, di Pulau Pramuka, bagian utara taman nasional Kepulauan Seribu para nelayan sepakat untuk membuat ‘Miniatur Biota Laut’. Dalam miniatur tersebut terdapat kura – kura bersisik, ikan hiu sirip, dan lain sebagainya. Seminggu sekali para nelayan juga meliburkan diri untuk mengangkat sampah yang jatuh ke dasar laut. Membuat miniatur biota laut dan membersikan laut adalah hasil kesepakatan forum rembuk antar para nelayan. Dengan miniatur biota laut mereka berharap akan banyak wisatawan datang, laut yang bersih juga akan membuat ikan – ikan nyaman untuk tumbuh kembang. Contoh lain adalah perilaku masyarakat di sekitar danau Lindu, Sulawesi Tengah yang menjaga tradisi ‘ombo’. Tradisi ombo adalah tradisi dimana danau di istirahatkan. Saat ombo berlangsung tidak boleh ada satu ikanpun boleh keluar dari danau. Tradisi ombo biasa dilaksanakan selama hitungan hari, minggu, atau bulan. Jika ada salah seorang penduduk berani melanggar maka akan mendapatkan sanksi yang cukup berat. Tradisi ombo dilaksanakan demi menjaga populasi ikan.

Contoh di atas memberi pelajaran bagi kita bahwa mengelola dan menjaga sumber daya alam agar memberikan kontribusi yang optimal diperlukan kesepakatan, ‘rembuk’ atau musyawarah. Dengan rembuk dapat dihindari kerancuan dalam penggunaan sungai seperti selama ini terjadi. Semoga sungai di Kabupaten Demak dapat menjadi keunggulan. Jika sungai bersih bukan tidak mungkin sungai akan dapat dikembangkan sebagai sarana transportasi dan rekreasi. Tapi itu semua butuh kesepakatan warga dan ‘rembuk’.

Muhajir Arrosyid – Penulis Buku Soko Tatal, Pengasuh Taman Kreatifitas Karya Anak Kampung (KAK), Demak.

Dimuat di Koran Wawasan Edisi 24 Februari 2012.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Februari 24, 2012, in Opini. Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. tak baca dulu…

  2. Ide menarik yang perlu segera ditindakkan (direalisasikan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: