PERJALANAN MENCARI CAHAYA

Judul: Rayya Cahaya di Atas Cahaya.
Pemain: Titi Sjuman, Tio Pakusadewo, Christine Hakim.
Sutradara: Viva Westi.
Produser Ekssekutif: Bayu Priawan Djokosoetono
Produser: Dewi Umaya Rochman dan Sabrang MDP
Penulis scenario: Viva Westi dan Emha Ainun Nadjib

Jika Anda sedang galau karena putus cinta, tontonlah film Rayya Cahaya di Atas Cahaya. Film ini menyuguhkan bagaimana mengolah kegalauan menjadi sesuatu yang bermakna. Berawal dari kegalauan, para tokoh di film ini menemukan nilai-nilai kesejatian dalam hidup.
Rayya (Titi Sjuman), seorang model terkenal ibu kota sedang terlibat pekerjaan penyusunan sebuah buku dengan Kemal, sang fotografer. Mereka berencana melakukan perjalanan Jakarta-Bali dengan mobil dan singgah di tempat-tempat tertentu untuk melakukan pemotretan. Alih-alih bekerjasama dengan baik, Rayya menyuruh Kemal untuk kembali ke Jakarta. Kemal kembali ke Jakarta dan digantikan oleh Arya (Tio Pakusadewo), seorang fotografer setengah baya yang dianggap sebagai fotografer konvensional karena sesekali masih menggunakan kamera analog.
Namun, dengan Arya inilah, Rayya merasa lebih cocok karena Arya lebih bisa mendengar dan menuruti kehendak Rayya yang kadang tingkahnya “semau gue”. Maklum, Rayya sedang galau karena baru saja dikhianati Bram, mantan kekasihnya yang telah beristri. Bahkan Rayya beberapa kali menyatakan ingin bunuh diri. Beberapa kali Arya bertanya kepada Rayya apa yang hendak dicarinya. Pertanyaan inilah yang menghantarkan kepada penonton hal-hal yang ditemui Rayya dan Arya selama perjalanan.
Suatu ketika Rayya diajak Arya mengunjungi sekolah “Salam” yang dikelola oleh Bu Dhe (Christine Hakim). Bu Dhe yang tua dan tuli mampu mengelola sekolah bahkan mendidik anak autis. Ketika ditanya tentang kurikulum, Bu Dhe menjawab bahwa kurikulumnya didapat dari lingkungan sekitar yaitu ikhlas dan ulet. Anak normal belajar dengan anak autis. Anak normal menjaga anak autis dan anak autis belajar dari anak yang normal. Bagi Bu Dhe, kurikulum itu tidak perlu muluk-muluk. “Kalau untuk menanam pohon, apakah perlu kurikulum baru?” Pemikiran yang sangat sederhana tapi mengena, mengritik kepada kita yang seringkali memikirkan tentang teknis pendidikan tapi lupa esensi mendidik.
Pelajaran hidup lain yang didapat Rayya adalah pada saat ia hendak membeli krupuk karak dari seorang ibu tua. Ketika hendak membayar, Rayya memberikan uang lima puruh ribu dan memberi si ibu uang kembalian. Ibu penjual karak menolak uang kembalian dan mengambil kembali krupuk karaknya. Menurut ibu penjual karak, ia bekerja bukan mengemis. Maka ia hanya ingin mengambil uang hasil kerjanya saja. Pada peristiwa ini, Rayya mendapat pelajaran bahwa krupuk karak yang “disunggi” si ibu bukan hanya wadah makannya saja, tapi harga dirinya. Sebuah pelajaran berharga dari seorang ibu renta.
Dari anak-anak dan ibu-ibu pemecah batu, Rayya belajar tentang makna ketangguhan hidup. Ia telah ditipu oleh anak-ibu pemecah batu itu. Dari tangan-tangan yang kelihatan lemah ternyata tersimpan ketangguhan hidup. Tangan lemah itu mampu memecah batu yang keras.
Membaca Ulang Teks Emha
Memperhatikan dialog-dialog antara Arya dan Rayya dalam film ini seperti membaca ulang tulisan-tulisan Emha Ainun Nadjib. Hal ini terlihat pada saat Rayya dan Arya sedang membicarakan poligami. Suatu ketika Rayya dan Arya melihat seorang laki-laki yang dikerumuni tiga perempuan. Rayya menanyakan kepada Arya bahwa laki-laki itu butuh berapa istri dan apa perlu poligami. Arya menjawab sebenarnya poligami itu relevan jika terjadi perang besar, tsunami atau gempa bumi dahsyat yang menewaskan separuh dari jumlah laki-laki. Maka sah-sah saja jika laki-laki beristri lebih dari satu karena itu untuk kepentingan sosial.
Pelajaran adil dalam poligami ini mengingatkan saya akan buku Istriku Seribu yang ditulis oleh Emha. Dalam buku itu, konteks adil dalam poligami sesungguhnya Tuhan sedang mengajak diskusi manusia. Memang Tuhan seolah membolehkan laki-laki untuk menikahi lebih dari satu istri. Tapi dibatasi hanya sampai empat istri. Untuk syarat berikutnya, suami itu harus berlaku adil. Nah, dalam konteks ini Tuhan mengajak diskusi dengan menambahkan ayat yang berbunyi “tidaklah engkau (wahai lelaki) sesekali akan pernah pernah mampu berbuat adil.” Ketidakmampuan laki-laki sulit berlaku adil dalam film ini dipertegas dengan pernyataan Arya yang mengakui bahwa ia termasuk laki-laki yang tidak perkasa karena ia sering berlaku tidak adil. Poligami adalah laku yang berat, paling tidak harus melewati dua hal, yaitu: bencana besar dan berlaku adil. Apakah bisa?
Rayya tidak pernah kuliah di universitas terkenal. Perjalanannya dengan Arya kali ini dimaknai sebagai kuliah di universitas kehidupan. Bunuh diri yang semula termaknai sebagai menghilangkan nyawa diri sendiri, di akhir cerita dimaknai Rayya sebagai membunuh keegoisan diri. Ia belajar tentang kesejatian hidup dari orang-orang yang ditemuinya: dari Bu Dhe, penjual karak, ibu-anak pemecah batu. Rayya menyebut mereka sabagai cahay yang dicarinya selama ini. Setelah belajar dari mereka, Rayya telah berhasil membunuh keegoisan diri sendiri. Saya jadi teringat ungkapan Sudjiwo Tedjo: jika kau putus cinta, ngobrollah dengan ahli purbakala. Maka kau akan mengetahui jika persoalan cintamu itu sepersekian kecil partikel dari alam raya ini. Mungkin hanya sebesar debu di tengah jagad raya yang maha luas ini. Banyak sekali persoalan hidup yang lebih penting dipikirkan daripada hanya memikirkan masalah putus cinta.
Romantis dan Tempat yang Wah
Sepanjang perjalanan film ini, penonton dimanjakan akan tempat-tempat dengan pemandangan yang indah seperti hamparan laut, deretan tebing di Gunung Ijen, Gunung Penanjakan, Gunung Bromo, dan Kawasan Candi Gedong Songo. Selain itu penonton juga disuguhkan dengan dialog-dialog yang indah dan puitis. Rayuan Arya ditampilkan dengan gaya yang elegan. Hal ini terdengar ketika mereka “terjebak’ dalam satu kamar hotel karena kamar lain sudah habis dipesan. Dalam dialog yang panjang, Rayya mengutarakan memilih untuk dendam karena sakit hati dikhianati oleh kekasihnya, Bram. Maka ia mengupamakan dirinya sebagai raksasa atau Denawa karena hatinya buruk, penuh dendam. Sedangkan Arya yang juga dikhianati istrinya, memilih untuk tidak dendam dan tetap menegakkan keadilan dan membeberkan setiap kebenaran. Berbanding terbalik dengan dirinya, Rayya menyebut Arya seperti Dewa yang hatinya penuh kebaikan. Mendengar kata-kata ini, Arya menjawab “Jangan menganalogikan kita sebagai Dewa dan Denawa karena mereka tidak bisa bersatu dalam sebuah hubungan.” Romantis sekali bukan?
Film ini menyajikan setting yang indah, kata-kata yang puitis dan sarat makna serta pelajaran-pelajaran hidup. Satu lagi, jika biasanya orang-orang (miskin)Indonesia ditampilkan sebagai orang yang lemah, dalam film ini mereka tampil dengan kearifan yang khas,(Tri Umi Sumartyarini***

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on September 26, 2012, in Film/Sinetron. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: