JAWA MEMANDANG JANDA

Cobalah Anda membuka situs mesin pencari google kemudian ketik kata ‘janda’ di kolom berita maka Anda akan menemukan berita – berita negatif tentang janda. Masih di situs yang sama ketiklah kata ‘janda’ di kolom gambar maka Anda akan mendapatkan gambar-gambar bagian tubuh tak berbusana. Apa yang ditunjukkan oleh mesin pencari google tersebut adalah cerminan pandangan masyarakat tentang janda.
Pandangan masyarakat terhadap janda tersebut dibangun, dikokohkan melalui berbagai hal seperti cerita rakyat, iklan, termasuk stereotip dalam lagu. Stereotipe menurut Mansour Fakih (2005, 17) adalah pelabelan atau penandaan terhadap suatu kelompok tertentu. Banyak sekali ketidakadilan terhadap perempuan bersumber pada stereotip yang dilekatkan kepadanya. Misalnya saja seorang perempuan berdandan dianggap menggoda laki-laki, akibatnya setiap kali ada pemperkosaan maka masyarakat menyalahkan korbannya. Kita dapat melacak streotip orang Jawa terhadap Janda melalui lagu.
Stereotip janda dalam lagu terutama yang berbahsa jawa yang pertama adalah anggapam bahwa janda ompong atau tidak utuh lagi. Dalam lagu ‘Angge-Angge Orong Orong’ karya Jhony Sayekti dan Ragi Suro Bangkit, janda disebut randha ompong. Ompong adalah sebutan bagi seseorang yang telah tanggal satu atau beberapa giginya. Ompong bisa berarti sudah tua atau sudah tidak utuh lagi, ada bagian yang sudah berkurang. Sebutan janda dengan pedotan,  sisa, ompong, dan bekas tersebut memberi konsekuensi janda dipandang dan diperlakukan sebagai mainan para lelaki.
Kedua janda dilabeli sebagai manusia yang murah. Hal tersebut tersampaikan dalam lagu berjudul ‘Randha Gunung’. Munurut pendapat si laki-laki bahwa menikah dengan gadis berat beban yang harus ditanggung. Lawan berat adalah ringan. Akhirnya, si laki-laki memilih si janda yang dianggap lebih ringan atau lebih murah beban yang harus ditanggung.
Masyarakat memandang kegadisan adalah hal yang utama yang harus di jaga. Kegadisan dihargai tinggi di dalam masyarakat. Pengetahuan masyarakat kegadisan ditandai dengan keluarnya darah di alat reproduksi perempuan saat malam pertama. Gadis lebih dihargai dibanding janda karena dianggap masih seret, sedangkan janda karena sudah pernah digunakan maka sudah longgar. Munculnya obat – obatan, ramuan – ramuan yang menawarkan kasiat dapat mengembalikan kegadisan banyak muncul dalam iklan di media cetak maupun tulis adalah bukti bahwa gadis lebih bernilai dibanding janda karena anggapan kesempurnaan alat seksualitasnya.
Untuk menyebut janda masyarakat menggunakan kata pedotan atau putus, turahan, siso atau sisa, dan bekas. Dalam cerita rakyat yang berjudul Ande – Ande Lumut,  si tokoh laki – laki memilih Kleting Kuning karena perempuan yang lain dianggap sudah sisanya si yuyu kangkang.
Pedot memiliki arti putus. Seperti layang-layang yang putus benangnya maka layang-layang tersebut sudah milik khalayak yang menemukannya. Turahan, sisa, dan bekas menyamakan perempuan sebagai hidangan yang siap disantap dan janda adalah sisa dari makanan yang disantap tersebut. Tentu saja kualitas makanan sisa tak sebagus hidangan utama.
Penggoda
Ketiga, dalam lagu ‘Mabuk Janda’ karya H. Ukat S dan ‘Janda Kembang’ yang dipopulerkan oleh Elvi Sukaisih, janda dilabeli sebagai perusak rumah tangga. Istri menuduh suaminya tergila-gila dengan janda. Janda olah istri dianggap sebagai perempuan penggoda para suami. Janda bahkan disamakan dengan barang perusak yang lain seperti minuman beralkohol dan perilaku judi. Menurut Franz Magnis Suseno (2001,139)  kepustakaan dan tradisi pendidikan Jawa terdapat berbagai nafsu yang berbahaya dan harus dihindari yang disebut Malima yaitu singkatan dari madat, madon, minum, mangan, dan main. Daftar nafsu yang harus dihindari ini bias gender, tidak memenuhi keadilan gender karena aturan tersebut hanya diperuntukkan bagi laki-laki. Aturan ini meniadakan perempuan, seolah-olah tidak ada perempuan. Hadirnya perempuan di dalam aturan itu sebagai hal yang harus singkirkan. Janda disetarakan dengan judi dan minuman keras. Objek para peminum adalah miunman keras seperti bir dan wiski, objek para penjudi adalah wiski, taruhan bola dan jenis judi yang lain. Sedangkan objek orang madon adalah Pekerja Seks Komersial (PSK) dan janda.
Kelima, janda adalah objek seksualitas laki-laki. Yang kempling seperti terungkap dalam lagu ‘Kempling’ karya Manthos dan enak rasane dalam lagu ‘Angge-Angge Orong – Orong’ adalah sesuatu yang disajikan untuk laki-laki. Janda harus bersaing dengan gadis dan istri untuk merebut perhatian laki-laki.
Lagu bertema janda itu semakin mengukuhkan dan mengkontruksi pikiran masyarakat.  Pelabelan itu dapat berakibat terjadinya kekerasan baik fisik maupun psikis terhadap janda. Hal tersbut perlu disadari oleh masyarakat terutama kreator lagu. Jangan sampai hal yang dibuat dengan niatan hiburan malah membuat orang lain (janda) celaka. Lagu – lagu yang berpihak kepada janda perlu dihadirkan.
Meski sedikit ada juga lagu yang menyatakan penolakan terhadap stereotip yang disematkan terhadap janda. Janda dalam lagu ‘Kempling’ menolak malu, bahkan ia memanfaatkan ketertarikan si laki-laki dengan menyuruh si laki membantu mengangkatkan barang dagangannya.
Pada bait kedua lagu ‘Janda Kembang’, si janda menolak pelabelan terhadap janda dengan mengatakan; //Apakah benar itu semua/ janganlah engkau mudah percaya/ mungkin ada janda seperti mereka/ tapi aku tiada pernah merasa//.
Melalui lagu ini, janda meminta kepada kita (pendengar)  untuk memahami bahwa mungkin ada janda yang penggoda tetapi masih banyak janda yang baik akhlaknya. Pandangan masyarakat tersebut adalah vonis tanpa pembuktian terhadap janda. Layaknya kita harus mengubah pandangan tersebut, karena pandangan kita merupakan penderitaan bagi mereka yang berstatus janda.

Muhajir Arrosyid, S.Pd., M.HumCivitas akademika IKIP PGRI Semarang, menulis tesis tentang lirik lagu bertema janda

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Oktober 12, 2012, in Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: