JIKA (NANTI) INDONESIA MAKMUR

Baru-baru ini hubungan RI-Malyasia kembali terusik. Penyebabnya adalah sebuah iklan yang berbunyi “Indonesian maids now on SALE”. Iklan ini menawarkan kemudahan mendapatkan tenaga kerja dari Indonesia dengan iming-iming diskon.
Menteri tenaga kerja dan transmigrasi Muhaimin Iskandar menilai iklan itu dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang mau mengusik hubungan kedua negara.  Masalah Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malyasia telah terjadi berulang hingga sempat diadakannya moratorium. Setelah menyepakati beberapa perjanjian baru antara dua belah pihak pemerintah mencabut moratorium penempatan TKI ke Malaysia pada Desember 2011.
Sebuah negara disegani oleh negara lain salah satu faktornya adalah kesejahteraannya. Kita harus akui, Indonesia seringkali dilecehkan oleh negara lain. Mereka masih menganggap negara kita sebagai negara yang miskin. Indonesia dikenal sebagai negara pemasok pembantu rumah tangga yang mengerjakan pekerjaan domestik. Pekerjaan domestik seperti memasak, mencuci, mengepel, mengasuh anak hingga hari ini masih dianggap sebagai pekerjaan rendah yang tidak perlu dikerjakan oleh tenaga profesional. Maka pekerja domestik ini biasanya dibayar murah dan seringkali mendapatkan kekerasan baik fisik maupun psikis. Kasus penganiayaan yang menimpa TKI bernama Siti Hajar adalah salah satu contoh. Siti Hajar disiksa majikannya di Malaysia, Michele, pada 7 Juni 2009, hingga mengalami luka parah.
Salah satu tujuan utama didirikannya Negara Indonesia adalah untuk mensejahterakan bangsanya. Untuk mencapai kesejahteraan itu selain kerja terus menerus kita harus mampu meletakkan diri kita dipergulatan bangsa-bangsa di dunia. Meletakkan diri akan menentukan pandangan kita (perspektif) dan sikap kita sebagai bangsa. Bagaimana kita meletakkan diri menentukan nasib kita dimasa datang sebagai bangsa. Perspektif  dibentuk melalui mitos, dongeng, bahkan bisa melalui media populer seperti iklan.
Perspektif
Banyak orang asing belajar Bahasa Indonesia karena ingin menguasai Indonesia. Mereka dapat melakukan bisnis di Indonesia. Bahasa Indonesia yang mereka pelajari adalah kalimat-kalimat perintah untuk mengatur orang Indonesia. Sementara kita belajar Bahasa Inggris untuk memahami pekerjaan agar paham diperintah oleh orang asing yang tidak bisa berbahasa Indonesia. Perspektif ini harus kita ubah. Kita belajar bahasa apapun harus dengan tujuan menguasai bukan dikuasai.
Jaya Suprana dalam salah satu bukunya menuliskan kisah tentang pangeran Charles yang belajar bahasa Weles. Karena sebagai putra mahkota kerajaan Inggris maka orang Weles sangat membenci Charles. Agar tidak dibenci lagi maka Charles belajar keras selama dua Minggu bahasa Weles. Pada suatu kesempatan saat pidato kenegaraan resmi selama tiga puluh menit Charles berpidato menggunakan bahasa Weles. Setelah itu orang Weles tidak lagi membenci Charles bahkan berbalik mencintainya. Ini contoh bahasa dapat menakhlukkan.
Konon orang Korea mengampanyekan kalimat “Jangan malas seperti orang Jepang”. Padahal kita selama ini mengenal betapa rajinnya dan disiplinnya orang Jepang. Korea meletakkan diri bahwa mereka lebih rajin dibanding Jepang. Setelah meletakkan diri mereka kemudian memandang dan benar-benar bersikap lebih rajin dari Jepang.
Kita bisa belajar dari kasus di atas. Misalnya saja, saat kita mengirim TKI bukan hanya ingin mendapatkan uang tetapi juga belajar dan memperhatikan pola hidup di negara lain. TKI bisa memperhatikan bagaimana mereka bekerja, bisnis apa yang dijalankan, jam berapa mereka bangun, jam berapa mereka tidur, dan hal-hal detail lain yang kira-kira menyebabkan mereka sukses. Saat kembali di Indonesia dengan modal yang sudah dikumpulkan, TKI tersebut dapat mempraktikkan yang telah ia pelajari diam-diam di negara tempatnya bekerja.
Contoh lain, selama ini kita mengimport garam tetapi tidak pernah belajar bagaimana memproduksi garam yang bagus. Apa yang di produksi di dalam negeri oleh rakyat sendiri menjadi produk kelas dua dan digunakan setelah produk kelas satu habis. Tentu saja mengimport boleh, tetapi negara yang memiliki perspektif maju tidak terus-menerus mengimport. Apalagi Indonesia adalah negara yang memiliki pantai yang cukup luas. Harusnya import sekali kemudian contoh dan buat yang lebih bagus.
Sekarang kita harus memilih tempat di mana diri kita meletakkan diri. Tentukan pilihan di tangan kita sendiri. Dalam istilah sepak bola, untuk menjadi pemenang kita harus pegang kendali permainan. Jangan menunggu orang lain meletakkan kita di posisi yang baik, karena itu tidak mungkin.
Indonesia makmur sejahtera adalah kepentingan kita. Indonesia tetap terpuruk dan miskin adalah kepentingan asing. Jika pada suatu saat nanti Indonesia sejahtera mereka akan kehilangan pembantu rumah tangga. Orang-orang Indonesia tidak ada yang mau menjadi pembantu rumah tangga padahal mereka sudah lupa caranya mencuci piring dan mengepel lantai. Mampuslah.

Muhajir, S.Pd., M.Hum. – Civitas Akademika IKIP PGRI Semarang.

Dimuat di koran Wawasan 05 November 2012

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on November 5, 2012, in Opini and tagged , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: