AJARAN WELAS ASIH DARI VIHARA GUNUNG KALONG

Tampak depanJika Anda bosan mengunjungi tempat wisata yang biasa-biasa saja, sekali waktu cobalah berwisata di tempat ibadah agama lain. Ngobrollah dengan pemeluk agamanya. Dari mereka Anda akan mendapat pengetahuan baru, kearifan agama, plus tempat yang indah pula. Tidak percaya? Coba saja berkunjung ke Vihara Gunung Kalong, Ungaran.
Aku dan suami mendapat kabar dari seorang teman di Ungaran ada vihara unik. Namanya Vihara Gunung Kalong. Dalam imajinasi kami, di vihara ini akan banyak dijumpai kalong yang keluar masuk vihara. Imajinasi yang kuat ini membuat kami tidak sabar untuk segera sampai di vihara. Benarkah di sana banyak kalong yang terbang dan bergelantungan di langit-langit vihara?
Berbekal sedikit informasi dari seorang teman itu, kami segera mengunjungi Vihara Gunung Kalong. Senin sore (28 Januari 2013) sekitar pukul 15.00 kami memacu motor menuju Ungaran. Ternyata tidaklah sulit untuk mencapai lokasi ini. Kami hanya memerlukan waktu kurang lebih satu jam dari Kota Semarang. Vihara ini berlokasi di Gunung Kalong Desa Susukan Kecamatan Ungaran Barat Kabupaten Semarang. Lokasinya yang berada di atas bukit membuat vihara ini mudah terlihat dari bawah.
Memasuki Vihara Gunung Kalong jalan menanjak segera menyambut. Kami segera memindahkan perseneling ke tingkat satu dan menarik gas motor sekuatnya karena tidak mau motor kami bergerak turun. Di tempat parkir, seorang pria setengah baya juga memarkir motor. Namanya Pak Suparman. Rupanya ia salah satu pengelola di vihara ini. Kami bertanya apakah vihara ini dibuka untuk umum, Ia menjawab “iya” dan mempersilakan kami masuk ke vihara jika ingin melihat keadaan di dalam. “Tapi kalau mau tanya-tanya lebih lanjut, silakan saja datang ke kantor dan menemui Om Jim,” saran Pak Parman seraya mengantar kami naik ke atas vihara.
Memasuki vihara, kami harus menaiki tangga yang meliuk-liuk dan banyak. Rupanya bangunan vihara ini menyesuaikan topografi tanah yang berbukit. Ruangan bawah digunakan untuk menyimpan keperluan beribadah. Sedangkan tempat peribadatan utama terletak di lantai paling atas. Di samping tempat peribadatan, terdapat panggung besar dan terdapat replika bunga teratai. Di depan panggung terdapat empat buah ember besar merah yang airnya penuh. Untuk apa ember-ember ini? Kami penasaran.
Karena letaknya diketinggian keindahan kota Ungaran terlihat jelas ketika kami sampai di atas bangunan vihara ini. Jalan tol Semarang-Ungaran. Pelataran Vihara digunakan oleh anak-anak bermain.
Ada seorang bapak memboncengkan istri dan anaknya naik ke bukit gunung kalong, menikmati pemandangan Ungaran dari ketinggian. Setelah kami naik rupanya ada keluarga lain yang ada di halaman Vihara Gunung Kalong.
Vihara tersebut didominasi warna putih dan beberapa warna merah. Tangga-tangga dan gerbang berwarna merah. Terdapat gambar naga berwarna hijau berukuran besar di dinding terlihat jelas dari kejauhuan.
LampiaonAngin semilir keluar masuk vihara karena bangunan vihara semi terbuka. Lampion bergelantungan di langit-langit vihara. Ada bedug yang digantung di sela lampion. Oh ya, satu lagi yang segera menarik penglihatan kami, di tengah bangunan vihara, ada dua buah pohon besar menjulang di atas bukit ini. Sepertinya dua pohon ini sengaja dibiarkan tumbuh dan bangunan menyesuaikan pohon-pohon itu. Tapi tunggu dulu mana kalongnya?
Tidak menunggu lama kami menuju kantor sekretariat vihara yang berlokasi di sebelah kanan tempat ibadah utama. Di depan kantor, beberapa orang duduk santai. Kami mendekati mereka. Ternyata mereka sedang membicarakan persiapan kegiatan Pemandian Kim Sin, suatu ritual memandikan rupang Siddharta atau patung Siddharta yang akan diselenggarakan pada tanggal hari Minggu 3 Februari 2013, seminggu sebelum tahun baru Imlek.
Dari mereka kami mendapat informasi bahwa Om Jim baru keluar sebentar. Kami dipersilakan untuk ngobrol bersama Pak Johan Purwosasmito. Sebelum ngobrol kami juga dipersilakan melihat-lihat keadaan vihara. Sesekali kami bertanya benda-benda yang menarik perhatian. Empat buah ember yang berjajar rapi tidak luput dari rasa penasaran kami. Tentang empat buah ember itu Pak Johan bercerita bahwa baru saja ada ritual pelepasan makhluk hidup atau Fang Sheng. “Kemarin ada umat yang melepas lele. Kadang ada juga burung, kodok, pokoknya hewan-hewan yang mudah ditemui saja,” katanya. Ia menjelaskan lebih lanjut bahwa Fang Sheng adalah ritual yang bertujuan untuk meruwat diri sendiri agar terhindar dari mara bahaya. Prinsipnya, semakin banyak menyelematkan kehidupan, akan semakin menambah kebaikan dalam hidup. Semua makhluk hidup berhak berbahagia. “Jadi, sekarang saya tidak membunuh semut bahkan nyamuk sekalipun. Kalau menggigit saya usir saja. Kami mengurangi pembunuhan,” ujar Pak Johan.
Namun sesaat setelah kami ngobrol dengan Pak Johan, Jimmy yang akrab disapa Om Jim ini datang membawakan dua gelas air mineral. Ia menanyai nama dan darimana kami berasal. Dari Om Jim kami mengetahui bahwa nama lengkap vihara ini adalah “Vihara Avalokittesvara Sri Kukus Redjo Gunung Kalong.”
Nama Avalokittesvara adalah nama dari Dewi Kwan In dalam bahasa Sanskerta. Dewi Kwan In adalah dewi welas asih, kasih sayang dan mengabulkan semua permohonan. Lalu, nama Sri Kukus Redjo berasal dari bukit tempat mendirikan vihara ini yang berbentuk kukusan (kerucut) dan redjo adalah makmur. Sedangkan nama Gunung Kalong karena memang dahulu di bukit ini tak ada yang tinggal di sini dan hanya dihuni banyak kalong. Ketika kami bertanya dimana sekarang kalongnya? Om Jim menjawab, “Saat ini hanya sedikit kalong yang singgah karena mungkin sudah didirikan bangunan dan banyak manusia yang datang. Jadi, mereka tidak singgah di sini lagi.” Namun ternyata ada cerita versi lain menyebutkan nama Gunung Kalong berawal dari cerita bahwa dahulu di tempat ini pernah disinggahi Ki Ageng Pandanaran yang sedang bertapa. Naas baginya, di tempat ini bekal perjalanannya dicuri sehingga berkurang. Kata kurang dan dalam bahasa Jawa disebut kelong. Maka disebutlah tempat ini Gunung Kalong.
Vihara Gunung Kalong pertama kali didirikan oleh Suhu Siok Hie atau Joyo Suprapto. Suhu Siok Hie merupakan pengembara dan pertapa dari Semarang. Ia mengembara dan sampai di Gunung Kalong sekitar tahun 60-an. Di tempat ini ia bermeditasi dan mendapat ilham untuk mendirikan tempat ibadah. Sekitar tahun 1963, vihara ini mulai dibangun dan pada tanggal 12 Juli 1963 resmi disahkan oleh pemerintah. Saat ini Vihara Gunung Kalong dirawat oleh Yayasan Sri Kukusredjo.
tampak depanSuhu Siok Hie memiliki kemampuan dalam menyembuhkan berbagai penyakit dan tempat konsultasi segala permasalahan hidup. Permasalah hidup di sini dari masalah keluarga, bisnis, sampai perjodohan. Ketika kami bertanya bagaimana cara dia menyebarkan agama Buddha di daerah ini, Om Jim menjawab, “Setahu saya dia tidak menyebarkan agama Buddha dengan metode tertentu. Karena memeluk agama Buddha tidak boleh dengan paksaan. Hanya mungkin karena dulu orang dating padanya dan berharap kesembuhan, banyak orang bersimpati,” ulasnya.
Suhu Hiok Sie tutup usia pada 85 tahun, lima tahun yang lalu. Kini, sudah ada 2 generasi yang meneruskan posisi Suhu Siok Hie sebagai tempat konsultasi. Generasi ke dua adalah Suhu Tjing yang bertempat tinggal di Banyubiru dan generasi ke tiga ialah Suhu The Tjeo Thwan yang bertempat tinggal di Temanggung. Lalu mengapa suhu-suhu ini tidak tinggal di vihara ini saja? Menurut Om Jim karena mereka berkeluarga mereka harus turun gunung. Ini sudah peraturan di vihara ini. Suhu yang berkeluarga tidak boleh tinggal di vihara. Jadi setiap hari mereka menempuh perjalanan dari rumahnya ke vihara untuk melayani peziarah. Seperti Te Tjeo Thwan yang setiap hari berangkat dari Temanggung ke Ungaran untuk melayani peziarah. Sayangnya hari itu kami tidak bertemu dengan suhu Te Tjeo Thwan karena sedang ada halangan.
Di dalam ruang sembahyang di atas altar terjajar rapi seribu buah rupang (patung) Buddha Penyembuhan yang biasa disebut Bhaisajyaguru Vaidurya Prabhasa Tathagata atau Yao-Se-Fo. Di vihara ini dibuka kesempatan bagi siapa saja masyarakat yang ingin menitipkan doa lewat seribu Buddha. Caranya dengan menuliskan identitas dan doa pada selembar kertas Hudco yang disediakan oleh sekretariat vihara. Kertas-kertas Hudco tersebut nantinya akan diselipkan di bawah patung-patung Buddha. Patung-patung Buddha ini dipercaya senantiasa memberi berkah serta perlindungan dan penyembuhan bagi yang datang dan berdoa di vihara ini.
Proses penyembuhan yang unik ini membedakan vihara ini dengan vihara lain. Nama Avalokittesvara diilhami dari sifat Dewi Kwan In yang welas asih, kasih sayang dan mengabulkan segala permohonan. Semangat dari sifat dari Dewi Kwan In inilah yang dipakai vihara ini untuk menyelenggarakan pelayanan tidak hanya pada umat budha saja, namun bagi semua umat manusia. Benar-benar ajaran yang menyejukkan bukan?
Senja mulai turun kala kami memutuskan untuk pamit. Kami menuruni tannga vihara seiring malam yang kian menyambut. Di luar, lampu kerlap kerlip Kota Ungaran mulai memanjakan mata. Angin semilir masih menyapa kami mengirimkan kesejukan ajaran Buddha. Bukankah semua umat berhak berbahagia?***

(Ditulis oleh Tri Umi Sumartyarini, fersi pendeknya dimuat di Harian Detik)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on April 25, 2013, in Jalan-jalan and tagged , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: