Harusnya gaji guru TK sama dengan gaji dokter anak

Kali ini kita akan ngobrolkan tentang guru. Obrolan dengan materi ini sudah pernah saya obrolkan melalui akun twitter @muhajir81, tapi saya merasa perlu menarasikannya biar lebih terbaca. Betapapun di twitter sangat terbatas. Berikut ini adalah pendapat saya tentang guru Taman Kanak-kanak (TK). Guru TK harus bergaji sama dengan dosen, seperti dokter anak juga dibayar sama dengan dokter orang dewasa.

Tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang nasib guru TK, kebetulan kemarin saya berpapasan dengan guru TK saya, namanya Bu Sih. Beliau salah satu guru terbaik yang pernah saya kenal. Saya diajar olehnya sudah duapuluh lima tahun yang lalu tetapi detail kebersamaan saya dengannya masih tergambar jelas. Saya masih ingat saat saya sakit, beliau sering datang berkunjung membawakan roti bolu.

Saat ini Bu Sih masih mengajar di sekolah tempat saya belajar dulu. Masih persis sama seperti dulu, mengendarai sepeda mini warna merah, dibagian depan terdapat keranjang tempat menaruh tas dan beberapa buku. Dulu kami sering menunggunya, saat beliau datang kami segera menyambutnya dengan ucapan “Selamat pagi bu guru” dan mencium tangannya. Beliau kadang keras bicaranya, tapi kami tetap saja sayang.

Saat saya sudah bekerja, bersama teman-teman yang dulu sekelas datang berkunjung. Waktu itu habis magrib dalam suasana lebaran. Ya, kami berhasil mengagetkan guru yang ramah itu. Yang bersedia mengantar kami ke kamar kecil dan mengendong saat kami menangis. Rumah beliau masih seperti dulu, bahkan sekarang lebih sempit karena sudah dibagi dengan anaknya. Rumah itu berdinding papan, berlantai papan, dan beratap tanah dibakar. Di mata belaiu saya menatap ketulusan seorang guru. Guru baginya adalah jalan hidup. Menjadi guru baginya adalah segala-galanya.

Darinya saya belajar bagaimana sebenarnya ketulusan itu, bagaimana sebenarnya menjadi guru. Dua puluh lima tahun mengajar bukan waktu yang singkat. Menjadi guru sekolah taman kanak-kanak swasta di sebuah kampung yang di kelilingi tanaman jagung, Anda bisa bayangkan berapa gajinya. Dan guru-guru seperti bu Sih ini banyak kita dapatkan di Indonesia

Menjadi guru bukanlah hal yang mudah, apalagi menjadi guru taman kanak-kanak. Maka tidak banyak orang mampu dan mau menjadi guru TK. Negeri ini dan masyarakatnya masih terlalu jahat terhadap guru TK. Masih ada di hari ini di negara yang bensinnya seharga 65000 rupiah, guru TK nya yang dibayar 250.000 rupiah.

Menjadi guru itu berat, sama beratnya dengan menjadi dokter. Seorang dokter jika salah diagnosis, salah memberi obat akan berakibat fatal terhadap kesehatan anak. Demikian pula guru, jika guru salah memperlakukan anak akan berakibat fatal terhadap masa depan anak. Sebagai contoh dalam pelajaran menggambar, seorang siswa yang sangat percaya diri menggambar dan yakin lukisannya bagus tiba-tiba gurunya bilang “kamu enggak bakat menggambar” atau memberi nilai dengan nilai yang jelek hanya karena selera gambar anak tidak sesuai dengan selera gambar guru. Maka pada saat itu juga sang anak akan kehilangan kepercayaan dirinya. Ia kemudian berkeyakinan bahwa dia tidak bakat menggambar. Masa anak-anak adalah masa yang sangat rawan, anak sangat mudah menangkap sesuatu tetapi juga sangat susah melupakan sesuatu. Maka diperlukan guru-guru yang mumpuni pula.

Guru seperti yang saya tahu dari guruku itu harus memiliki kesabaran tingkat tinggi. Tidak semua anak penurut, banyak sekali yang badel dan tidak mau duduk tenang dibangku. Banyak pula yang sukanya mengganggu temannya. Saling rebut maunan. Sering sekali satu di antara kami menangis. Tak jarang pula kami pipis di celana, siapa yang membersihkan? Siapa lagi kalau bukan guruku itu.

Modal seorang guru adalah ilmu pengetahuan yang akan diajarkan kepada siswa. Modal ini biasa di dapat di bangku kuliah. Tapi ada dua modal lagi yang tumbuh dari hati seseorang yang akan menjadi guru yaitu kecintaan terhadap murid dan kemauan berbagi. Kenapa seseorang cinta terhadap murid dan ingin berbagi itu macam-macam alasannya, ada yang karena cinta terhadap bangsa dan negaranya, dan alasan-alasan yang lain.

Di Indonesia untuk pendidikan yang lebih rendah biasanya tingkat pendidikan gurunya juga lebih rendah. Misal, guru TK tingkat pendidikannya lebih rendah dibanding guru SD, guru SD lebih rendah dari pada guru SMP, dan selanjutnya. Hal ini sebanding dengan penghasilannya. Penghasilan guru TK lebih rendah dari guru SD, penghasilan guru SD lebih rendah dari guru SMP, dan selanjutnya. Guru TK ada yang di gaji 200 ribu perbulan, guru SD ada yang digaji 300 perbulan, dan seterusnya.

Kita lanjutkan. Apakah mengajar anak TK lebih gampang dibanding mengajar  mahasiswa? Belum tentu. Semua memiliki tingkat kesulitan masing-masing. Dan bisa jadi mengajar anak TK lebih sulit dibanding mengajar mahasiswa. Istri saya yang pernah mengajar TK dan PAUD katanya lebih sulit mengajar PAUD. Itu mengindikasikan lebih kecil usianya akan lebih sulit mengajarnya. Artinya apa? Seharusnya gaji dosen dan guru TK itu sama, tapi sama juga jenjang pendidikannya. (he he he, apa negara ini mampu ya?)

Terakhir. Saya contohkan, bukankah dokter anak gajinya dan tingkat pendidikannya tidak kalah dengan dokter orang dewasa? Ya karena karena sebenarnya sama pentingnya, pendidikan anak dan pendidikan orang dewasa. Semoga kita dalam proses berbenah. Apa otak yang yang kacau yang harus berbenah? (muhajir arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: