MENJELANG RAMADHAN DI KOTA DEMAK

Matahari tepat di  belakang  Masjid  Agung  Demak. Saya,  istri dan Fikri, keponakanku  sore itu (08/07) pukul 16.00. WIB  menuju alun-alun Masid Agung Demak. Masjid yang sangat bersejarah, di kunjungi oleh umat muslim  seluruh  penjuru Indonesia hingga negara tetangga.  Sore  itu memang lebih ramai dari sore-sore biasanya. Rupanya ada perayaan menyambut dilaksanakannya  ibadah puasa, ibadah wajib bagi orang muslim selama satu bulan penuh. Mulai masuk area  alun-alun mata kami disuguhi  arak-arakaan barnongsai yang dimainkan oleh  anak-anak. Kalau biasanya naga yang dimainkan berwarna merah, kali  ini  sang naga berwarna  hitam.Gambar

Kami memutar alun-alun, melewati masjid,  swalayan, rumah tahanan, hingga penjaja  makanan yang mengelilingi  alun-alun.  Sekira di depan  rumah tahanan  ada tetabuhan  gending dan  kerumunan  yang membuat kami penasaran. Rupanya ada pementasan barongan. Barongan ini adalah kesenian khas  Demak, berasal dari daerah-daerah pantai. Barongan khas Demak meskipun ada kesamaan dengan barongan-barongan lain  yang pernah ada tetapi  tetap memiliki khas sendiri. Barongan  yang  biasa di  tanggap  saat  acara   sunatan itu  menari  sangat indah di  bawah matahari yang tinggal hitungan menit akan tenggelam.

Untuk menyambut Ramandhan  setiap  daerah memiliki tradisi masing-masing, jika kota Semarang memiliki  tradisi yang  bernama  dugderan, kudus  bernama  dandangan, kalau kota  Demak memiliki nama  megengan. Saya  kira  kata  megengan  dari alat bunyi  bedug  yang dipukul terus menerus  sehari sebelum ibadah dimulai sebagai petanda  sekaligus pengumuman bahwa ibdah  puasa  ramandhan akan segera  dimulai. Di kampung-kamung  di  daerah Demak megeng tadi biasa dilaksanakan oleh anak-anak  dengan suka ria sehari sebelum ramandhan setelah  ashar.

Sore  itu  berbagai  makanan dijajakan, tidak  saja  makanan tetapi juga mainan  anak-anak,  di salah satu sudut lapangan  para  remaja asyik  bermain  skateboard menandai bahwa  budaya  gaul telah masuk  juga  di kota  ini, disudut  yang lainnya  anak-anak kesana  kemari bermain sepatu roda.  Sore itu di alun-alun memang menunjukkan bahwa Demak  adalah kota dengan penduduk  yang beragam.  Di salah  satu  sudut terlihat berjejer muda-mudi saling menggoda, banyak juga  perempuan-perempuan cantik berpakaian seksi, tapi juga  tidak  kalah banyak santri-santri berkerudung  bersarung ke sana-kemari.  Memang  di  sekeliling  masjid  Demak banyak berdiri pondok pesantren.

Oh ya,  tapi saya belum menemukan  penjaja sate keong yang konon  banyak dijajakan  dan menjadi  ciri megengan di setiap tahun. Kenapa keong?  Sayapun belum mendapatkan jawaban pasti. Mungkin karena masyarakat agraris. Demak selain  berpenduduk sebagai nelayan juga banyak yang  sebagai  petani sedangkan keong banyak hidup di sawah-sawah  di Demak.

Kemarin saya baru  saja menghadiri   acara peluncuran buku yang  kebetulan dilaksanakan  di Kedai Mama, kedai milik sejarahwan kota Semarang Yongki Tio,  di kedainya   kamipun sempat bertegur  sapa. Dalam acara tersebut  juga dihadiri oleh  budayawan  kota Semarang  Djawahir Muhamad. Kalau ada  orang mau bertanya-tanya  tentang kota Semarang masa  lalu  atau tentang  budaya Semarang, tanyakan  saja kepada kedua orang ini.  Melihat  dua orang ini  saya jadi  cemburu.  Kepada siapa  saya  yang  masih muda ini jika ingin bertanya tentang  sejarah   Demak dan  budaya  Demak secara lebih  dalam, lebih  detail selain yang  sudah  ada  di buku-buku? Siapa orang Demak yang  pengetahuannya  tentang  Demak melebihi siapapun.

Saya berkeyakinan Demak memiliki  sejarah dan budaya  yang tidak  kalah keren  dibanding dengan daerah lain. Melalui  sungai mana kira-kira kapal-kapal kerajaan Demak keluar menuju laut? Juga perlu keberanian menetapkan dimana  letak kerajaan Demak, dan jika pada suatu ketika terjadi kesalahan  tidak jadi soal  karena dapat diperbaiki.

Apasih yang kurang di Demak ini? Tidak ada yang kurang, tetapi jika ingin budaya dan sejarah Demak  lebih termaknai perlu adanya penelusuran sejarah dan pengembangan tradisi ilmiah  di kota  yang memiliki sore yang romantis ini. Kelompok  diskusi  dan penguatan perguruan tinggi di kota ini harus di dorong untuk  tumbuh dengan optimal.

Demak adalah tempat  yang eksotis  dan  tidak hanya  memiliki belimbing dan jambu air. Demak  memiliki  warisan budaya yang khas. Demak memiliki cerita-cerita rakyat, lagu-lagu  rakyat. Dengar saja indahnya pujian setelah adzan. Atau irama-irama berzanji di pengajian yasin setiap kamis malam. Harus  ada  upaya dokumentasi  terhadap hal itu semua kalau tidak  mau kehilangan.

Masuklah sedikit  ke  perkampungan jika kamu beruntung akan menyaksikan mushola unik,  mushola model lawas  seperti  rumah  panggung dengan bahan  kayu  jati yang  papannya tidak  rata.  Inipun  tidak  lama lagi akan hilang. Maka  saya  memimpikan   ‘Kampung Demak’.  Kampung Demak yang  saya impikan adalah sebuah kampung  wisata yang menyajikan budaya Demak.  Kampung ini  akan sangat  menarik jika ditempuh  melalui sungai  menggunakan perahu. Wisata sungai di Demak  sangat memungkinkan karena  di Demak  sangat banyak sungai.  Di kampung  itu  juga berdiri  bangunan rumah  Demak masa lalu plus   langgar panggung yang eksotis. Rebana  dan lagu-lagu lawas  yang  berisi  wejangan bisa juga dipertontonkan di kampung ini. Tentu saja baju sorjan bisa digunakan sebagai ciri  khas dan keharusan jika pengunjung mau masuk kampung, jambu air, dan belimbing  bisa dibuat  wisata  kebun.

Oh  saya  melantur  sampai mana-mana. Suara  tarkhim  dari  masjid agung telah  mengalun, tidak  lama  lagi adzan  magrib berkumandang. Tapi  para  remaja  masih asyik pacaran, penjual  dan pembeli  masih aktif bertransaksi  di  bawah tulisan asmaul  husna  yang  mengelilingi  alun-alun sampai  adzan  selesai dikumandangkan. Aktifitas masih berlangsung biasa,  mereka entah  sholat magrib dimana,  dan kapan saya tidak  tahu.  (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Jalan-jalan. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: