Menyembah Buku

Ada SMS masuk dari seorang teman, isinya pemberitahuan bahwa ada pameran buku di gedung wanita Semarang. Ia tahu aku suka sekali kalau ada pameran buku dan dapat di pastikan akan datang berkunjung. Tidak tahu kenapa dari dulu aku suka buku. Bapakku yang seorang guru Sekolah Dasar adalah kolektor buku meskipun bukunya terbatas masalah-masalah agama Islam. Bapak juga berlangganan majalah berbahasa Jawa Penyebar Semangat. Tidak hanya itu, Bapak juga membendel majalah tersebut perbulan kemudian dimasukkan ke dalam lemari. Jadi jika ada anak-anak datang, para tetangga berniat untuk membaca tinggal ambil saja.

Sedangkan aku hanya membuka-buka melihat gambar-gambarnya dan mengisi teka-teki silang. Karena majalah itu berbahasa Jawa, aku kesulitan membacanya. Penyebar semangat waktu itu memiliki ilustrator yang bagus, kalau cerita misteri ilustrasinya juga sangat mencekam. Iklan yang paling dominan di majalah tersebut dan mencuri perhatianku adalah iklan blue Band dan Livebuoy. Itulah persinggunganku awal-awal dengan buku.Gambar

                Kemudian saat menganjak sekolah menengah atas aku mulai menyukai buku-buku. Aku suka sekali buku-buku sastra. Bapak adalah kolektor dan penulis puisi. Setiap ada puisi atau geguritan yang bagus maka akan dikliping. Dari sinilah aku mulai suka dengan puisi. Saat sekolah di MAN aku membeli buku puisi yang sangat mengagumkan. Membuatku terperanjat, beda dengan puisi yang biasa diajarkan di kelas dari SD sampai SMA. Buku puisi itu berjudul PIDATO AKHIR TAHUN SEORANG GERMO karya penyair F. Rahardi. Aku juga keranjingan karya-karya Putu Wijaya baik cerpen maupun Novel. Aku tidak punya cukup uang waktu itu maka aku daftar sebagai anggota perpustakaan wilayah Jawa Tengah di jalan Sriwijaya.

                Buku cerita pendek yang aku beli pertama kali berjudul ‘GRAFITI IMAGI’, Ini adalah salah satu buku yang paling aku sayangi, dan sayang sekali buku tersebut dipinjam orang dan tidak dikembalikan. Dari buku ini aku terinspirasi menulis cerpen. Sampai kemudian aku bertemu dengan Pak Deswan, seorang penjual buku bekas yang baik hati. Pak Deswan menjual bukunya setiap Minggu pagi di Simpang Lima Semarang. Dari lapak Pak Deswan ini aku mendapatkan buku Sukarno-Penyambung Lidah Rakyat, Di Bawah Bendera Revolusi, Menulis dengan Emosi, Slilit Sang Kyai, dan masih banyak buku menarik lain yang aku dapat dari lapak Pak Deswan ini.

                Kemudian disegala suasana setiap mengunjungi sebuah kota aku selalu mampir di toko bukunya, atau setiap kali pameran buku diselenggarakan aku pasti menyempatkan untuk datang memilih buku-buku di antara tumpukan tidak beraturan. Sampai kemudian aku menyadari lemari buku di rumah sudah penuh. Buku-buku itu aku taruh di bok, kemudian aku membeli satu lemari lagi, ternyata penuh lagi. Dua lemari buku sudah penuh.

                Saat ibuku mampir ke rumahku beliau bertanya dengan pertanyaan sederhana tapi mengena. Katanya “Apakah buku-buku itu kamu baca semua Jir?” Jika hal tersebut yang menayakan bukan ibu mungkin tidak saya gubris. Semalaman aku tidak bisa tidur memandangi buku-bukuku dan memikirkan pertanyaan ibuku itu.

                Aku tersenyum sendiri di antara buku-buku itu. Dari semua buku yang aku miliki itu ternyata belum separuhnya habis ku baca. Maka untuk apa aku selalu menumpuk buku? Kalau membaca itu ibarat makan maka aku ini masih memiliki stok yang sangat cukup.

                Membeli buku harusnya untuk dibaca. Kemudian kita dapat menyerap informasi, menyerap ilmu sang penulis buku. Seperti dalam cerita-cerita persilatan seorang pendekar menemukan sebuah kitab, kemudian pendekar tersebut mempelajari kotab tersebut di dalam gua. Dan kalau kitab tersebut tidak dipelajari maka ilmunya tidak akan terserap.

Demikian dengan buku-buku itu. Meskipun berlimpah kalau tidak dipelajari dia tak ubahnya dengan batu kali, ganjel pintu, dan tali sepatu. Kemarin saya sudah merasa pinter kalau sudah membeli buku. Saya sudah merasa menyerap ilmunya saat sudah membuka plastiknya dan di suatu kesempatan saat orang membicarkan buku itu saya bisa menjawab “saya sudah punya buku itu.”

Kemudian untuk apa selama ini aku mengoleksi buku? Tiba-tiba aku merasa seperti anak-anak yang mengumpulkan mainan dan mengoleksi boneka barbie, ibu-ibu yang mengoleksi perabot rumah tangga seperti tupperware. Aku selama ini tidak sadar bahwa buku adalah produk barang julan, dan aku adalah konsumen belaka. Rupanya selama ini aku terlalu murka untuk memindahkan toko buku ke dalam rumahku.  (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: