Peluncuran Buku ‘Ibu dalam Diriku’

Jika buku adalah anak, maka kemarin (07/08) pukul 10.00 – 13.00 WIB ada anak yang diberi nama ‘Ibu, dalam diriku’ dilahirkan oleh 15 orang tua. Suasana pagi itu memang serba ibu, masuk ruangan sudah terdengar suara Iwan Fals, Melly menyanyikan lagu yang semuanya bertema ibu. Semakin klop karena acara peluncuran buku yang ditulis oleh anggota Lini-Kreatif Writing tersebut diselenggarakan di Kedai Mama,  Kedai Mama (Restoran Semarang), sebuah restoran yang menyajikan masakan lawas Kota Semarang, tidak hanya masakan tetapi juga Suasana Semarang tempo dulu tersaji di Kedai milik sejarawan kota Semarang Yongki Tio.  Kedai Mama terletak di jalan Pahlawan bangunan yang di depannya masih terdapat pohon ‘meh’ (orang di kampung kami menyebut), di seberang hotel Ibis.

Masuk ruangan kami disodori susana Semarang tempo dulu. Ada andong, becak, dan mobil bemo, mada transportasi kota Semarang pada masa lalu. Kami duduk di meja meja yang melingkar. Menu pertama yang kami santap adalah getuk yang terbungkus daun pisang. Suara gemericik air dari sudut ruang, ruangan ini setengah terbuka di atas menjuntai daun-daun melindungi dari sengatan matahari langsung.

Lini-Kreatif Writing sepanjang sayang saya ketahui adalah komonitas nulis paling aktif dan paling serius di kota Semarang, kebetulan ini adalah ketiga kalinya saya menghadiri acara yang diselenggarakannya. Dan buku ini yang saya dengar dari pembicaraan di acara tersebut adalah buku terbitan kesekian, dan yang pertama kali yang memuat karya para anggota secara bersama-sama. Salut kepada Om Budi Maryono yang menggawangi komonitas ini. Oh ya buku ini di editori oleh tiga penulis asyik kota lumpia yaitu Budi Muryono, Aulia A. Muhammad, dan Wiwin Wintarto.

Ninda Dwinanda, pembawa acara berbaju kuning yang cantik itu membawakan acara dengan sangat indah. Ia mengajak kami bernostalgia merangkai-rangkai kenangan bersama ibu. Kami juga disuguhkan sebuah vidio yang menggambarkan proses seseorang menjadi janin, kemudian lahir menjadi bayi kemudian tumbuh besar. Dia membawa kami, pengunjung yang hadir menghayati betapa beratnya perjuangan seorang ibu merawat dari ketika masih dalam kandungan hingga ngemong saat kita masih bocah, dan menyekolahkan saat kita sudah saatnya sekolah.

Buku ini terdiri dari 15 judul cerita dari 15 penulis dengan latar belakang yang warna-warni, dari usia yang juga beragam, dan dari asal yang juga beragam. Ada yang dari Solo, Depok, Kudus, Batang, dan lain-lain. Ada yang masih 15 tahun kelas dua SMA, tapi ada pula yang sudah menimang cucu.

Dalam acara tersebut juga diumumkan dan dibacakan lomba ‘surat pendek untuk ibu’. Saya berkesempatan untuk membacakan salah satunya dan harus susah payah membacanya karena tidak membawa kaca mata. Betapa senang hati kami, Djawahir Muhammad, budayawan kota Semarang berkenan hadir dalam acara tersebut.

Acara diakhiri dengan menyanyi bersama lagu tentang ibu, semua hadirin berdiri. Acara ditutup dan acara makan dimulai. Nasi langgi, salah satu menu andalan kedai ini terhidang dan siap berpindah ke perut. Pak Yongki, pemilik kedai begitu ramah berkeliling dari meja ke meja menyalami kami satu persatu, menanyakan kabar, dan mengajak berfoto. Tapi saya tidak bisa bercerita banyak tentang buku itu, saya belum punya. Istri saya meninggalkan dompetnya di rumah, jadi saya belum berhasil membawa buku itu pulang, sedangkan mau hutang malu. (MUHAJIR ARROSYID)Gambar

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: