SORE DI KUDUS MEMBINCANG SENO

kudusKudus, sebuah kota yang terkenal dengan jenang, kretek dan menaranya kemarin (30/06) kami singgahi. Dengan sepeda motor ditemani matahari sore, melewati sawah-sawah, kami menuju rumah sahabat kami Priyo Wiharto. Pukul 15.00 WIB kami mengagendakan diskusi dengan tema “Membincang Seno Gumira Ajidarma dan karya-karyanya”. Jangan salah paham Bung Seno, kami tidak menggunjingkanmu, kami adalah orang-orang yang penasaran dengan karya-karyamu. Bahkan sahabat kami yang menjadi tuan rumah sekaligus pembicara pada bincangan sore itu memiliki sebagian besar karyamu.”

Bincangan sore itu adalah salah satu kerja dari (ViS) Vokal Institute. ViS adalah organisasi yang mewadahi orang-orang yang dulu pernah menbidani Majalah Mahasiswa vokal, yang masih ingin belajar jurnalistik meskipun kerjanya kini bukan wartawan, ingin diskusi masalah-masalah aktual, menikmati sastra, dll. Diskusi macam ini sebelumnya dilakuakan secara srampangan melalui bb, fb, maupun twetter. Sedangkan pertemun biasanya malah kami lakukan dengan santai seperti ngopi, ngekem, arung jeram, makan-makan, atau naik gunung. Jadi ini adalah kerja pertama yang agak serius.

Kalau saya hanya menempuh perjalanan satu jam, tapi Farid Firdaus rela melakukan perjalanan berkilo meter dari Solo, demikian pula dengan Bima Nanda yang rela melakukan perjalanan dari Blora.

Perbincangan yang dimoderatori oleh Elina Ainilfirdaus itu dimulai dari pukul 15.30 hingga pukul 17.15 waktu Indonesia Kudus. Acara dimulai dengan sambutan ketua pantia Muhajir Albabalani. Katanya ini adalah kerja awal dan akan ada kerja selanjutnya. Hajir menambahkan bahwa bulan depan rencananya ViS akan melaounching bulletin yang diberi nama “Urbanologi”. Urbanologi adalah bulletin yang akan membahas budaya-budaya urban. Adhifira Lestari dengan indah membacakan cerpen Seno yang berjudul ‘Orang yang selalu mencuci tangan.’

Farid dan Priyo bercerita tentang pengalamannya membaca karya-karya Seno. Menurut Priyo karya-karya Seno seolah-olah omong kosong. “Saya sering tertawa sendiri kalau membaca karya Seno. Tapi dalam omong kosongnya tersebut Seno melancarkan kritik.” Terang Priyo. Sedangkan karya Seno yang paling tidak disukai oleh Priyo adalah ‘Biola Tak Berdawai’.

Sedangkan menurut Farid, Seno menggunakan bahasa sederhana, cerita-cerita yang ringan untuk menohok siapa yang dikritiknya. Sasaran kritik Seno bergerak sesaui arah zaman. Saat rezim Soeharto, dia dengan bahsa-bahasa simbul, mengkritik Soeharto. Saat ada kelompok merasa paling benar dengan menyalahkan orang lain, ia dengan jenaka membuat cerpen ‘dodolit dodotit dodolibret’.

Menariknya menurut Farid, Seno yang telah banyak memenangi banyak penghargaan sastra itu tidak mau dipanggil penulis apalagi pendekar tulis. Ia lebih nyaman dipanggil tukang tulis.

Rosidi, teman yang jadi wartawan Suara Merdeka di Kudus menambahkan cacatan penting, menurutnya Seno telah melakukan bunuhdiri kasta. Menurutnya sebenarnya Seno telah mapan dan untuk menghadirkan inspirasi ia telah bunuh diri kasta. “Kita mapan saja belum masak mau bunuhdiri kasta” jelasnya.

Sudah sore rupanya. Sebentar lagi bedug yang terletak di serambi masjid samping rumah akan segera dipukul. Kami harus mengucapkan terimakasih pada Ibunda Priyo karena telah repot-repot menyuguhi kami ‘amik-amik’ dan makan sore. Sehabis sholat isya kami berpamitan dan meninggalkan dua bunga mawar dalam satu tangkai di gelas yang terletak di meja tamu, entah untuk siapa. Kami menuju warung wedang blung khas Kudus. Dan Farid Firdaus berbaik hati mentraktir kami.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Berita. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: