TANYAKAN PADA TRIYANTO, BAGAIMANA MENJADI GURU SEJATI

Catatan Cerpen  Minggu  (CCM)  edisi 07 Juli 2013 

 Gambar

Pada  Minggu 07 Juli 2013, saya berkesempatan membaca tiga cerita pendek dari  tiga surat kabar;  Pelukis dari  St. Mary’s  karya Sungging Raga yang dimuat  di  Harian  Jawa Pos, Kematian Heartfield  karya  Guntur  Alam yang  dimuat di harian Suara  Merdeka, dan Serigala di Kelas Almira karya  Triyanto  Triwikromo yang dimuat di harian  Kompas.

Cerpen Kematan Heartfield  adalah imajinasi tentang tokoh Heartfiel salah satu tokoh dalam Keze No Uta O Kike karya Haruki. Guntur Alam menulis cerita ini setelah membaca Dengarlah Nyanyain Angin karya Haruki Murakami. Cerpen ini menanyakan sebab-sebab kematian tokoh Heartfield.

Sedangkan cerpen Pelukis dari St. Mary’s, tampaknya Sungging Raga mengimajinasikan sebuah lukisan  di kota Southampton  pada suatu masa, masa peperangan yang jelas. Ya cerpen ini adalah riwayat sebuah lukisan dari pelukis yang menjajakan lukisan sampai tibalah saat perang dan orang-orang lebih suka membeli senjata untuk melindungi  diri daripada membeli lukisan untuk dipandangi ‘Lukisanmu tidak akan melindungiku dari revolver.” Sampai kemudian sang pelukis melukis apa saja yang dia sukai dan menemukan gadis duduk menghadap bangunan yang hancur karena perang.  Lukisannya belum jadi  sampai kemudian apartemennya hancur  dan prajurit menemukan lukisan yang belum jadi tersebut-menyerahkannya kepada mayor. Mayor menyukai lukisan itu.

Dua cerpen yang saya uraikan di atas  terdapat kesamaan, sama-sama mengimajinasikan hal-hal pada masa lampau dengan setting di luar  sana. Yang satu mengimajinasikan tentang tokoh dalam cerita, yang satu tentang asal-usul sebuah lukisan. Tampaknya para redaktur sedang senang cerpen-cerpen dengan setting-setting luar negeri meski hanya diimajinasikan. Saya paham jarak selalu  menimbulkan keasyikan, orang desa selalu ingin tamasya ke kota  sebaliknya orang kota selalu ingin berlibur ke desa.

Cerpen Serigala di Gelas Almira

Saya belum menanyakan kepada Triyanto kenapa dia begitu suka dengan ular, serigala, dan binatang-binatang itu. Tapi seperti dalam cerpen-cerpennya yang lain, Triyanto tidak sedang bercerita tentang binatang tersebut. Ia bercerita tentang kita, tentang bangsa Indonesia dengan segala dinamikanya.

Membaca cerpen ini saya teringat sebuah berita,  seorang  guru  dimutasi   gara-gara   melaporkan   kesaksiannya  atas  pelanggaran Ujian Nasional yang terjadi  di  sekolahnya. Guru ini  cinta pada murid-muridnya maka dia tidak tega  melihat terjadinya kecurangan.  Di negeri ini antara  kebenaran dan kejahatan  memang sudah jungkir balik,  yang benar  disalahkan  dan yang salah dibenarkan karena  yang benar menjadi minoritas.

Cerpen  ini menyajikan suasana sebuah  kelas, ada guru, murid  dengan  tingkah polahnya,  dan  kepala sekolah. Setiap  murid memiliki  sifat  yang berbeda-beda  karena latar  belakang yang berbeda-beda  pula. Potongan paragraf dibawah mempertanyakan latar  belakang murid.

“……kau berpikir mengapa  dia selalu ingin menirukan apapun  yang dilakukan  oleh ular. Mungkinkah di rumah dia tinggal dengan seorang ibu yang berprofesi sebagai penari  ular?….”

Potongan paragraf yang lain:

            “Apa yang ingin  kau ceritakan, Almira?Mimpi  apa  kau semalam?”…..

Setiap murid memiliki riwayatnya masing-masing,  di luar kelas mereka bergaul dengan orang tua yang mungkin saja preman, copet, atau bahkan  pelacur. Bisa  saja  telinganya mendengar umpatan, matanya  menyaksikan vidio  porno  di  warung internet, frustasi menyaksikan tingkah polah politisi di televisi. Mereka membawa memorinya masing-masing tentang vidio  porno yang ia saksikan, umpatan  yang  mereka dengar ke dalam  kelas. Dan guru  yang sebulan dibayar Rp. 750  ribu dengan metode pembelajaran yang sudah termaktub  diberi  tugas untuk menaklukan mereka. Dan jika ada anak berbuat onar di luar kelas, maka beribu jari menunjuk ke muka guru.

Bagaimanakah guru sejati menaklukan malaikat-malaikat kecil yang tak berani menampakkan sayapnya, yang telah teracuni memorinya dengan apa yang  telah ia saksikan, ia dengar, dan ia raba?

Pertama, memohon kepada  Tuhan,  itu ditunjukkan di paragraf kedua cerpen ini. “Ajari aku tetap sabar dan tidak menggap mereka sebagai binatang.” Permohonan  kepada Tuhan juga muncul kembali di paragraf kesembilan. “Ajari aku agar tetap ikhlas memberikan malaikat-malaikat kecilmu yang indah ini ya, Tuhan. Sungguh memandang mereka aku seperti memandang wajah-Mu  yang  teduh.

Kedua, tulus. Dalam panjatan permohnan kepada Tuhan juga tercermin  ketulusan seorang guru. Seorang guru  sejati harus tulus. Tulus adalah  gabungan dari sifat sabar, berprasangka baik pada anak didik, dan ikhlas.  Meskipun anak nakal, mendapat tekanan dari  kepala  sekolah yang ingin enaknya sendiri, dan gaji yang  alakadarnya.

Ketiga, memasuki dunia murid. Hal ini tampak pada paragraf keempat,….saat kau sudah memasuki ceruk bahasa  dan dunia Edo…” Murid yang bermacam-macam karakter harus didekati dengan cara yang berbeda-beda pula. Diceritakan di situ seorang guru harus mampu dan mau ‘merangkak’, ‘mendesis’, agar dapat berkomunikasi dengan murid yang beranega ragam karakter tersebut.

Keempat, menjadi orang tua. ….”Karena itu jika  sekarang Almira berperangai sebagai serigala lagi dan berusaha menyerang Salma, tak ada cara lain, kau harus berperan sebagai ibu serigala yang melarang putri kesayangan mengoyak-oyak leher satwa lain…” Seorang guru harus berperan sebagai orang tua atas murid-murid yang ia asuh, menggunakan bahasa mereka,  seorang guru membimbing, mengarahkan, dan memberi pengetahuan.

Kelima, pengorbanan. Melihat Edo yang terus mendesis  di kelas guru mulai mengira-ira berbagai kemungkinan. Guru mengira Edo hidup bersama seorang ibu yang bekerja dengan menarikan tarian ular.  Demi mendapatkan penyelesaian yang indah guru akan mneyempatkan waktu datang ke rumah Edo. Datang ke rumah murid adalah bagian dari pengorbanan.

Pengorbanan guru juga terlihat dari bagimana guru menyelesaikan pertengkaran  Salma dengan Almira. Karakter yang berbeda karena latar belakang murid yang berbeda itu seringkali menimbulkan pertengkaran antar murid. Dalam cerpen ini digambarkan pertarungan antara Almira dan Salma. Almira yang  digambarkan  memiliki sifat buas, ingin memiliki apapun  yang dimiliki orang lain, dan tidak mau berhenti sebelum mendapatkan barang yang dia inginkan, ingin sekali merebut barang milik Salma.

“Aku harus berkorban. Ini mungkin cara terakhir menyelamatkan Salma.” Lalu  di luar dugaan para  murid, kau  melolong keras-keras dan kemudian menggigit punggung lengan sendiri dengan geram…..

Seorang guru  sejati memberikan  segala sesuatu  kepada muridnya. Termasuk miliknya pribadi. Tapi  segala usaha guru untuk menaklukan muridnya dengan  berbagai cara itu  karena memang muridnya juga luar biasa memiliki masalah yang kompleks dianggap aneh dan menyalahi  aturan.  Guru itu oleh  kepala sekolah dianggap gila dan harus di masukkan ke rumah sakit jiwa. Murid-murid yang tadinya nakal menangisi kepergian guru, mereka merasa kehilangan.

Di negeri ini antara  kebenaran dan kejahatan  memang sudah jungkir balik,  yang benar  disalahkan  dan yang salah dibenarkan karena  yang salah menjadi mayoritas. (Muhajir  Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Kritik Sastra. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: