WEINTRAUB MENELITI DANGDUT KITA HANYA MENGUTUK

Obrolan dengan istri di perjalanan saat berkendara motor seringkali memunculkan ide-ide liar. Tidak jarang obrolan itu terwujud menjadi kegiatan, menjadi tulisan, maupun penelitian.  Tapi sering kali juga amblas entah kemana. Kami adalah pembaca novel, pendengar segala macam jenis alarin musik, kami mencintai hip-hop, juga reggae, juga dangdut dan campur sari. Bahkan ide tesisku saat menyelesaikan S2 di Magister Ilmu Sustra UNDIP tentang lagu bertema janda juga dari obrolan di perjalanan, sekarang untuk tesis isitriku yang memperbandingkan antara hip-hop di Amerika dan hip-hop Jawa juga hasil perbincangan di perjalanan.

Masih banyak lagi daftar ide yang kami dapat dari perbincangan di perjalanan yang belum kami tuntaskan. Ke depan kami ingin meneliti tentang seksualitas dalam lagu-lagu Jawa. Saat kebetulan lewat di lapak VCD pinggir jalan yang kebetulan membunyikan lagu Rita Sugiarto kami jadi bertanya-tanya. Sepengetahuan kami, Rita Sugiarto adalah satu-satunya penyanyi dangdut perempuan yang mencipta lagu sendiri. Tapi ini baru dugaan, bisa saja salah. Jika memang benar dugaan kami tersebut maka sosok Rita Sugiarto layak diperbincangkan, didengar ulang lagu-lagunya.

Malam hari saat suasana rehat, saat santai saya iseng-iseng mencari lagu-lagu Rita Sugiarto melalui situs youtube. Ada lagu yang berjudul Zainal, ada juga lagu yang menjadi hit bahkan masih dinyanyikan di panggung-panggung dangdut saat ini adalah lagu yang berjudul Mengapa-mengapa. Demekian potongan liriknya. //Mengapa tak semesra dulu-mengapa tak seindah dulu//mungkinkah engkau telah jenuh-hingga kau campakkan diriku//katakan salahku-katakan dosaku//katakan….sayangku//.

Melihat vidio klipnya mengingatkanku pada masa kanak-kanak. Setiap hari minggu orang-orang kampung berkumpul untuk menyaksikan ‘album minggu’, sebuah acara di TVRI. Di satu kampung hanya satu sampai dua orang yang memiliki pesawat TV, saat itu TV masih langka dan TVRI adalah satu-satunya stasiun TV yang mengudara.

Rita Sugiarto adalah penyanyi dangdut yang memiliki suara yang cukup khas yang tidak dimiliki oleh penyanyi-penyanyi lain. Suaranya bisa melengking-lengking tinggi sekali menciptakan suasana jeritan hati persis seperti tema-tema lagu dangdut kebanyakan.

Vidio klip dangdut biasanya bercerita, biasa dilakukan di taman dan ada penari-penari latarnya seperti film-film india. Dan meskipun lagu sedih tetap ada goyangannya. Kata istriku dangdut itu absurd, “Betapa tidak absurd, lagu yang isinya larangan untuk berjudi dibuat pengiring orang berjudi, lagu larangan mabuk dibuat pengiring goyang sambil mabuk.” katanya.

Saya membuka kembali tulisan Sawung Jabo tentang sejarah musik Indonesia yang ditulis bersama istrinya di jurnal Prisma, ya sekedar mencari jejak dangdut dan jejak Rita Sugiarto. Saya buka buku Dangdut: Musik Identitas, dan Budaya Indonesia sebuah buku hasil penelitian Andrew N. Weintraub.

Ada seorang teman yang protes saat mengetahui buku Dangdut: Musik Identitas, dan Budaya Indonesia ini terbit “Ini lagi, dangdut malah yang meneliti orang luar, kemarin banyak tentang Jawa yang meneliti orang luar.” katanya. Saya katakan kepadanya, jangan kebakaran jenggot karena menurut saya bisa saja.

Orang Indonesia tidak meneliti dangdut, tidak meneliti pintu belakang orang Jawa bukan berarti orang Indonesia malas, tapi karena orang Indonesia menganggap dangdut, pintu belakang bukan sesuatu yang istimewa, berbeda dengan orang laur melihat dangdut dan hal-hal lain maka mereka melihat sesuatu yang berbeda dibanding dengan yang ada di kampung halamannya maka menimbulkan keingin tahuan, “Kenapa ini begini, dan beda denganku ya”.

Jarak itu membuat sesuatu menjadi indah. Seperti orang kota yang bertamasya ke desa dan orang desa yang bertamsya ke kota. Banyak sarjana dan magister kita yang meneliti karya sastra luar negeri, merekapun biasa saja, tak merasa disanjung juga tidak merasa terlangkahi. Berhentilak mengutuk dan mari meneliti, dan yang saya sampaikan ini baru pengumpulan data lho, bukan kesimpulan. (baru mengumpulkan data saja sudah koar-koar, batinmu). Kalau sudah kesimpulan tidak akan saya tulis disini dong, orang Indonesiakan raja tega, tega membajak karya orang.

Semakin malam Rita Sugiarto semakin mendayu-dayu di telinga saya. Mengingatkan saya pada masa kecil saat orang kampung punya khajat lagu-lagu ini sering dikumandangkan. Waktu itu saya pemalu banget, pakai celana kolor, enggak punya sandal, umbel mengalir dari hidung terus-menerus. Melihat khajatan dari kejahuan dan tidak berani mendekat takut dikira njanggol. Anda tahu njanggol? Njanggol adalah anak-anak dipelataran orang punya khajatan dan mengharapkan makanan. Iya, makanan pada waktu itu memang sangat berharga, di jaman Soeharto itu, yang katanya “Isih enak jamanku toh?” ENAK GUNDULMU.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 11, 2013, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: