BELAJAR DARI AIR DAN BATU

Ini bulan Juli, tapi hujan masih turun juga. Di beberapa tempat malah masih terjadi banjir. Demikian juga sore itu, pandanganku pada langit tiba-tiba terhalang oleh gelap mendung. Masih pukul 16.00 WIB, tetapi sudah serupa malam saja. Dan hujanpun jatuh tiada terkira, kengeriannya ditambah dengan gemuruh dan angin. Saya mengambil sepatu dan sandal di emper rumah. Meskipun sudah saya kasih atap alakadarnya emper rumahku masih basah kuyup saat hujan, sehingga emper yang baru di plester kasar ini tumbuh lumut dan licin.

Saya perhatikan di dapur ada satu genteng yang pecah. Mungkin sudah dari beberapa hari yang lalu. Tidak banyak, air hanya menetes satu persatu. Tes tes tes, dengan frekuensi yang kadang jarang kadang cepat. Dan akhirnya saya mendapati lantaiku yang belum dikramik, masih plaster kasar terluka, berlubang seperti terkena tembakan (ini sudah agak lebay). Begitulah lantai rumah saya yang batu itu berlubang karena air yang menetes sedikit-sedikit. Padahal lantai saya di emper tetap utuh walaupun terkena air hujan langsung. Ada apa ini? Kalau saya ilmuan fisika mungkin akan ada penemuan teori fisika yang baru. Tapi sungguh sayang sekali (Anda jangan kecewa ya?) saya bukan ilmuan fisika, saya sarjana sastra jadi mungkin hanya jadi puisi.

Perbandingan dua kejadian yang melibatkan dua tokoh yaitu air dan batu tersebut tetap menjadi perenungan saya. Kenapa air yang menetes sedikit-sedikit justru bisa melukai batu sedangkan air yang mengguyur secara bersamaan tidak? Kalau saya orang fisika pasti saya cari sebab-sebabnya, tapi karena nilai fisika saya sering merah maka saya hanya mempelajari maknanya.

Sekarang saya mengibaratkan diri sebagai seorang pendekar di alam raya yang ingin mencari ilmu, memperhatikan segala tingkah polah daun, harimau, angin berhembus, hingga memperhatikan bagaimana nyamuk menggigit kemudian meramunya menjadi jurus silat. Ini mulai melantur lagi (he he he), maklum baru membaca cerita silat Nagabumi karya Seno Gumira Ajidharma.

Mari kembali lagi ke jalan yang benar. Kenapa air yang jatuh satu-satu dan terus menerus justru bisa menembus batu? Pengalaman inilah yang juga pernah dialami oleh Imam Syafi’i, ilmuan Islam terkemuka. Menurut cerita dia merasa gagal belajar dan memutuskan untuk pulang. Di perjalanan tiba-tiba hujan turun dan memaksanya untuk berteduh di gua. Beliau memperhatikan air yang menetes mengenai batu terus menerus dan membuat batu berlubang. Kemudian Imam Syafi’i memutuskan kembali lagi ke tempat belajarnya dan melanjutkan belajar. Beliau mendapat kesadaran bahwa strategi belajar harus dilakukan sedikit demi sedikit dan terus menerus.

Saya mendapat cerita itu dari Bapak ketika saya masih kecil. Begitulah cara beliau memprofokasi saya untuk giat belajar. Dari kecil saya adalah anak yang selalu merasa gagal belajar, dibanding dengan dua kakakku dan satu adikku, aku adalah anak yang paling bodoh. Dan sekarang aku tidak lagi menjadi anak yang gagal dalam belajar. (meskipun pada kenyataannya gagal – becanda lagi). Dan oleh bapakku cerita itu di ulang-ulang hingga saya dewasa. Tapi waktu itu saya belum bisa menghayati cerita itu, atau paling tidak sepenuhnya bisa mengahayati. Baru beberapa hari ini setalah melihat sendiri jatuhnya air pada batu dan membandingkannya dengan air yang disiramkan secara bersamaan ternyata menghasilkan hasil yang berbeda, saya baru mengerti.

Ada dua hal yang dapat dipelajari, pertama konsistensi atau istiqomah dalam bahasa agamanya itu sangat penting dalam cara kita mendapatkan ilmu. Sedikit demi sedikit dan dilakukan dengan cara yang terus menerus. Dan saya ketahui ternyata tidak hanya pada mendapatkan ilmu, makan juga perlu metode ‘air menetes’ begini. Kita tidak mungkin langsung memasukkan makanan langsung satu piring ke mulut kita, kita harus melakukannya secara sedikit demi sedikit menggunakan sendok. Saat saya ngaji di masjid samping rumah, Mbah Shihab mengatakan bahwa istiqomah itu lebih penting dari pada seribu wali. Di forum lain saya mendengar bahwa istiqomah itu lebih penting dari pada seribu karomah.

Kedua, sesuatu yang kecil itu bukan berarti kalah dengan sesuatu yang besar karena setiap benda memiliki peran masing-masing. Kita ambil palu dan jarum sebagai contoh, kita tidak bisa mengatakan bahwa palu itu lebih penting dari pada jarum meskipun palu lebih besar, lebih berat, dan harganya lebih mahal. Kenapa begitu? Karena kita tidak mungkin menjahit menggunakan palu.

Begitu pula air, air yang besar dengan air yang menetes sedikit demi sedikit juga memiliki fungsi sendiri. Kalau sang air menetes terus menerus meskipun kecil maka dia akan tajam seperti jarum. Semakin kecil tetesannya dia akan semakin tajam. MARI MENJAHIT MENGGUNAKAN PALU. (Lho kok bercanda lagi!)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 13, 2013, in Opini and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: