MEMPERBANDINGKAN ZAMAN ENAK

“Sejarah negeri ini mencatat siapa yang turun jabatan pasti dihujat. Dulu, Bung Karno pun demikian”

 

PADA awalnya hanya satu dua angkot terlihat memasang stiker memuat foto Soeharto dengan senyum khasnya, dilengkapi teks ‘’Isih Enak Jamanku To?…’’ Mula-mula saya menganggap itu biasa, mungkin ada orang iseng atau ingin bernostalgia masa pemerintahan Pak Harto. Namun makin hari stiker semacam itu makin banyak terpasang, dengan beragam variasi kata, dimodifikasi, kadang ditambah bahasa gaul, semisal, ‘’Isih Kepenak Jamanku To Bro?…’’

Dulu, desan grafis dan kualitas cetak stiker itu alakadarnya, namun makin hari makin baik. Bahkan jumlah pemasangnya lebih banyak, terutama setelah menguat kabar pemerintah akan menaikkan harga BBM. Maka saya berkesimpulan ada orang sengaja mencetak, menyebarkan, dan menempelkan stiker itu. Tapi siapa yang berkepentingan dengan kehadiran memori tentang Soeharto menjelang Pemilu 2014.

Suara Rakyat

Ada dua bentuk ‘’kampanye’’ kembali merindu-rindu era Soeharto, yaitu memasang stiker di angkot dan mengunggah di jejaring sosial Facebook dan Twitter atau memasang di BlackBerry. Pemilihan media ini adalah pilihan tepat karena menimbulkan kesan alami, bahkan itu murni cetusan aspirasi rakyat.

Pertama; stiker yang dipasang di bak truk dan kaca angkutan umum. Angkot adalah kendaraan yang biasa digunakan rakyat kebanyakan, sedangkan sopir truk/ angkot adalah pekerjaan rakyat kebanyakan pula. Maka stiker yang dipasang di banyak truk dan angkot itu seperti ingin menggambarkan kerinduan rakyat atas kehadiran sosok seperti Soeharto.

Rakyat selalu menjadi kata keramat bagi dunia politik. Kendati kumal, miskin, jorok tapi dalam jumlah banyak, rakyat dapat menjadi penentu nasib seseorang untuk menjadi pemimpin. Ariel Haryanto (1999) mengatakan pemahaman tentang rakyat adalah sejumlah sosok lugu yang unggul secara moral, lemah secara ekonomi, tetapi berdaulat secara politis, yang menderita ketidakadilan yang ditimbulkan oleh kaum kaya berkuasa.

Dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat adalah impian semua politikus. Karena itulah, untuk mencapainya mereka rela ‘’membeli’’ media, memasang poster dengan foto berakrab-akraban dengan rakyat, makan nasi aking bersama, dan segala upaya pencitraan kedekatan dengan rakyat.

Bentuk lain disebar melalui Facebook dan Twitter, atau BlackBerry. Media ini dipilih karena ‘’murah’’ dan banyak digunakan oleh masyarakat kita. Jika truk dan angkot diharapkan menjangkau arus bawah yang berangkat ke pasar tradisional atau sawah maka jejaring media sosial elektronik diarahkan menyasar pelajar, mahasiswa, dan orang kantoran. Pelajar masa kini dibangkitkan imajinasinya bahwa betapa ‘’enak’’ hidup pada zaman Soeharto.

Pada layar BlackBerry beberapa teman terlihat Pak Harto berdiri membawa kayu penunjuk, bergaya seperti guru. Di depannya ada papan bertuliskan ‘’Jamanku Bensin Rp 700, Saiki Pira Le?…’’ Di depannya terlihat SBY duduk mendengarkan, mengesankan sebagai murid.

Dari gambar tersebut, sebagian orang bisa mendapat imajinasi bahwa SBY sebagai murid sedang dimarahi sang guru, yaitu Pak Harto tentang bagaimana memberi harga BBM yang baik dan benar. Harga murah bagi rakyat miskin adalah hal yang tepat.

Kembali lagi, siapa yang berkepentingan terkait pemasangan, penempelan, atau pemostingan, pengunggahan file itu?

Yang jelas, yang berkepentingan ya siapa pun yang memasang. Untuk apa? Ini yang tak mudah dijawab. Pak Harto jelas tidak berkepentingan stikernya dipasang atau tidak. Ia sudah tenang di alam sana. Tapi ada beberapa pihak yang bisa kita anggap sebagai pemasang.

Nilai Relatif

Pertama; keluarga besarnya yang menginginkan nama baik Soeharto dipulihkan. Sejarah negeri ini mencatat siapa yang turun jabatan pasti dihujat. Dulu Soekarno juga demikian, bahkan diasingkan, kemudian pada masa tertentu muncul kerinduan terhadap sosok Bung Karno.

Kedua; partai yang dulu besar karena Pak Harto, partai yang memelihara dan dipelihara oleh kekuasaannya. Partai tersebut bisa saja merekayasa opini masyarakat bahwa penting untuk menghadirkan masa tenang dan tenteram seperti zaman Pak Harto. Seandainya orang ingat Soeharto, diharapkan ingat partai mantan presiden itu.

Ketiga; sosok yang mengidentifikasikan diri memiliki karakter seperti Pak Harto, sosok yang dikenal tegas, dari kalangan militer, dan bisa mengayomi. Keempat; rakyat sendiri. Artinya, rakyat yang berinisiatif mengedarkan stiker itu tanpa ada paksaan dan tanpa berharap imbalan dari pihak mana pun. Meskipun masih perlu dipertanyakan apakah gerakan semasif itu tidak ada yang menggerakkan.

Apakah pada masa pemerintahan Pak Harto, rakyat benar-benar lebih sejahtera? Sederet jawaban atas pertanyaan itu memiliki nilai relatif. Ada yang merasa enak hidup pada era Soeharto karena mungkin bisa berinvestasi nyaman dan aman, sekolah selalu mendapat beasiswa. Jelasnya, mereka merasa tidak sesulit hidup pada era sekarang.

Namun jawab kontras pasti datang dari mereka yang dulu merasa terkekang, terzalimi, bahkan mereka yang anggota keluarganya diculik oleh entah siapa, dan hingga kini tak ada kejelasan nasibnya. Mereka pasti sedih melihat foto-foto Pak Harto dan teks yang menyertainya, meskipun mereka juga bukan pembela SBY. (10)

 

— Muhajir Arrosyid SPd MHum, civitas academi­ca IKIP PGRI Semarang, peneliti pada Vokal Institute

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 13, 2013, in Opini and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: