LETAKKANLAH IBU PADA TEMPATNYA

Catatan pengalaman membaca kumpulan cerita IBU DALAM DIRIKU

IMG00761-20130714-1400Di siang yang terik (10/07) saya mendapati amplop coklat di meja kerjaku. Di pojoknya ada tulisan pengirim ‘Budi Maryono’. Saya segera membuka amlop tersebut, isinya sebuah buku bercover hijau dengan judul Ibu Dalam Diriku terbitan LiniKreatif Publishing dan gigih pustaka mandiri. Pada saat itu juga saya baca sampai selesai buku yang covernya bergambar seorang ibu dari balik gelas. Gelas bisa saja mewakili ruang domestik, daerah kekuasaan sebagain besar Ibu di Indonesia. Karena pekerjaan lain yang minta giliran untuk disentuh maka baru kali ini (14/07) saya sempat menuliskan catatan pengalaman membaca kumpulan cerita yang memuat 15 cerita tentang ibu dari 15 pengarang yang berbeda ini. Berbeda segalanya, berbeda usia, berbeda latar belakang, berbeda asal,  juga berbeda jenis kelamin. Oh ya sebelumnya saya mengucapkan terimakasih atas kado yang dikemas secara sungguh-sungguh ini.

Saya sampaikan terimakasih kepada seluruh penulis: Nadia Agnes Rasheesa, Ama Ristiana, Wesiati Setyaningsih, Ismi Ahsaniyah, Wien Okta, Salwa Paramitha, Mitsalina Maulida Hafizh, Farida D Emmy, D.Nugraheni, Irul Cepu, Eva Kusumasari, Yuktiasih Proborini, Naniek Hastuti, Wiwien Wintarto, dan Budi Maryanto. Kepada lima belas penulis tersebut saya telah utang roso. Membaca cerita-cerita itu adakalanya saya berlinang-linang air mata dan puncaknya ketika membaca cerita karya Salwa dengan judul Tak Sehangat Matahari. Seketika itupula saya berusaha menjadi follower akun twitternya @salwaprtha meski selalu gagal. Terbayang oleh saya seorang gadis kecil menunggui ibunya yang sakit, bolak-balik rumah sakit, sudut-sudut rumah sakit diceritakannya dengan detail. Membaca cerita ini saya jadi sentimentil karena pernah mengalami peristiwa serupa. Tapi saya terkekeh sayyan membaca cerita Supermom Wiwien Wintarto.

Perempuan berkarir dan permasalahannya

Problem khas budaya modern dimana perempuan memilih untuk berkarir kemudian anaknya lebih dekat dengan pembantu muncul di beberapa cerita. Nadia dengan ceritanya yang berjudul Hari Impian bercerita betapa mewahnya seorang anak bisa makan malam bersama ibunya. Fika tokoh dalam cerita itu sampai membujuk-bujuk agar mendapatkan kesempatan itu. Untung sekali Fika menulis buku harian dan terbaca oleh ibunya saat dia tertidur di depan DVD player. Membaca buku harian Fika, sang ibu jadi tersadar akan kesalahannya karena melalaikan Fika. Ibu kemudian mengajak Fika untuk makan malam di luar, kesempatan yang diimpikan Fika datang juga. Saya berpikir, untung Fika menulis buku harian, jika tidak maka kemungkinan impian Fika tidak akan terwujud.

Sebenarnya ibu itu apasih? Pertanyaan itu dijawab oleh Ama Ristiana dalam ceritanya yang berjudul Rasa Gendhis. Melalui cerita itu dia menjawab bahwa ibu bukanlah kata benda, ibu adalah kata sifat yaitu baik, pelindung, memberi kebahagiaan, menentramkan. Berikut penggalan ceritanya …..Bapak adalah ibuku. Ya Bapak adalah Ibu! Hah, betapa bodoh aku ini, kenapa selama ini merasa tak punya ibu padahal “ibu” dalam wujud Bapak selalu bersamaku?…. Dan sifat ibu tadi bisa dimiliki oleh bapak, kakak, bahkan adik. Cerita Rasa Gendhis masih seirama dengan cerita Tak Sehangat Matahari, menyampaikan problem khas masyarakat modern dimana perempuan memilih berkarir dari pada mengurus rumah tangga di rumah. Sang ibu yang bernama Andini memilih melanjutkan sekolah di Cambridge University untuk melanjutkan sekolah dokter kemudian nikah lagi dengan arsitek tenar Edward Schweizer.

Problem perempuan dan modernitas muncul lagi dalam cerita Mata Emak Tertutup Rapat karya Wesiati Setyaningsih. Diceritakan seorang anak yang sarjana ekonomi canggung untuk meneruskan bisnis warung emaknya. Padahal omset warung tersebut jutaan rupiah, karena selain warung juga melayani ketring dari beberapa perusahaan. Warung tersebut juga telah menghidupi rewang, orang-orang yang bekerja di warung itu. Hanya dia yang memungkinkan meneruskan warung tersebut karena saudara-saudaranya yang lain sudah menetap di luar kota.

Sisa-sisa Zaman Siti Nurbahya

Tapi jangan salah, sisa-sisa zaman Siti Nurbaya juga masih muncul dalam kumpulan cerita ini. Perjodohon masih muncul dibeberapa cerita dan menjadikan rumah tanggal hancur. Dalam cerita Rasa Gendhis, sang ibu sebenarnya tidak menyukai bapak, mereka melakukan perkawinan karena terpaksa karena perjodohan.

Problem purba ala Siti Nurbahya muncul lagi di cerpen Malam Tanpa Mimpi karya Ismi Ahsaniyah. Sang tokoh adalah perempuan yang mau didahului adiknya untuk menikah. Berikut ini kutipannya ….Bukan itu saja, dengan embel-embel perawan tua, aku sudah menjadikan seorang ibu menanggung malu anaknya tak laku-laku….. dan sang tokoh menolak dijodohkan karena dia telah mengenal perilaku laki-laki pilihan orang tuanya.  …. Jangan beri kami kesempatan bertemu dengan yang bukan jodohku yang justru membuat luka, juga memaksa kami harus memilih. Ini teramat menyakitkan. Apalagi pemuda itu ternyata adalah teman kuliah yang kepribadiannya aneh….

Satu lagi jejak perjodohan muncul dalam Menunggu Jingga,  Berikut penggalannya ….Aku merasa sangat berbahagia karena menjadi anak tunggal dari orang tua yang saling mencinta meskipun mereka adalah pasangan hasil perjodohan. Sayang, itu dulu sebelum ayah bertemu kembali dengan Jingga, mantan pacarnya. …

Ibu yang sakit

Cerita ibu yang sakit muncul dalam beberapa cerita dalam buku ini. Dalam Gaun Pengantin karya Wien Okta seorang mama yang sakit memberikan hadiah sebuah gaun pengantin kepada Zahra. Zahra sangat senang dengan gaun yang sudah dipersiapkan oleh mamanya itu sejak dia usia SMP. Tapi tiba-tiba gaun tersebut dicuri seseorang. Zahra mencurigai yang mencurinya adalah calon suaminya yang sudah membelikan gaun pengantin untuk Zahra. Kemudian diketahui sang pencuri adalah perempuan blonde yang naksir sama calon suami Zahra. (Uhuk…).

Cerita Tak Sehangat Matahari juga bercerita tentang seorang ibu yang sedang sakit. Ibu di dalam cerita ini diibaratkan dengan matahari sedangkan penyakit diibaratkan dengan monster. Monster yang menyerang ibu itu bernama Systemic Lupus Erythematosus. ….Kini hari-hariku menjadi malam, gelap penuh kesuraman karena matahariku telah terbenam – walau dalam kebahagiaan. Ya aku memiliki bulan dan jutaan bintang, namun mereka tak dapat menggantikan matahariku. Mereka tak dapat memberikan kehangatan sehangat matahari.

Cerita ibu yang sakit muncul lagi dalam cerita Menunngu Jingga karya Mitsalina Maulida Hafizh. Sang ibu tidak pernah sakit hati meskipun sudah disakiti oleh bapak. Ia juga tidak ingin dicerai oleh bapak walaupun sudah dibujuk oleh anaknya sekalipun. …kata dokter, terdapat hematoma, semacam gumpalan darah di otak ibu…..

Dalam cerita Mata Emak Tertutup Rapat juga demikian, Emak yang sepengatahuan Darmi, tokoh dalam cerita ini sehat walafiat ternyata diam-diam mengindap penyakit. Si emak memang selalu menampakkan kebahagiaan setiap kali  bertemu anaknya itu, katanya lupa dengan penyakitnya. Emak akhirnya jatuh dipelukan Darmi.

Para membantu setia

Cerita-cerita dalam buku ini juga menyertakan para pengasuh anak atau membantu yang setia. Cerita-cerita didominasi oleh keluarga kelas menengah yang menyertakan pembantu di dalam rumahtangganya. Dalam cerita Hari Impian ada Bi Minah yang setia menyiapkan seragam sekolah untuk Fika, sedangkan dalam cerita Gaun Pengantin ada Bik Asih yang setia merawat Ibu yang sedang diserang struke.

Pembantu yang setia muncul lagi dalam cerita Pencuri karya Eva Kusumasari. Dalam cerita ini ada sosok Ibu yaitu ibu kandung ada sosok Simbok yaitu pengasuh. Dan sosok Aku lebih dekat dengan Simbok dibanding dengan ibunya. Saat bapaknya meninggal si aku lebih memilih bersandar di bahu Simbok dari pada Ibu. Sampai pada saatnya Simbok dijemput anaknya untuk diajak pindah keluar Jawa juga menunggu persetujuan si aku.

Ada Mbok Nah di cerita Sulaman Bisu karya Yuktasih Proborini. Mbok Nah diceritakan bertugas mambantu memandikan anak-anak.

Para lelaki brengsek

Meskipun ada cerita yang menceritakan lelaki yang bersifat ‘ibu’ seperti yang muncul dalam cerita Rasa Gendhis, namun ada beberapa cerita yang menampilkan laki-laki brengsek dan tidak bertanggung jawab. Laki-laki itu pergi meninggalkan keluarga yang sedang dalam keadaan menghadapi masalah. Cerita dengan judul Menunggu Jingga diceritakan bahwa seorang suami yang pergi meninggalkan seorang istri yang sedang sakit. Sang suami memilih berpaling ke pelukan Jingga mantan pacarnya.

Puncak-puncak dari kebrengsekan laki-laki muncul dalam cerita Aku (harus) terus bernyanyi karya Budi Maryono. Saya kira kebrengsekan laki-laki hanya muncul pada cerita-cerita karya penulis perempuan. Ternyata dugaan saya salah. Kebrengsekan laki-laki yang pertama muncul pada sosok bapak yang meninggalkan rumah karena tergila-gila dengan penyanyi organ tunggal. Karena Bapak yang melapas tanggung jawab akhirnya beban hidup keluarga semakin menumpuk. Jalan hidup penderitaan inilah yang membuat tokoh Aku harus pergi bekerja di Malaysia selama tiga tahun masa kontrak. Ia harus meninggalkan Pri pacarnya yang tukang ojek. Kebrengsekan kedua muncul. Pri, pacarnya tidak kuat menunggu dan menghamili perempuan lain. Bapaknya yang kemudian ditinggal pergi istri mudanya sering datang ke rumah meminta jatah. Jatah dari penghasilan kerja di Malaysia. “Sini saya minta jatah, diakan anakku juga.” Kira-kira begitu. Sampai pada akhirnya Ibu kalap dan tangannya bersimpah darah yang mengalir dari ulu hati bapaknya. Wah di akhir cerita namaku disebut-sebut. (Pak Hajir)

Hantu, Tikus, dan Presiden

Cerpen Hantu Ibu Karya Farida D. Emmy, sosok ibu hadir sebagai bayang-bayang. Ia tidak dihadirkan secara fisik karena sudah mati, tapi segala tindakan Jannah, tokoh dalam cerita itu selalu dibanyagi sosok ibu. Misalnya saat dia melakukan demonstrasi dia menghentikan langkah sebentar untuk melihat sosok disebrang jalan, sosok bayangan ibu. Sampai ketika dia memilih jodoh dan memutuskan antara Ababil, pria bule dengan Lukito juga atas dasar bayangan ibu, ….cukup dua alasan bagi Jannah menerima lamaran Lukito. Satu iya melihat bayangan Ibu di seberang jalan mengangguk setuju. Kedua, sederhana tapi bercita rasa seni.. Cerpen ini menarik karena diceritakan dari dua sudut pandang, sudut pandang Jannah dan sudut pandang Lukito.

Cerita unik muncul pada (C) Over, mula-mula saya kira cerita ini tentang sebuah keluarga di daerah kumuh yang didera banjir. Ternyata cerita ini tentang keluarga tikus. Dan ibu hadir selayaknya ibu. Ia adalah pelindung, dan rela berkorban untuk anaknya. Tapi Bapak, lagi-lagi ditampilkan sebagai sosok yang brengsek.

Dari mencari ibu kemudian menjadi ibu, begitulah yang diceritakan oleh Irul Cepu dalam Merayakan Kekalahan. Jika dibanyak cerita lain bapak yang meninggalkan, kali ini gantian ibu yang meninggalkan. Si aku dalam cerpen tersebut berusaha mencari ibunya. Nasib membawanya bertemu jodoh. Akhirnya jodohnya mati setelah memiliki anak. Si aku akhirnya menjalani hidup menjadi ibu dengan menjual jamu.

                Sulaman Bisu karya Yuktiasih Proborini bercerita tentang seorang ibu yang tenggelam dalam pekerjaan rumah. Saat anak-anaknya asyik bercengkrama dengan bapaknya, mendengarkan dongeng dengan bapaknya, sang ibu hanya mendengarnya dari dapur dan mempersiapkan ini itu. Pekerjaan domestik membutuhkan tenaga yang luar biasa. Ia harus membagi pekerjaan antara menjadi ibu, menjadi istri, dan menjadi guru. Hingga rekreasi sekolah saja tidak pernah ia ikuti. Sampai akhirnya sang ibu tidak akrab dengan anak-anaknya sendiri.

Cerita Pada Ibu, Pada mama karya Naniek Hastuti adalah cerita yang rumit, diceritakan dari banyak sudut pandang. Cerita ini membandingkan tentang kesetiaan. Kesetiann ibu dengan pasangannya yaitu bapak, dan kesetian si Wina dengan suaminya yaitu Mas Alex. Dalam cerita itu ada Ibu dan ada Mami. Dikisahkan seorang keluarga yang dirundung masalah dan harus berurusan dengan polisi. Keluarga itu harus menjalani proses hukum dan hidup sekian tahun di penjara, pada wanita yang kemudian dipanggil ibulah keluarga itulah menitipkan anak-anaknya. Kesetianlah yang kemudian menjawab, karena sebenarnya sosok yang dipanggil ibu itu memendam cinta kepada si bapak dan menjadi keluarga dengan satu suami dan dua istri. Sekali lagi, cerita ini tentang kesetiaan.

Jika dicerita-cerita lain saya selalu bermuka sedih saat membacanya, cerita Supermom Karya Wiwien Wintarto membaut saya terkekeh hampir sampai akhir. Cerita Supermom bukan cerita lucu, ia cerita yang tidak kalah serius dibanding cerita yang lain. Salah saya sendiri, yang selalu membayangkan sebuah cerita dengan pengarangnya. Cerita ini berkisah kehidupan orang-orang kelas atas. Bermubil mewah, hidup di apartemen, dengan penghasilan yang melimpah. Penggunaan Bahasa Inggris yang diselipkan disana-sini, musik berbahasa Inggris mengiringi perjalanan ikut membangun suasana mentereng. Yang membuat saya selalu tertawa adalah membayangkan sosok Alan pada diri pengarang, Wiwien. Dikisahkan seorang pria tampan yang akan dikenalkan dengan calon ibu mertuanya untuk pertama kalinya. Ia belum tahu siapa, dan bagaimana profesi sang ibu. Dan Alan pinsan saat mengetahui calon Ibu mertuanya adalah Presiden.

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 14, 2013, in Buku, Resensi. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. Komentar seinspiratif ceritanya bahkan lebih. Tidak salah jika judul blog ini “Rumah Ide”. Terimakasih inspirasinya.

  2. Sulaman Bisu, mas…
    bukan Sulaman Ibu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: