Mereka yang Mengendalikan Diri, Dijanjikan Keselamatan

Pernahkah Anda melakukan perjalanan sore-sore? Jika Anda beruntung seperti aku maka kamu akan dapat menyaksikan mega jingga  dan matahari bulat yang tenggelam di antara lautan tanaman jagung. Sore itu saya melakukan perjalanan bersepeda motor memboncengkan istri dari Karangawen, rumah orang tuaku menuju Wonosalam, rumah saya. Sekarang jalannya sudah bagus jadi waktu yang dibutuhkan cukup singkat, hanya 30 menit. Dulu waktu jalan belum di beton, lubang di sana-sini waktu perjalanan yang dibutuhkan bisa lebih dari satu jam. Saya menikmati perjalanan tersebut. Ketika saya menikmati perjalanan dengan jalan yang sudah mulus itu tiba-tiba saya dikagetkan motor dari arah depan yang kurang beberapa senti hampir menyentuh motorku. Di saat yang lain saya juga dikejutkan seorang anak remaja yang menyalip dengan motor yang cukup kencang dengan suara memekakkan telinga. Ada juga sepasang motor yang pengemudinya beriringan memenuhi badan jalan, ada juga yang dengan santai membaca SMS sambil berkendara.

_DSC0528Istri saya bilang “Dulu waktu jalannya jelek mereka tidak bisa kebut-kebutan seperti ini ya?” Tiba-tiba saya teringat apa yang disampaikan oleh Dr Muhdi SH Mhum, rektor IKIP PGRI Semarang yang kira-kira begini, orang jika ingin selamat, ingin berhasil dalam hidupnya harus berani mengendalikan diri. Saya sudah mendengar kalimat ini diucapkan oleh beliau berulangkali, maklum perjumpaan kami juga sudah berulangkali. Kadang saya mendengar saat beliau menasehati mahasiswa di kantor rektorat, kadang saat pembekalan PPL, kadang saat perjumpaan dengan dosen-karyawan. Tapi baru kali ini saya paham maksudnya secara lebih mendalam.

Kemarin ketika jalan rusak kami berkendara dengan sangat hati-hati, karena kalau tidak hati-hati maka bisa terpeleset dan jatuh. Kami tidak saling salip sembarangan, SMS-an saat berkendara, dan ngobrol di jalan raya. Kami konsentrasi pada jalan yang benar meskipun sempit. Jalan yang mulus itu adalah sebenar-benarnya tantangan. Di jalan yang bagus itu kita memiliki kesempatan untuk ngebut, kita memiliki kesempatan untuk ugal-ugalan.  Tadi waktu jalan jelek kita hanya memiliki kesempatan untuk berhati-hati, namun saat jalan sudah baik kita diberi tantangan untuk mengendalikan diri. Dan siapa yang mampu mengendalikan diri kita dijanjikan keselamatan. Secara logika orang yang berhati-hati, tidak ngebut, tidak ngobrol di jalan, dan tidak SMS-an saat berkendara memiliki kemungkinan selamat lebih dibanding yang ngebut, ngobrol, dan SMS-an.

Jika jalan raya adalah jalan hidup

Jika jalan raya adalah kehidupan, biasanya saat kita dirundung masalah, keluarga kita, atau kita sendiri dicoba sakit, penghasilan kita sedikit dan tidak mencukupi, belum punya rumah, dan berbagai masalah yang membuat diri kita menjerit, saat seperti itu biasanya membuat diri kita berhati-hati dalam hidup. Karena tidak punya pilihan selain memasrahkan diri, melakukan hal-hal baik takut terperosok ke lubang yang lebih comberan. Dalam keadaan begini biasanya kita sholat dhuha, sholat tahajut, puasa Senin-Kamis, bekerja dengan tertib, serius dalam menjalani hidup.

Namun saat semua jalan sudah longgar, kita sembuh dari sakit, kita lepas dari kesulitan keuangan, sebenarnya saat ini yang paling menantang karena sesungguhnya kita sedang ditawari sebuah pilihan. Di saat kita bisa dan mampu melakukan apapun sebenarnya kita sedang ditantang untuk mengendalikan diri. Karena kita punya uang maka Tuhan memberi kesempatan untuk beristri untuk yang kedua kali, karena kita sehat maka kita bisa saja berbuat maksiat, karena kita berkuasa maka kita memiliki kesempatan untuk korupsi. Tapi yang semangat adalah sebuah pesan yang disampaikan oleh ibadah puasa yaitu “mengendalikan diri”.

“Siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya” Ini adalah pesan beliau di lain kesempatan. Kita adalah makhluk yang dicipta, yang hanya menjalani takdirnya, adalah yang hanya bisa berusaha. Dan DIA adalah kholik yang segalanya. Mengetahui ke-makhlukan kita maka akan mengetahui ke-kholikan DIA. HATI-HATI DI JALAN, jangan ngebut!

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 16, 2013, in buku harian. Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: