OJO GUMUNAN

Kacamata<p style=”text-align: justify; text-indent: 0.5in;”> Masyarakat yang gumunan, kagetan, dan mudah kagum adalah ciri masyarakat yang daya analisisnya rendah. Masyarakat yang kurang daya analisis akan mudah terombang-ambing di tengah gelombang isu. Akibatnya masyarakat tidak adil menempatkan susuatu. Mereka bingung mana yang harus ditempatkan di singgasana dan mana yang layaknya di tempatkan di tempat sampah. Mana yang lebih penting diperhatikan, dan mana yang harus dicampakkan. Penyakit gumunan dan kagetan itu sedang diderita oleh masyarakat Indonesia.

Fenomena Briptu Norman hingga ulat bulu memperkuat tesis tersebut. Briptu Norman dipuja bagaikan pahlawan yang habis memenangkan pertempuran. Kepulangannya dari Jakarta diarak keliling kota. Ia disanjung mengalahkan sanjungan terhadap Cries Jhon dan M.Rahman yang menjadi juara tinju. Begitu pula dengan ulat bulu. Ketakutan kita terhadap ulat bulu melebihi ketakutan kita kepada nyamuk. Padahal nyamuk lebih berbahaya dibanding ulat bulu.

Akibat dari matinya daya analisis adalah masyarakat mudah terombang-ambing dalam gelombang isu yang dilemparkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Kita dipaksa memikirkan sesuatu yang mereka inginkan. Entah isu tersebut penting atau tidak penting. Maka tidak heran sekarang kita kenal istilah pengalihan isu.

Ini hampir mirip dengan metode hipnotis yaitu menyerang konsentrasi seseorang. Dengan membanjirnya isu maka masyarakat akan menjadi kehilangan konsentrasi, mereka akan bingung. Ketika masyarakat bingung maka mereka akan mudah mengendalikan masyarakat. Masyarakat akan mudah disuruh apa saja.

Isu tidak lepas dari media informasi terutama televisi. Perhatian kita digiring kemana saja sesuai kehendak media informasi. Sesuatu yang tidak penting bisa menjadi terlihat sangat penting tergantung bagaimana media menampilkan. Sebagaimana kasus Briptu Norman. Bukankah sesuatu hal yang lumrah seorang anggota Brimob bisa menyanyi dan bermain gitar? Akan tetapi karena media menginginkan ini tampil luar biasa maka terlihatlah luar biasa. Seolah seluruh masyarakat sangat mengaguminya. Setiap pindah cenel TV maka akan menemukan berita yang serupa. Hingga POLRI secara tidak sadar juga telah terjangkit ‘penyakit’ saat mengambil kebijakan tentang Briptu Norman. POLRI terperangkap dengan gegap gempita dan perayaan kemenangan semu.

Kalangan yang terlibat dalam pergulatan ini kiranya perlu mengendalikan diri. Pertama, media diharapkan lebih bertanggung jawab. Media yang bertanggung jawab adalah media yang tidak hanya mencari untung tetapi selain memberi informasi juga melakukan pendidikan kepada masyarakat. Media perlu memberikan berita yang seimbang, tidak berpihak, dan menyuguhkan bukan hanya mana yang laku tetapi mana yang penting bagi masyarakat.

Pendidikan kita tidak memberikan ruang bagi siswa untuk menemukan ilmu dengan meneliti. Pendidikan kita masih bertumpu pada guru memberi dan siswa menerima. Hal ini semakin menumbuhkan prilaku gumunan, kagetan, dan cepat kagum itu.

Masyarakat juga perlu meningkatkan daya analisisnya. Dengan daya analisis yang kuat masyarakat tidak mudah dibohongi. Masyarakat juga mampu memilah mana isu yang penting dan mana isu yang dihadirkan untuk menumpuk isu yang lebih penting.

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 17, 2013, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: