APAKAH SBY DAN JOKOWI PENCITRAAN?

lipstikPENCITRAAN. Saya mengenal kata-kata ini ketika SBY pertama kali naik menjadi presiden RI. Ia oleh banyak pengamat dituduh telah melakukan politik pencitraan. Sampai hampir dua kali pemerintahannya kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintahan ini dituduh hanya pencitraan belaka. Program bantuan BLSM yang baru-baru ini diluncurkan sebagai kompensasi atas dinaikannya BBM dianggap pencitraan belaka untuk persiapan menghadapi pemilu tahun depan, tuduhan sama dilontarkan saat dulu SBY meluncurkan program BLT sebagai kompensasi kenaikan BBM di pemerintahannya yang pertama.

Saat ini apa yang dilakukan oleh Joko Widodo atau yang lebih akrab dipanggil Jokowi juga dinilai pencitraan. Jokowi yang sering blusukan, turun ke bawah menyapa rakyatnya, Jokowi yang tidak menaikan tarif Trans Jakarta, Jokowi yang membagikan kartu sehat, dan kartu pintar juga dinilai sebagai upaya mencitrakan diri sebagai pemimpin yang elok dan ideal.
Sampai kemudian ada lembaga survay datang kepada saya dari kontak BB dan menjadikan saya sebagai sempel dari penelitiannya. Pertanyaannya begini: “Bila ada kontak/teman wanita di BBM memasang foto anak bayi, Kira-kira apa yang Anda pikirkan tentang wanita itu?”
Lembaga survey tersebut sedang menanyakan kepada saya tentang kesan saya tentang seorang ibu yang memasang DP foto anak bayi. Secara tidak sadar sebenarnya kita setiap saat memproduksi citra dan mendistribusikannya kepada khlayak. Distribusi citra sekarang ini sangat banyak tidak hanya didominasi oleh koran dan TV yang harus berbayar. Distribusi citra juga tidak hanya dilakukan oleh artis dan politisi. Masyarakat awam bahkan anak-anak SMP juga sudah bisa memproduksi citra mendistribusikannya meskipun tidak mereka sadari. Sekarang ini banyak sekali situs jejaring sosial yang juga dapat terhubung dalam HP murahan. Sekarang juga ada BlackBerry dengan harga murah pula. Melalui fasilitas yang saya sebutkan di atas kesan-kesan diproduksi sekaligus diedarkan. Fasilitas ini memberi kemudahan dan kemurahan.
Orang Jawa punya pepatah ‘Ajineng diri soko lathi’ dan ‘Ajining raga soko busana”. Orang akan terhormat itu karena apa yang dia ucapkan dan orang dihargai karena apa yang ia kenakan. Di sini diri manusia dibedakan menjadi dua yaitu hati dan raga. Hati melalui apa yang dia ucapkan dan raga dengan apa yang ia kenakan.
Tapi perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi meluaskan makna lathi (ucapan) dan raga (tubuh). Ucapan sekarang tidak hanya apa yang disampaikan melalui mulut tetapi juga apa yang ia katakan di dalam status FB, BB, Twitter, dan lain sebagainya. Apa yang dikatakan melalui media sosial tersebut menciptakan kesan. Penulisan status dengan bahasa alay menciptakan kesan bahwa anak tersebut gaul, penulisan status yang sering mengumpat-umpat menciptakan kesan galak, penulisan status dengan kata-kata bijak tentu saja memberi kesan orang tersebut bijaksana, dan lain sebagainya.
Busana juga meluas dari apa saja yang menempel dalam tubuh menjadi apa saja yang menempel di media sosial kita. Misalnya pemasangan gambar motivasi mengesankan orang ini ingin maju, pemasangan gambar dengan potongan ayat-ayat suci, gambar masjid atau gereja mengesankan orang ini relegius, menampilkan foto buku mengesankan orang ini intelektual. Menjawab survay yang diajukan kepada saya kesan yang ingin dicapai dari gambar DP membawa anak mungkin agar terlihat sebagai sosok sayang anak.
Apakah kesan itu penting? Oh tentu saja penting. Apalagi bagi politisi. Kesan yang baik, bersih, peduli itu sangat dibutuhkan oleh politisi. Untuk mendapatkan kesan yang demikian seorang politisi rela membayar konsultan, rela tidur di rumah orang miskin, makan nasi aking, dan lain sebagainya. Dan untuk memproduksi kesan para calon RT hingga calon predusen menghabiskan banyak baliho yang akhirnya menjadi sampah. Dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat itu sangatlah penting karena pada akhirnya akan memiliki jabatan. Memiliki jabatan sama artinya memilki fasilitas gratis dan dihormati. Seorang suami biar terkesan sanyang dengan istri maka sesekali memasang foto DP dengan gambar istrinya. Seorang karyawan biar terkesan loyal maka selalu memasang DP dengan gambar logo perusahaannya.
Boleh tidak sih pencitraan itu? Kalau kesan tidak sesuai kenyataan tentu saja tidak boleh. Ini sama saja penipuan publik. Seorang pencuri tapi oleh khlayak dikenal sebagai pahlawan, inikan parah banget. Seharusnya citra itu merupakan ekspresi dari hati seseorang. Maka kita harus hati-hati, banyak orang-orang pintar sekali sembunyi dibalik topeng. Aku setuju tuh sama Ariel “Buka dulu topengmu”. Dia sekarang benar-benar membuka topengnya dan mengjak kita membuka topeng kita.
Apakah SBY dan Jokowi melakukan politik pencitraan? Waktu yang akan menjawab. Kita tunggu saja. (muhajir arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 22, 2013, in Opini. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: