HANYA KORUPTOR YANG KASIHAN SAMA SARJANA HUKUM

Catatan Cerpen Minggu (CCM) edisi 21 Juli 2013

OLYMPUS DIGITAL CAMERAPada Minggu ini Kompas menghadirkan cerita karya sastrawan senior Gerson Poyk yang berjudul Pengacara Pikun. Sedangkan Jawa Pos menghadirkan cerpen karya Octavio Paz yang berjudul Kisah Cintaku dengan Ombak. Sedangkan Suara Merdeka mengadirkan cerita dari Gunawan Budi Susanto yang berjudul Ibu Terus-menerus Bungkam.

Pengacara Pikun

Gerson Poyk dalam Pengacara Pikun menyindir dua hal krusial yang sedang mengemuka di negeri ini yaitu korupsi dan pendidikan.

            Cerita dimulai dari keluarga yang datang ke kota. “Kami datang untuk cari kerja di sini, Opa. Sarjana hukum seperti kami berdua sukar cari kerja di di daerah… Percakapan di lead ini langsung menohok ke jantung permasalahan. Pertama tentang pendidikan, bahwa sarjana hukum tidak laku di daerah. Di sini antara kota dan daerah mulai dipertentangkan. Sarjana atau pendidikan telah menjauhkan masyarakat pada tanah pusakanya. Mereka malas menggarap sawah dan segera menyerah saat kemarau datang. Dan kota menjadi tempat yang menantang untuk sarjana hukum. Kenapa? Karena di kota banyak sekali koruptor.  ….Nampaknya yang kasihan sama sarjana hukum hanyalah koruptor yang sibuk mencari pengacara. Hah kalau tidak ada kurupsi mampuslah semua pengacara di negeri ini…

            Perbandingan antara daerah dan kota terus berlanjut melalui percakapan Dewi dan Opa. Menurutnya di daerah tidak banyak orang korupsi, menurut Dewi seandainya di daerah banyak korupsi maka pengacara banyak digunakan jasanya. Sedangkan di kota digambarkan banyak sekali koruptor melalui tokoh pengacara Lell Hanack. Saking banyaknya membela koruptor ini menjadi pikun. Iya harus bekerja hingga larut dan kurang tidur. Kepikunannya diketahui oleh Dewi yang akhirnya menjadi sekretarisnya ketika Lel tiba-tiba keluar kamar mandi hanya mengenakan celana dalam. Dan ternyata celananya tertinggal di kamar mandi.

            Satu lagi yang menggelitik dari cerpen ini adalah penyebutan korupsi dan pengacara sebagai industri seperti diucapkan oleh Opa. ….Oh, Tuhan, tiap tahun universitas di Indonesia bertelur dan menetaskan ribuan sarjana hukum. Tapi sarjana hukum bagaikan anak ayam yang menciap-ciap kelaparan tidak ada pekerjaan…

            Dewi sang cucu juga menyampaikan hal serupa. …Terlalu banyak sarjana hukum yang menganggur di kota kelahiran kami. Soalnya di ibukota banyak koruptor yang musti dibela. di daerah sangat sedikit dan sebaliknya pengacara dan sarjana hukum banyak sekali.

            Satu lagi yang unik dari cerpen ini adalah tuduhannya bahwa pengacara dan juga korupsi adalah sebentuk industri. Tapi jangan sampai karena menulis cerpen ini Gerson Poyk dituntut oleh fakultas hukum karena dianggap berusaha mempengaruhi calon mahasiswa untuk tidak masuk ke fakultas hukum dengan alasan sarjana hukum sudah banyak dan menganggur.

Kisah Cintaku dengan Ombak

Cerpen Karya Octavio Paz ini diterjemahkan oleh Anton Kurnia. Bercerita tentang hubungan sepasang kekasih. Kekasih dalam cerita ini diberi nama ombak. Selanjutnya segala dialog, konfilk, dan pengadegan semuanya menggunakan diksi-diksi laut seperti ikan, garam, keong, dan lain sebaganya.

            Iya, ini adalah hubungan laki-laki dan perempuan yang ada pasang surutnya. Kadang akur damai saling merindukan, kadang kala ada perselingkuhan, cek-cok dan kecemburuan. Misalnya saja, dibagian awal digambarkan ombak yang gulung gemulung saling menjambak, ombak itu ombak betinia. Mana ada ombak saling menjambak, ini adalah adegan percintaan antara laki-laki dan perempuan yang meminjam watak laut.

            Saat tokoh aku pulang dari tahanan karena sebelumnya dia dituduh menaruh racun di gelas seorang anak, sang betina ombak masih seperti biasa tertawa seperti biasanya seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Si betina ombak hanya menanyakan “Kok kamu bisa puang?”

            Percintaan antara aku dan betina ombak berlangsung sangat menarik, setidaknya menurut pengakuan si aku yang sekaligus menjadi pencerita. Tapi si aku mengakui hubungannya dengan betina ombak tidak pernah mencapai puncak. Inilah yang menjadi sumber konflik yang selanjutnya terjadi konflik-konflik susulan seperti hadirnya  orang-orang ketiga di antara mereka digambarkan hadirnya ikan-ikan menjijikan. Si aku juga datang lagi ke mantan pacar untuk curhat dan mantan pacar memahami dan menerimanya.

            Satu lagi yang menarik, aparat atau polisi baik di Meksiko, setting cerita ini berlangsung sama-sama digambarkan tidak beres. Digambarkan dalam cerita itu bahwa polisi senang sekali melebih-lebihkan, dari laporan yang hanya menaruh garam kemudian diplintir menjadi menaruh racun, ditambah lagi akibatnya kalau orang keracunan, dan lain seterusnya.

Ibu Terus-menerus Bungkam

Lagi-lagi ini saya sampaikan. Sebuah peristiwa besar harus melahirkan karya-karya besar. Masa revolusi melahirkan karya-karya besar dan seniman-seniman besar pula. Dan sebuah peristiwa besar membekas sampai jangka waktu yang cukup lama dan menjadi inspirasi cerita-cerita hingga beberapa tahun setelahnya.

Indonesia memiliki peristiwa besar, salah satu yang terbesar adalah yang oleh pemerintah orde baru disebut G30S PKI, sebuah kisah pemberontakan sebuah partai politik terhadap pemerintahan yang sah melalui pembantaian para jendralnya. Tapi itu sejarah versi pemerintah. Memamng sejarah selalu bukan pemik orang yang kalah. Cerita karya penulis buku kumpulan cerita Nyanyian penggali Kubur ini bercerita tentang hal itu, tentang peristiwa rentang tahun 1960 hingga 1970 pertengahan. Cerita yang mengisahkan kejahatan yang tak terampuni yang hukumannya sampai tujuh turunan mengalami.

Adalah seorang anak yang bertanya kepada ibunya, ingin mendapatkan cerita langsung dari ibunya untuk melengkapi novel yang sedang ditulisnya. Katanya novel ditulis bukan untuk polpularitas dan finansial. Ia hanya ingin menuliskan sejarah keluarganya walaupun pahit sekalipun. Ia ingin anak turunnya membaca dan mengetahuinya.

Tapi sang ibu bungkam dan tidak mau cerita peristiwa itu, saat pagi buta ibunya dan bapaknya tiba-tiba tidak ada yang kemudian dia ketahui di penjara. Ibu dan adiknya kemudian dipulangkan tetapi tanpa Bapak. Bapaknya tidak diketahi di mana, kalaupun mati tidak tahu dimana kuburnya. Saya menyebut karya-karya yang terkena imbas dari peristiwa tragedi tersebut dengan sebutan sastra pasca bentrok atau sastra postchaos. Dan sastra postchaos sampai hari ini masih terus lahir menandakan bahwa peritiwa yang diceritakan benar-benar besar dan sungguh meneror. (muhajir arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 22, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: