(1) Kenapa Mereka Memanggilnya Joni

bab1Dia mengaku jejaka bahagia. Sepanjang hari dari pagi hingga sore dikerubungi gadis-gadis. Semua wangi. Ada yang berlesung pipi, ada yang pakai kerudung tapi bercelana seksi. Tidak jarang dia mendapat rizki, menyaksikan yang tersingkap di balik rok atau di bawah leher.

            “Yang di bawah leher itu apa sih Jon?” tanya Ardi ketika Joni bercerita di gardu di kampungnya.

“Kamu memancingku untuk bercerita lebih sronok bukan? Aku tidak mau. Walaupun kernet aku tidak mau bicara jorok su. Meskipun begini aku masih beriman, punya sopan-santun, dan punya tatakrama, kakeane.” Mendapat jawaban begitu Ardi terkekeh puas.

            “Iya, iya sudah. Tapi masak penumpangmu gadis-gadis semua. Lha kamu apa melupakan Mbok De Supiyah?” Ardi mendesak lagi.

            “Maksudnya begini Ar, kebanyakan penumpangku itu gadis-gadis buruh pabrik. Tak usahakan pedagang-pedagang peot tidak masuk dalam angkotku. Kalau tidak terpaksa sekali. Kalau terpaksa masuk, angkotku aromanya jadi campur aduk, ada aroma kayu putih, dicampur aroma ayam dagangan dan tembeleknya, masih lagi aroma orang mandi tidak pakai sabun. Kalau Mbok De Supiyah itu ceritanya lain toh Ar, lha dia Mbok De ku sendiri. Kalau tidak tak naikkan aku bisa dijewer.” Jawab Joni.

            Gadis-gadis itu memanggilnya dengan sebutan Mas Joni. Walaupun panggilan itu bukan nama yang diberikan oleh orangtuanya, tetapi dia senang, terdengar jantan. Kerjaannya kernet, bergelantungan dipintu angkot sepanjang hari. Sejak dua tahun yang lalu, setelah dia lulus SMP dia menekuni pekerjaan ini.

            “Kok bisa-bisanya kamu dipanggil Joni? Bagaimana ceritanya? Nama aslimukan Abdul Rohman. Abdul Rohman menjadi Jonikan jauh sekali?” Tanya Bodong teman ngobrolnya yang lain sambil melepas asap rokok.

Joni cengar-cengir sebelum akhirnya menjawab “Kalau kamu dipanggil bodong karena pusermu bodongkan? Begini ceritanya kenapa aku dipanggil Joni. Dulu waktu SD aku sering main sepakbola satu tim dengan Kang Jamil, pada saat pertandingan antar desa Kang Jamil meneriakiku, Ayo joni… joni. Maksudnya ayo hadapi-ayo hadapi, menyuruhku menghadapi kepada lawan yang sedang pegang bola. Tapi lawan-lawan tahunya namaku Joni, dan teman-teman juga ikut-ikutan memanggilku Joni sampai sekarang dan melupakan asal-usul panggilan itu.” Seisi gardu pecah tawa berderai-derai sampai terdengar diujung kampung, sampai terdengar oleh Lek Parjo yang sedang cari kodok di pinggir kuburan.

            Mula-mula dia malu menjadi kernet. Apalagi saat ada teman SMP-nya  yang menumpang angkotnya. Tapi sekarang dia mengaku menikmatinya. Dia berangkat pukul 05.30 WIB. Tarikan pertama adalah ibu-ibu pedagang pasar. Mereka mambawa dagangan pasar berupa sayur, ayam, itik, kambing, pisang, dan lain sebagainya.

            Tarikan pertama ini adalah tarikan yang paling tidak menyenangkan bagiku. Pertama karena semua penumpang sudah peyot-peyot. Kedua, dia harus menaik turunkan sekarung dua karung barang mereka. Ketiga sering kali mereka menawar dan minta bonus.

            “Tarikan kedua ini cukup menyenangkan. Mereka yang singgah di angkotku adalah anak-anak sekolah, buruh-buruh pabrik, mahasiswa. Ditarikan kedua ini aku tidak perlu menaikkan dan menurunkan barang bawaan mereka.” Kata Joni bersemangat.

            “Kalau barang mbak-mbak kamu turunkan pasti marah ya? Goda Ardi yang juga disambut gelak tawa. Obrolan mungkin masih sampai larut. Kopi masih seteko penuh. (BERSAMBUNG)

Iklan

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 25, 2013, in Cerbung NURUTO-NURUTO and tagged , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: