Menyelamatkan Puasa (Catatan cerpen ‘Lailatul Qodar’ Danarto)

Puasa adalah ibadah, dan semain dekat dengan idul fitri semakin krusial, tapi orang-orang memilih pergi ke mall dari pada tarawih di masjid.

KurmaSelamat malam sahabat-sahabat, selamat bernuzul  Qur’an, malam dimana ayat pertama Al Quran diwahyukan. Di malam ini, saat orang-orang nonton pertandingan sepakbola  antara Indonesia melawan Chelsea saya memilih tadarus cerpen. Kebetulan dari seorang teman Dr. Harjito, M.Hum saya dipinjami sebuah buku yang menurut saya menarik. Judulnya Kurma, Kumpulan Cerpen Puasa-Lebaran Kompas. Terdapat 11 cerita dalam buku ini. Malam ini saya mau menuliskan pengalaman saya membaca satu cerpen yang pertama berjudul Lailatul Qodar karya Danarto.

            Cerpen ini bercerita tentang sebuah keluarga dalam persiapan mudik.  Yang diceritakan memang sebuah kelaurga tetapi yang disindir adalah seluruh bangsa Indonesia. Ada orang-orang yang jadi calo menaikkan harga karcis seenaknya, sementara harga berapapun tetap saja ditebus demi dapat pulang bertemu sanak keluarga. Mudik menjadi ritual tahunan yang memiliki tempat tersendiri dalam sejarah dan budaya Indonesia.

            Danarto menghadirkan tokoh Kiai Effendy Zarkasi untuk mengkritik prilaku mudik ini. Kiai ini menyarankan agar mudik dilakukan setelah melakukan sholat Ied. Karena saat mudik biasanya dilakukan detik-detik mendekati lebaran. Padahal menurutnya 10 hari terakhir ramadhan adalah hal yang cukup krusial. Di saat itu Lailatul Qodar turun.  Sementara orang harusnya  bekerja keras dalam beribadah malah bekerja keras untuk mendapatkan karcis pulang dan berdesak-desakan. Bagi Pak Kiai peristiwa  antara puasa-lailatul qodar- idul fitri adaalh satu kesatuan.

            Sang tokoh Tito meskipun menyetujui pendapat Pak Kyai tetapi dia mudik juga, alasannya ia ingin dapat sholat Ied bersama orang tuanya di Yogja, kampung halamannya.

            Bukan mudik kalau tidak macet. Bukan jalannya kurang lebar tetapi karena orang memiliki kehendak yang sama menjadikan jalan tak muat menampung alirannya. Pada saat dikepung macet dan mengalami kebuntuan, tiba-tiba keluarga satu mobil itu mengalami peristiwa yang aneh. Mereka melihat jalan yang lapang dan mengikuti jalan tersebut. Yang menjadikan heran sopir dan keluarga itu adalah tidak didapatinya mobil lain yang turut serta. Di ceritakan di akhir cerita Tito dan keluarganya sudah bertemu dengan keluarga besarnya.

            Mulai setelah macet saya agaki tidak paham dengan apa yang dimaksud Danarto. Menemukan jalan yang lurus dan tidak macet. Tiba-tiba perjalanan itu seperti peristiwa langit, ada bintang-bintang, ada angkasa. Seperti dalam kisah Lailatul Qur’an. Saya menduga Tito dan keluarganya mengalami keceakaan walupun di cerpen ini tidak ada sama sekali kata-kata yang menunjuk pada kecelakaan. Tapi juga tidak masuk akal seseorang tiba-tina mendapatkan jalur lurus bebas hambatan dalam suasana macet seperti itu (meskipun cerpen juga tidak harus melulu masuk akal). Di ceritakan di situ bahwa meskipun Tito dan keluarganya mudik tetapi masih tetap melaksanakan puasa, melaksanakan saur, buka, tarawih dan seluruh ibadah yang terkait dengan ibadah puasa. Mungkin Danarto ingin menyampaikan bahwa orang tetap harus berusaha melakukan ibadah puasa dengan baik meskipun dalam keadaan di kepung mudik. Orang yang melakukan puasanya dengan baik, dan mati saat melaksanakan puasa ia akan mati seperti mendapatkan Lailatul Qodar. Demikian tafsir saya.

            Ada puasa, Lailatul Qodar, dan Idul Fitri. Ketiga hal ini satu sama lain saling terkait. Orang yang melakukan ibadah puasa dengan benar akan mendapat Lailatul Qodar dan pada akhirnya akan bersih dari dosa. Kalau puasanya baik maka idul fitrinya akan lebih nikmat. Begitu ata Kiai Effendy.

            Saya akan kembali tentang bahasan menyelamatkan puasa. Di dalam peristiwa memang seringkali terjadi hal-hal yang bertabrakan satu sama lain. Misalnya seperti diceritakan di cerpen  ini dan juga kita saksikan di sekeliling kita. Subtansi puasa adalah beribadah dengan sebaik-baiknya tetapi direcoki masalah-masalah mudik yang mahal, macet, dan berbahaya. Esensi puasanya menjadi terabaikan. Esensi puasa adalah beribadah, tetapi setiap sore kita menyelenggarakan acara buka puasa bersama yang kadang malah meninggalkan sholat magrib karena rumah makan tidak cukup memberi tempat solat untuk seluruh pengunjung. Puasa adalah ibadah, dan semain dekat dengan idul fitri semakin penting, tapi orang-orang memilih pergi ke mall dari pada tarawih di masjid. SEMOGA PUASA KITA SELAMAT. Bahasan Selanjutnya cerpen Puasa Itu Senu Subawajid. (Muhajir Arrosyid)

About Ken dan Bening

keluarga pembelajar

Posted on Juli 25, 2013, in Kritik Sastra and tagged , , . Bookmark the permalink. 2 Komentar.

  1. Mohon informasi, berapa harga buku KURMA ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: